alexametrics

Belajar Asyik Kesebangunan dengan Menaksir Tinggi Pohon

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PENDIDIKAN adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan atau penelitian. Masalah pendidikan merupakan masalah yang menjadi perhatian tinggi bagi negara Indonesia yang selama ini sedang giat-giatnya dalam pembangunan. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami siswa sebagai anak didik.

Matematika merupakan ilmu universal yang berguna bagi kehidupan manusia dan juga mendasari perkembangan teknologi modern, serta mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan, diperlukan penguasaan dan pemahaman atas matematika sejak dini. Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa untuk membekali kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, inovatif, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk hidup lebih baik pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan sangat kompetitif.

Baca juga:  Cegah dan Tuntaskan Kenakalan Remaja dengan Pendidikan Karakter

Dalam melaksanakan pembelajaran matematika, diharapkan siswa dapat merasakan kegunaan belajar matematika. Dalam kurikulum 2013 belajar tidak hanya dinilai dari segi pengetahuan, tetapi keterampilan dan sikap juga diperhatikan. Penilaian keterampilan adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan untuk melakukan tugas tertentu di dalam berbagai macam konteks sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi.

Agar belajar matematika lebih mengasyikan dan tidak membosankan maka siswa juga harus dilatih ketrampilannya yang diterapkan dalam kehidupan nyata, contoh pada materi kesebangunan di kelas IX SMP Negeri 1 Rowosari, yaitu dengan menaksir tinggi pohon dengan menggunakan metode perbandingan segitiga. Metode ini merupakan penerapan dari konsep kesebangunan. Langkah pertama, siswa dibagi kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 5 anak dengan arahan mempersiapakn alat meteran dan tongkat yang ukurannya sudah di tentukan. Langkah kedua, bersama kelompoknya semua siswa melakukan kegiatan menaksir tinggi pohon yang sudah diinformasikan urutan-urutan yang harus dilakukan yaitu satu siswa berdiri di bawah pohon, lalu melangkah maju dengan jarak yang sudah ditentukan (misalnya 8 meter).

Baca juga:  Optimalisasi Belajar IPA melalui Video Pembelajaran Masa Pandemi

Anak yang lain dengan memegang tongkat berjalan dari tempat berhentinya anak pertama menuju pohon yang akan diukur tingginya sampai terlihat pandangan lurus (dari anak yang di depan pohon) antara ujung tongkat dan ujung pohon sehingga anak yang membawa tongkat disuruh berhenti. Setelah itu ukur jarak tongkat berdiri dengan posisi anak yang berhenti pertama tadi. Setelah didapatkan semua ukuran, yaitu tinggi tongkat, jarak anak ke pohon, jarak anak ke tongkat, maka bisa dihitung tinggi pohon dengan konsep kesebangunan yang sudah dipelajari sebelumnya. Dari sini siswa benar- benar membutuhkan ketelitian dan kerjasama.

Dari kegiatan tersebut ternyata siswa kelas IX SMP Negeri 1 Rowosari menjadi lebih bersemangat karena pembelajaran tidak harus dilakukan di dalam kelas tetapi di luar kelas dengan suasana yang menyenangkan. Semua siswa bisa aktif terlibat langsung, juga ada pembelajaran tentang ketelitian dan kerjasama agar proses berjalan lancar dan hasilnya akurat, sehingga semua anak bisa aktif bekerja dalam kelompok itu. (ikd2/ida)

Baca juga:  Mengenal Kearifan Lokal Melalui Pembelajaran Video Based Learning

Guru Matematika SMP Negeri 1 Rowosari Kabupaten Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya