alexametrics

Memanfaatkan WhatsApp untuk Pembelajaran Daring pada Pandemi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pandemi Covid-19 secara tidak langsung ikut berperan dalam mendewasakan masyarakat Indonesia. Demikian juga pada lingkup pendidikan. Pendidikan di Indonesia terjadi proses pendewasaan yang luar biasa besarnya. Dari target awal pembelajaran adalah hasil nilai UN yang tinggi, sejak pandemi Covid-19, bukan target utama lagi.

Sejak pertengahan Maret 2020, proses pembelajaran yang semula berlangsung di sekolah berpindah ke rumah. Para guru mengajar dari rumah, siswa juga belajar dari rumah. Hal ini menuntut terjadinya perubahan proses pembelajaran, yang semula adalah pembelajaran “luring” (luar jaringan) berubah menjadi pembelajaran “daring” (dalam jaringan).

Adanya perubahan proses pembelajaran inilah yang menuntut guru harus mengubah cara mengajar dari cara mengajar secara langsung menjadi secara tidak langsung. Permasalahan utama dunia pendidikan saat pandemi Covid-19 adalah bagaimana supaya siswa, walaupun harus di rumah tetapi tetap belajar. Karena belajar merupakan sarana utama bagi siswa supaya dapat tumbuh secara maksimal. Proses pembelajaran secara daring merupakan proses belajar yang bersifat asinkronus, yang diharapkan tetap dapat berlangsung secara nyaman dan menyenangkan untuk semua warga sekolah, terutama bagi guru dan peserta didik.

Saat ini, telah berkembang banyak cara pembelajaran melalui daring. Guru juga sudah menguasai banyak platform yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan pembelajaran. Ada juga sekolah yang memfasiliasti para guru dengan berlangganan platform tertentu yang di dalamnya terdapat fasilitas LMS (Learning Management System).

Pembelajaran daring pada dasarnya adalah pembelajaran dengan menggunakan teknik berkomunikasi secara asinkronus. Komunikasi asinkronus merupakan cara berkomunikasi tidak langsung. Asinkronus adalah apabila kita menyampaikan pesan pagi hari jam 08.00, maka penerima pesan kita sangat dimungkinkan untuk menerima pesan saat itu. Masih banyak guru yang belum menyadari pola asinkronus yang terjadi saat proses pembelajaran.

Berdasarkan penelitian, pembelajaran melalui WhatsApp (WA) merupakan aplikasi favorit. Sebab WA sudah sangat familier penggunaannya di kalangan masyarakat. WA menyajikan beberapa fitur yang menarik serta mudah pengoperasiannya.

Fitur-fitur tersebut meliputi penyampaian pesan perorangan, penyampaian pesan dalam grup, melampirkan video, melampirkan foto, melampirkan file dalam bentuk pdf ataupun word, panggilan suara dan video conference. Serta mengirimkan pesan suara dan WA relatif lebih murah jika dibandingkan aplikasi yang lain.

Ketika pembelajaran daring dimulai, penulis juga mulai mencari cara yang cocok dan mudah untuk digunakan, ketika harus menyampaikan materi dan penugasan kepada peserta didik. Pada saat itu materi kimia yang tersampaikan secara tatap muka, sebelum adanya kebijakan “memindahkan” sekolah ke rumah, adalah materi titrasi asam basa dan penugasan materi larutan penyangga serta hidrolisis garam.

Untuk melanjutkan materi dan penugasan tersebut, guru melakukan pembelajaran daring dengan aplikasi WA. Awalnya, materi yang diberikan oleh guru berupa ringkasan-ringkasan materi yang diberikan pada peserta didik berupa foto untuk kemudian dipelajari. Jika ada materi yang dirasa belum jelas, maka dibukalah forum tanya jawab pada WA grup kelas yang telah ada.

Sedangkan untuk penugasan pada materi tertentu baik berupa latihan soal, membuat ringkasan materi maupun membuat laporan praktikum akan dikirimkan oleh peserta didik lewat WA, email maupun melalui aplikasi Google Classroom.

Ternyata setelah dievaluasi, pembelajaran daring menggunakan WA juga bersifat efektif. Dilihat dari tingkat respon peserta didik memberi tanggapan dalam waktu yang tidak terlalu lama dan dari tanggapan peserta didik ketika mengerjakan dan mengumpulkan tugas. Sebagian besar sesuai dengan waktu yang ditentukan. Hanya saja kelemahannya jika banyak tugas peserta didik yang dikirimkan lewat aplikasi WA maka menyebabkan memori yang ada di HP cepat penuh. Akibatnya HP lambat bekerja. Maka, penulis memberi alternatif pada peserta didik untuk mengumpulkan tugasnya melalui email atau aplikasi Google Classroom. (gml2/lis)

Guru Kimia SMA Negeri 15 Semarang

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya