alexametrics

Mengidentifikasi Unsur Drama Lebih Asyik melalui Permainan Tebak Peran

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kemampuan optimal siswa dalam menyerap penjelasan guru hanya pada 20 menit pertama. Presentasi materi dari guru yang terlalu lama akan membuat mereka bosan. Meskipun model pembelajarannya kooperatif, namun guru sering keasyikan menjelasakan materi dalam waktu cukup lama. Maka tugas presentasi bisa juga diserahkan kepada siswa setelah melakukan diskusi kelompok agar mereka lebih aktif.

Model pembelajaran yang dapat diinovasi dengan melibatkan siswa untuk presentasi salah satunya adalah model STAD. Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (dalam Slavin, 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif. Terdapat lima komponen utama dalam pembelajaran kooperatif metode STAD, yaitu: penyajian kelas, menetapkan siswa dalam kelompok, tes atau kuis, skor peningkatan individual, dan pengakuan kelompok.

Baca juga:  Media Artikel Koran, Asah Kompetensi Mengidentifikasi Teks Eksposisi Analitik

Agar lebih menarik, model STAD dapat dimodifikasi dengan permainan tebak peran. Permainan tersebut diletakkan dalam komponen kedua. Ketika siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya, mereka sambil memerankan seorang tokoh guru atau lainnya di depan kelas. Hal ini sekaligus langkah awal melatih siswa untuk menjiwai perannya yang nantinya diperlukan dalam pembelajaran berikutnya.

Langkah-langkah pembelajaran Bahasa Indonesia materi mengidentifikasi unsur drama melalui permainan tebak peran adalah sebagai berikut: guru menyajikan poin-poin materi unsur-unsur drama. Guru mambagi siswa yang memiliki kemampuan heterogen dalam kelompok yang terdiri dari 4 anggota. Siswa melakukan kegiatan literasi dengan memanfaatkan berbagai sumber yang sudah disediakan. Siswa mendiskusikan lembar kerja yang dibagikan oleh guru. Siswa juga berdiskusi untuk menyepakati tokoh siapa yang akan diperankan di depan kelas. Siswa diberi kesempatan berlatih perannya dengan menirukan gaya khas tokoh pilihannya sebelum tampil presentasi. Selanjutnya, siswa yang mewakili kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas sekaligus memainkan peran tokoh yang dipilihnya. Selesai presentasi, kelompok lain menebak tokoh siapa yang diperankan temannya tersebut. Baik yang berhasil menebak atau ditebak mendapatkan nilai tambahan. Kelompok lain diberi kesempatan menanyakan seputar materi yang dipresentasikan. Di sini juga akan terjadi diskusi kelas. Berikutnya, setiap perwakilan kelompok diberi kesempatan tampil di depan kelas secara bergantian.

Baca juga:  Belajar Memukul Bola Kasti dengan Cara Bola Digantung

Setelah semua kelompok selesai perentasi, guru memberi penegasan terhadap materi yang dibahas dalam diskusi kelas. Berikutnya siswa diberi kuis untuk mengetahui peningkatan kemampuan setiap individu.
Dalam kegiatan penutup, guru merekapitulasi nilai kelompok dan setiap individu siswa. Kelompok dengan nilai tertinggi diberi pengakuan atau penghargaan dari guru. Reward dapat berbentuk sertifikat, kartu prestasi, atau bingkisan hadiah. Terakhir, guru dan siswa melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Hasil yang dapat diamati dari penerapan pembelajaan Bahasa Indonesia materi mengidentifikasi unsur drama melalui permainan tebak peran yang sudah diterapkan pada siswa kelas VIII pada awal semester genap kemarin di MTs Sholihiyyah Kalitengah Mranggen Demak adalah peserta didik lebih menguasai materi karena mereka dituntut untuk mampu mempresentasikannya di depan kelas. Siswa juga termotivasi untuk mendapatkan skor atau nilai terbaik agar kelompoknya menjadi pemenang. Selain itu, peserta didik lebih antusias dalam menerima penjelasan dari temannya tersebut. Suasana kelas menjadi menyenangkan karena permainan saling menebak tokoh yang diperankan oleh temannya. Dengan demikian, kelas menjadi lebih bersemangat dan hidup. Hasil belajar siswa lebih meningkat baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. (gml2/aro)

Baca juga:  Serunya Permainan Game Penilaian Kahoot

Guru Bahasa Indonesia MTs Sholihiyyah, Kalitengah, Mranggen, Demak

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya