alexametrics

Strategi Debat Slow Motion, Tingkatkan Keterampilan Berbicara dan Berpikir Kritis

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Berbicara merupakan suatu keterampilan berbahasa yang perlu dikuasai dengan baik. Keterampilan ini merupakan suatu indikator terpenting bagi keberhasilan siswa terutama dalam pembelajaran.

Pembelajaran mengungkapkan pendapat atau argumen di SMAN 1 Kedungwuni khususnya peminatan MIPA Kelas XI belum maksimal. Penelitian awal menunjukkan peserta didik peminatan MIPA Kelas XI masih mengalami kesulitan menyampaikan pendapat atau argumennya secara sistematis dan sesuai dengan kode etik keilmiahan.

Hal ini berkaitan erat dengan rendahnya keberhasilan pembelajaran keterampilan berbicara. Berdasarkan masalah tersebut, diperlukan solusi sebagai alternatif pemecahan masalah. Salah satu upaya yang dapat dijadikan alternatif pemecahan masalah adalah dengan menerapkan pembelajaran keterampilan berbicara menggunakan metode debat slow motion.
Slow motion merupakan metode belajar aktif yang diperkenalkan oleh Silberman. Menurut Silberman slow motion adalah metode debat untuk meningkatkan keaktifan, dan kerja sama peserta didik, serta menjadikan pembelajaran mengungkapkan pendapat atau argumen lebih menyenangkan.

Baca juga:  Meningkatkan Keterampilan Berbicara dengan Permainan Snow Ball Grenade

Metode belajar aktif digunakan untuk mengimplementasikan kompetensi pedagogik. Yaitu kemampuan mengelola pembelajaran dan mencari solusi terbaik dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar. Pembelajaran ini menekankan pada perubahan dari berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada peserta didik (student centered).

Metode debat slow motion dianggap sesuai dalam pembelajaran bahasa Indonesia kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Kedungwuni. Karena merupakan pembelajaran yang mengolaborasikan kemampuan menganalisis, mengasosiasi, berdiskusi, dan mengomunikasikan. Sehingga membantu peserta didik mengasah dua keterampilan sekaligus : berbicara dan menulis.

Tahapan proses pembelajaran menggunakan debat slow motion sebagai berikut: peserta dibagi menjadi 2 kelompok pro dan kontra. Peserta didik diberikan topik debat yang kontroversial; contohnya junk food tidak boleh ada di sekolah. Tiap kelompok diminta menyusun argumen pro atau kontra. Kemudian memilih juru bicaranya.

Baca juga:  Tingkatkan Keterampilan Berbicara melalui Kegiatan Penerapan Anakes

Peserta didik menyusun tempat duduk saling berhadapan untuk kedua kelompok yang akan melakukan debat. Peserta didik melakukan debat sesuai tata tertib debat slow motion. Pendapat diungkapkan oleh pembicara satu tim pro terlebih dahulu, kemudian dibalas oleh pembicara satu tim kontra, dan seterusnya. Peserta didik dari masing-masing kelompok dapat bertanya kepada salah satu tim lawan.

Argumen yang telah disampaikan kemudian disimpulkan di akhir debat.
Peserta didik dan guru membuat kesimpulan atau rangkuman yang mengacu pada topik yang baru dibicarakan. Strategi debat slow motion memberikan hasil dalam proses, partisipasi, kreativitas dan hasil belajar peserta didik. Pertama, dari proses partisipasi semua peserta didik terlihat antusias dan aktif dalam kegiatan debat, meski ada beberapa yang terlihat tegang pada saat pembelajaran dimulai. Hal tersebut diantisipasi dengan kegiatan games, sehingga peserta didik nyaman dan tidak merasa tegang.

Baca juga:  Pengembangan Pembelajaran Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris di SMP Negri 30 Semarang

Kedua, pada saat kegiatan debat, peserta didik yang duduk di masing-masing kelompok mulai termotivasi dan diperkenankan untuk bertanya, maupun menyanggah argumen pembicara. Baik pembicara dari tim pro maupun kontra.

Ketiga, peserta didik menjadi antusias terlibat dalam perdebatan karena topik debat dekat dengan kehidupan mereka. Keempat, dari hasil pembelajaran, kemampuan berbicara peserta didik meningkat. Beberapa peserta didik juga termotivasi untuk mengikuti lomba debat yang diadakan oleh MGMP bahasa Indonesia dan berhasil mendapatkan juara.
Hal ini membuat peserta didik semakin percaya diri dan ingin terus meningkatkan kemampuan berbicara secara sistematis, sesuai kode etik keilmiahan. Hal tersebut diketahui dari testimoni yang ditulis peserta didik. (pkl1/lis)

Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Kedungwuni

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya