alexametrics

Asyiknya Pembelajaran Seni Drama dengan Metode Improvisasi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN seni drama akan menarik, jika dilakukan dengan benar. Terpenting menjadikan siswa lebih tertantang melakukannya. Selama ini, siswa merasa bosan dan jenuh jika mengikuti pembelajaran seni drama yang dilakukan dengan cara yang tidak kreatif. Seperti halnya di SMP Negeri 2 Kedungwuni, banyak siswa belum begitu antusias dan cenderung pasif mengikutinya.

Karena itulah, penulis meneraplam metode improvisasi. Yakni, suatu ucapan atau gerakan penyeimbang yang bertujuan menghidupkan pemeran (Asul Wijayanto: 2002). Dengan kata lain, improvisasi dalam drama sangat diperlukan agar penonton bisa melihat perbedaan. Selain itu, penggunaan teknik improvisasi dalam drama, menuntut seseorang untuk memiliki kemampuan berpikir cepat dengan tujuan menyambung cerita dan membangun suasana cerita, terutama ketika melakukan percakapan atau dialog. Dengan begitu, siswa merasa tertantang untuk melakukan pembelajaran seni drama.

Sebenarnya improvisasi untuk meminimalisir kesalahan bagi pemeran drama. Fungsinya, 1) Lupa Dialog. Improvisasi sangat diperlukan ketika pemain melakukan kesalahan seperti lupa dialog. Ketika ada lawan main yang sedang lupa dialog, biasanya pemain satu akan berimprovisasi dengan pemikirannya dan berusaha mengarahkan lawan main yang lupa dialog tadi untuk berdialog sesuai dengan naskah. 2) Kecelakaan Panggung. Ada kalanya improvisasi ini diperlukan ketika ada kecelakaan panggung seperti pemain yang tiba-tiba terjatuh dan harus segera dipergikan keluar panggung. Maka pemain lain akan berpikir, bagaimana caranya cerita tetap berjalan, namun tetap bisa membawa pemain yang jatuh tadi untuk keluar panggung. 3) Intermezzo. Umumnya, improvisasi sebagai pemecah suasana. Artinya, dialog atau ocehan pemain sengaja dikeluarkan sebagai pemecah suasana. Biasanya improvisasai yang demikian digunakan pada ludruk, lenong, dan lainnya. Perlu diingat bahwa setiap pemain boleh saja menggunakan improvisasinya dalam suatu drama, tapi jangan terlalu berlebihan hingga cerita menjadi keluar jalur. Hal ini sangat diharamkan bagi pemain yang akan merusak jalannya cerita.

Baca juga:  Strategi TDB sebagai Solusi Pembelajaran PAI di Tengah Pandemi

Maka dalam pembelajaran ini, siswa membentuk beberapa kelompok yang berjumlah sekitar empat orang, lalu kemudian diteruskan dengan membuat naskah drama terlebih dahulu, kemudian naskah drama yang sudah dibuat dihapalkan. Setelah itu, masing-masing kelompok ditunjuk dan maju satu persatu di depan kelas. Di sinilah nanti akan kelihatan bagaimana siswa yang tidak hapal tentang naskahnya akan mengganti dengan bentuk improvisasi. Siswa yang cerdas bisa menggantinya dengan kata-kata lain yang pas dengan sekenario cerita yang mereka buat. Sebaliknya siswa yang tidak siap akan merasa kebingungan menggganti kata-kata yang lupa dengan kata–kata yang pas. Lewat pembelajaran atau strategi ini, lebih hidup dan kreatif dalam membangun suasana belajar. Siswa akan merasa tertantang dan antusias untuk menciptakan pembelajaran di kelas yang lebih baik.

Baca juga:  Pembelajaran Comic-Strip Recount Text dengan Flipped Classroom

Kesimpulan dari metode improvisasi ini, pementasan drama dapat dimainkan berdasarkan teks atau tanpa teks atau spontanitas. Permainan drama dengan mengandalkan spontanitas disebut improvisasi. Bahkan, permainan drama zaman dahulu, tidak berdasarkan naskah, hanya pada inti dan akhir cerita. Ketika aktor bermain drama tanpa pegangan naskah (improvisasi), sutradara hanya memberikan cerita pokok atau garis besar, dan alur cerita. Selanjutnya aktorlah yang mengembangkan sendiri.

Improvisasi berfungsi menumbuhkan daya aktif, inisiatif, kreatif dan inovatif setiap calon pemain, mengasah daya cipta, daya khayal dan keterampilan bermain calon aktor secara spontan di atas panggung, berdialog dengan wajar dan logis, menggunakan bahasa tubuh (gesture, akting, dan simbolisasi berbagai bentuk gerakan anggota tubuh) dengan wajar dan logis. Kemampuan memecahkan masalah yang tak terduga di atas panggung, serta keterampilan memainkan berbagai peran, ruang dan waktu.

Baca juga:  Metode Role Playing Jadikan Pembelajaran Teks Negosiasi Lebih Menarik

Untuk itu sebagai dasar persiapan latihan, pemain dituntut mampu menghancurkan berbagai halangan, beban dan hambatan yang tidak perlu terus diikuti dan dipelihara dalam dirinya, seperti rasa minder, rasa takut, rasa malas, khawatir karena pikiran negatif, tidak bersemangat, dan lainnya. Sebaliknya, pemain harus memiliki dan menjaga terus menerus pola berpikir yang positif pada segala hal. (pkl2/ida)

Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 2 Kedungwuni

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya