alexametrics

Belajar Materi Energi dengan Problem Solving Wow Keren

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, ENERGI merupakan materi pembelajaran pada siswa tingkat SMP kelas tujuh semester satu ( gasal ) yang sesuai dengan materi pada kurikulum 13.

Energi merupakan suatu kemampuan pada benda untuk melakukan usaha /kerja atau dengan kata lain benda itu melakukan perubahan.Bentuk energy bermacam – macam antara lain : energy kinetic, energy potensial, energy kimia, energy listrik dan lain – lain.

Energi memegang peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia, Kenapa karena semua aktivitas kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya memerlukan energy.

Salah satu bentuk energy yang tidak merusak lingkungan adalah sumber energy terbarukan berupa energy alternative, contohnya : energy matahari, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), energy angin, energy tidal yaitu energy yang memanfaatkan pasang surutnya air laut . Transformasi energy dalam tumbuhan, salah satu contohnya adalah proses fotosintesis dimana reaksi ini menghasilkan oksigen yang digunakan tumbuhan untuk beraktivitas.
Respirasi merupakan proses pembebasan energy yang tersimpan dalam zat yang akan menhasilkan energy kimia untuk kegiatan kehidupan. Contoh energy dalam kehidupan manusia adalah pada proses pencernaan (karbohidrat, protein, lemak)

Baca juga:  Jaring-Jaring Bangun Ruang untuk Peraga Mencari Luas Permukaan

Dari uraian materi diatas, yang begitu banyaknya serta cakupan materi yang luas , diperlukan suatu model pembelajaran yang tepat untuk proses KBM supaya tidak membosankan bagi siswa kami di SMPN 34 semarang dengan latar belakang yang bermacam – mascam serta berbagai karakter yang unik.

Strategi pembelajaran problem solving merupakan model pembelajaran yang dilakukan dengan cara melatih para siswa menghadapi berbagai masalah untuk dipecahkan sendiri atau bersama – sama . Menurut N. Sudirman (1987:146) model pembelajaran problem solving adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha untuk mencari pemecahan atau jawaban oleh siswa.

Baca juga:  Asyiknya Belajar IPS dengan Outing Class

Hidayati (2008) berpendapat bahwa model pembelajaran problem solving( metode pemecahan masalah) didasarkan pada kesadaran terhadap kenyataan , bahwa mengajar bukanlah sekedar berpidato dan mengkomunikasikan ilmu pengetahuan kepada siswa . Tetapi, mengajar adalah untuk meneliti dengan seksama , mencari, menyelidiki, memikirkan, menganalisis, dan sampai menemukan.Dengan demikian model pembelajaran problem solving ini merupakan metode pengajaran yang mengaktifkan dan melatih siswa untuk menhadapi berbagai masalah dan dapat mencari pemecahan masalah atau solusi dari permasalahan itu.

Ada enam tahap dalam langkah – langkah model pembelajaran problem solving yaitu sebagai berikut : satu:merumuskan masalah secara jelas,dua:menelaah masalah dengan menggunakan pengetahuan untuk memperinci, menganalisis masalah dari berbagai sudut, tiga: merumuskan hipotesis dengan berimajinasi dan menghayati ruang lingkup, sebab akibat dan alternative penyelesaian, empat: mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis berupa diagram, gambar ataupun table, lima: pembuktian hipotesis dengan kecakapan menelaah dan membahas data, menghubungkan dan menghitung serta ketrampilan mengambil keputusan dalam menarik kesimpulan, enam: menentukan pilihan penyelesaian berupa membuat alternative penyelesaian dengan memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan.

Baca juga:  Pemanfaatan Canva untuk Media Pembelajaran IPA

Kelebihan model pembelajaran problem solving ini antara lain : mendidik siswa untuk berfikir sistematis, melatih untuk mendesain suatu penemuan, berfikir dan bertindak kreatif, memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis, mengidentifikasi, menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan yang dihadapi dengan tepat. Manfaat model pembelajaran ini pada proses belajar mengajar bisa mengembangkan pembelajran yang menarik dan menantang minat siswa. Sedangkan tujuannya siswa menjadi terampil dalam menyeleksi informasi, kepuasan intelektual akan timbul dari dalam sebagai hadiah intrinsic bagi siswa dan tak kalah penting potensi intelektual siswa meningkat melalui proses melakukan penemuan. (gml2/zal)

Guru Mapel IPA SMPN 34 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya