alexametrics

Optimalisasi Belajar Daring IPS

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Penyebaran pandemi virus Corona (Covid-19) di Indonesia membuat banyak sekolah menghentikan proses pembelajaran tatap muka. Diganti pembelajaran jarak jauh atau remote learning. Kondisi ini memaksa guru segera memanfaatkan media sosial yang banyak digunakan siswa yaitu WhatsApp (wa). Segera guru SMP Negeri 29 Semarang membentuk grup kelas pembelajaran daring atau virtual classroom termasuk saya guru IPS.

Dengan terbentuknya grup pembelajaran daring tiap kelas dengan bantuan Google Classroom, diharapkan dapat membantu guru dalam menyampaikan materi. Namun muncul kendala, peserta didik tidak punya kuota, tidak memiliki HP, sinyal kurang bagus dan sebagainya.

Materi IPS kelas VII H terutama bab IV tentang Kehidupan Masyarakat Indonesia pada Masa Praaksara, Hindu-Buddha, dan Islam yang penulis sampaikan berupa rangkuman, video, power point beserta penjelasannya.

Masalah lain, peserta didik tidak mampu mengelola waktu dan memproses informasi secara mandiri. Tidak semua peserta didik dapat mengikuti pembelajaran daring atau virtual classroom. Padahal konsep pembelajaran daring atau virtual classroom sangat tepat diimplementasikan pada saat pembelajaran tatap muka konvensional ditiadakan.
Untuk mengatasi hal tersebut materi yang disampaikan harus dibuat menarik dan memikat. Guru SMP Negeri 29 Semarang mendapat pelatihan intensif pembelajaran daring oleh sekolah. Pelatihan tersebut fokus tentang pembelajaran daring dengan aplikasi Google Classroom. Dalam pelatihan ini guru dituntut bisa mempraktikan dengan sesama guru agar nantinya dapat diterapkan dengan peserta didik.

Baca juga:  Memakai MASKER jadi Alternatif Pembelajaran IPS Daring

Pembelajaran jarak jauh bisa jadi tidak menghasilkan apa-apa jika peserta didik tidak menunjukkan perubahan perilaku sebagai hasil dari pembelajaran. Berkaitan dengan hal tersebut, kita bisa melihat pembenaran dari sudut pandang yang bersifat edukatif terhadap berbagai macam media penyampaian materi pada proses pembelajaran.

Hal ini juga dipengaruhi oleh seberapa besar kinerja mental ketika memori otak jangka pendek bekerja untuk memproses informasi (Richardson dalam Beni Suranto, 2009:80). Tiap orang hanya dapat mengingat sejumlah informasi yang terbatas tanpa adanya latihan atau alat bantu, misalnya dokumentasi. Pada pembelajaran yang terkendali melalui instruksi (instructor-Led), pengajar sebagai presenter menampilkan materi pembelajaran sekaligus melakukan kontrol pada tiap tahapan instruksi. Hal ini berkebalikan dengan yang terjadi pada pembelajaran yang berorientasi pada pembelajar (peserta didik) ketika peserta didik hanya membaca atau mengikuti proses maka pembelajar tersebut dapat memilih menu pause, replay, continue, dan sebagainya. Pada pembelajaran yang menggunakan media terkendali oleh pengajar terdapat risiko munculnya cognitiveload (atau bahkan cognitive overload) karena kemampuan dari masing-masing pembelajar yang berbeda-beda (Abdulmajid, N.W., 2016:16).

Baca juga:  Pembelajaran IPS dengan Role Playing

Pembelajaran daring hanya akan berjalan dengan efektif jika pengajar menerapkan interaksi yang relevan (berbasis penugasan) secara berkesinambungan. Tanpa adanya hal tersebut, maka proses pembelajaran hanya akan sama dengan pembelajaran melalui kelas konvensional yang membosankan dan para peserta didik akan sibuk sendiri-sendiri. Tidak memperhatikan materi yang disampaikan.

Pengajar menerapkan solusi campuran (blended solutions) dengan melakukan pemilihan media yang terbaik untuk tiap topik atau sesi pembelajaran. Proses pembelajarannya, pengajar mengadakan sesi pembelajaran daring untuk berinteraksi dengan peserta didik kemudian membiarkan belajar secara mandiri. Selanjutnya bertemu kembali secara online dalam sebuah sesi pembelajaran daring berikutnya.

Untuk mengoptimalkan partisipasi peserta didik, guru harus memilih pertanyaan atau penugasan yang akan disampaikan kepada peserta didik. Guru juga harus menunjukkan perhatian dan kontrol terhadap peserta didik dengan memberikan instruksi dan pertanyaan yang jelas. Yang perlu ditekankan adalah bahwa pengajar harus mampu mengakomodasi hak-hak peserta didik untuk berpartisipasi dalam interaksi yang terjadi pada pelaksanaan pembelajaran daring. Dengan kata lain, pelaksanaan pembelajaran daring harus bersifat demokratis dengan kendali utama tetap ada pada guru atau pengajar. (ips1/lis)

Baca juga:  Strategi Pembelajaran Online IPS Tingkatkan Efektivitas Belajar Siswa

Guru IPS SMP Negeri 29 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya