alexametrics

Make and Match dengan Bermain Kartu Tingkatkan Motivasi Belajar IPA

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Hampir semua orang berpendapat bahwa IPA merupakan pelajaran yang sangat rumit dan sangat sulit. Agar pembelajaran IPA tidak membosankan, ada baiknya kita selaku guru mencoba pola pembelajaran menggunakan media pembelajaran yang beragam dan menarik berupa permainan. Permianan yang akan kita pakai d isini yaitu dengan bermain kartu. Bermain kartu akan lebih menarik jika dilaksanakan bersama-sama, sehingga membutuhkan banyak siswa yang terlibat dalam permainan.

Model make and match atau mencari pasangan merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa. Penerapan metode yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal. Teknik metode pembelajaran make and match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.

Baca juga:  Mengantisipasi “Speaking Loss” selama PJJ dengan “Habit Formation”

Suyatno (2009 : 72) mengungkapkan bahwa model make and match adalah model pembelajaran dimana guru menyiapkan kartu yang berisi soal atau permasalahan dan menyiapkan kartu jawaban kemudian siswa mencari pasangan kartunya. Model pembelajaran make and match merupakan bagian dari pembelajaran kooperatif.

Penulis menerapkan model make and match dengan bermain kartu di SMPN 1 Andong, Kabupaten Boyolali khususnya di Kelas VIII pada materi pesawat sederhana. Bermain kartu bisa kita jadikan sebagai salah satu alternatif metode pembelajaran IPA agar lebih menarik. Langkah-langkahnya : pertama, sebelum proses pembelajaran dimulai kita siapkan materi pesawat sederhana untuk siswa. Kedua, kita siapkan kertas asturo berwarna-warni, dipotong-potong dengan ukuran yang sama. Misalnya 7 x 9 cm dan diberi tulisan atau gambar berbagai jenis pesawat sederhana, ciri-cirinya, penerapan alat dalam kehidupan sehari-hari serta contoh soal dan pembahasannya. Ketiga, saat proses pembelajaran, siswa dibagi dalam beberapa kelompok (tiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa) dan pengaturan tempat duduk dibuat melingkar. Guru posisi di tengah untuk membagikan kartu dan mengatur jalannya permainan. Keempat, siswa dalam kelompok mengisi pertanyaan yang telah dipersiapkan guru dan setiap kelompok mendapat empat kartu secara acak, kartu yang tersisa diletakkan di tengah dalam posisi tertutup dalam satu tumpukkan. Selanjutnya kelompok satu mengambil satu kartu yang masih tersisa yang berada pada posisi paling atas, dan membuang salah satu kartu yang dimiliki dalam keadaan terbuka. Mulai dari kelompok dua boleh mengambil kartu yang tertutup atau kartu yang terbuka dan membuang salah satu kartu yang dimiliki, sehingga setiap kelompok tetap memegang empat kartu. Begitu seterusnya hingga semua kelompok berhasil menjawab pertanyaan.

Baca juga:  Pembelajaran Lebih Menyenangkan dengan Kontekstual

Bila proses belajar mengajar dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan maka siswa akan lebih mudah menyerap materi-materi yang diajarkan. Bahkan tidak menutup kemungkinan siswa akan termotivasi untuk mempelajari materi-materi berikutnya karena adanya pengalaman belajar yang menyenangkan. Mari kita tingkatkan kemampuan kita sebagi guru untuk mengelola siswa di dalam kelas dengan baik, sehingga tiada kesan mata pelajaran IPA rumit dan sangat sulit. (dar1/ton)

Guru SMPN 1 Andong, Kabupaten, Boyolali

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya