alexametrics

Tantangan Online Learning dalam Pembelajaran di Masa Pandemi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN secara online di Indonesia, telah dimulai pada pertengahan Maret 2020. Shock effect dirasakan oleh hampir semua guru. Untuk mengatasi hal tersebut, para pemangku kebijakan di sekolah mulai gencar memberikan pelatihan penguasaan media online learning untuk para guru yang harus Work For Home (WFH). Guru-guru mulai mengisi waktu dengan mempelajari google classroom, zoom, webex, google meet dan sebagainya.
Online learning yang digadang-gadang bisa memfasilitasi pertemuan antara guru dan murid di kelas maya, ternyata tak selamanya bisa berjalan mulus. Online learning sebagai bagian dari e-learning membutuhkan effort dan biaya yang tidak sedikit. Untuk dapat melakukan pembelajaran jarak jauh, tentunya siswa harus memiliki gadget. Selain itu, untuk dapat mengakses internet setiap saat, orang tua harus menyediakan dana untuk membeli kuota data.
SMP Negeri 29 Semarang pun tak luput dari kendala itu. Dari pengalaman penulis saat menerapkan online learning, tidak semua siswa bisa mengakses internet dengan mudah. Dalam sebuah kelas, ada saja siswa yang hanya memiliki satu handphone untuk dipakai bersama oleh satu keluarga. Akhirnya, harus mengikuti kelas online dengan cara bergantian dengan adik atau kakaknya. Selain itu, pembelajaran live streaming seperti zoom, webex, google meet menghabiskan kuota data internet. Padahal banyak orang tua murid yang kehilangan pekerjaannya. Jangankan untuk membeli kuota data, untuk memenuhi kebutuhan perut saja harus menguras tabungan yang semakin menipis.

Baca juga:  Praktik Tekanan Meningkatkan Motivasi Siswa di Masa Pandemi

Kendati begitu, hal itu tidak lantas menyurutkan niat para pendidik untuk mencerdaskan tunas-tunas bangsa. Sebagai guru, harus bisa melakukan variasi dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh ini. Misalnya, minggu ini melakukan pembelajaran live streaming, minggu berikutnya melakukan model pembelajaran non streaming, seperti WAG (WA Group), ataupun google classroom.

Sebagai salah satu bentuk kelas maya, WAG cukup familier bagi siswa. Namun seringnya, unggahan materi guru justru tertutup oleh obrolan kurang penting dari anggota kelas. Hal itu bisa disiasati dengan memberikan tanda bintang.
Google classroom adalah sebuah layanan yang dibuat oleh Google, agar anggota sebuah kelas bisa berkegiatan bersama. Setiap orang yang ingin mengikuti kelas, disyaratkan memiliki akun Google atau Gmail. Google classroom relatif lebih hemat kuota data, dibandingkan dengan pembelajaran model streaming. Selain itu, google classroom juga sangat mobile friendly. Pengguna pemula seperti anak-anak, tidak akan kesulitan menggunakannya. Guru juga lebih mudah mengelola materi/tugas, karena materi/tugas yang diberikan otomatis akan tersimpan di laman siswa atau email siswa. Materinya dapat diberikan dalam berbagai bentuk dokumen seperti tulisan, foto, gambar, grafik, dll. Lepas dari itu semua, aplikasi ini 100 persen gratis, tanpa harus membayar dulu sebelum menggunakannya.

Baca juga:  Tidak Elite Terserang Korona Sekarang

Siswa adalah aset penting penentu masa depan bangsa. Pendidikan, sebagai sarana untuk menumbuhkembangkan anak, tetap wajib diberikan dalam kondisi dan situasi apapun. Tentunya tidak ingin memiliki lost generation karena pandemi covid-19 yang berkepanjangan ini. Mari jawab tantangan pandemi covid-19 ini, dengan lebih meningkatkan skill penguasaan model-model pembelajaran yang bisa digunakan saat online learning, agar tetap bisa memberikan yang terbaik bagi generasi bangsa ini. (ips1/ida)

Guru IPA SMPN 29 Semarang dan email caik.amis@gmail.com

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya