alexametrics

Belajar Kerajaan Kuno dengan Model TGT

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, MATA pelajaran Sejarah adalah mata pelajaran yang menurut sebagian besar peserta didik adalah mata pelajaran yang membosankan. Semua itu tidak lepas dari anggapan bahwa mata pelajaran sejarah identik dengan mata pelajaran masa lalu dan bersifat hafalan. Hal tersebut tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para guru yang mengampu mata pelajaran ini.

Problem klasik yang sering dialami penulis di SMAN 1 Pegandon adalah minat ataupun motivasi peserta didik yang sangat rendah untuk mengikuti mata pelajaran Sejarah. Seringkali peserta didik hanya ngobrol sendiri, melamun atau bahkan yang paling parah adalah tidur saat guru menyampaikan materi. Hal tersebut tentunya membuat penulis tergerak untuk mengubah semua anggapan dan kebiasaan tersebut.

Salah satu cara yang penulis lakukan untuk mengubah mengubah kebiasaan yang kurang baik itu adalah dengan mencoba menerapkan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT). Model ini diharapkan mampu menumbuhkan minat peserta didik untuk mempelajari mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran yang diminati dan menyenangkan. Penerapan model ini melibatkan seluruh peserta didik tanpa adanya perbedaan status. Dengan aktivitas pembelajaran ini, peserta didik dapat rileks dan menumbuhkan rasa tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar para peserta didik (Sumantri, 2014). Menurut Slavin (Nur, 2011 dan Warsono & Hariyanto, 2013:197) menyatakan aktivitas yang mendorong peserta didik untuk bermain sambil berpikir, bekerja dalam suatu tim, dan kompetitif terhadap tim yang lain.

Baca juga:  Serunya Belajar Kebugaran Jasmani melalui Metode Problem Based Learning

Sintaknya adalah sebagai berikut, 1) membuat kelompok peserta didik heterogen 6 orang kemudian memberikan informasi pokok materi dan mekanisme kegiatan. 2) Menyiapkan meja turnamen secukupnya, misal 6 meja dan untuk tiap meja ditempati 6 peserta didik yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh peserta didik dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-6 ditempati oleh peserta didik yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap peserta didik yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesepakatan kelompok. 3) Selanjutnya adalah pelaksanaan turnamen. Setiap peserta didik mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu tertentu (misal 3 menit). Peserta didik bisa mengerjakan lebih dari satu soal dan hasilnya diperiksa dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Peserta didik pada tiap meja tunamen sesuai dengan skor yang diperolehnya diberikan sebutan (gelar) superior, very good, good, medium. 4) Bumping, pada turnamen kedua (begitu juga untuk turnamen ketiga-keempat dst), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi, peserta didik superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. Begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh peserta didik dengan gelar yang sama. 5) Setelah selesai dihitung skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. Kemudian diberikan penghargaan.

Baca juga:  Pembelajaran Daring I-Spring untuk Siswa Kelas II

Dengan penggunanan metode tersebut ternyata memberikan hasil yang lebih baik, dimana pada proses pembelajaran peserta didik menunjukkan respon yang positif, tidak ada yang ngantuk, ngobrol sendiri, atau melamun. Karena seluruh peserta didik mempunyai tanggung jawab masing-masing dan ada kompetisi yang membuat mereka berusaha dengan kelompoknya untuk bisa menjadi yang terbaik. Yang pasti model ini bisa membuat para peserta didik bahagia. (ikd1/ida)

Guru Sejarah SMAN 1 Pegandon Kabupaten Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya