alexametrics

Tingkatkan Kemampuan Guru PAI Susun Perangkat Soal melalui IHT

Artikel Lain





RADARSEMARANG.ID, PROSEDUR evaluasi berupa pengukuran hasil belajar merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan. Kegiatan pengukuran hasil belajar disusun secara sistematis, pelaksanaannya harus memiliki akuntabilitas yang tinggi, dan hasilnya juga dapat menjelaskan kemampuan peserta didik yang nyata. Pelaksanaan pengukuran yang memenuhi kriteria tersebut, mempermudah pendidik untuk menilai sejauhmana tingkat pemahaman, dan penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran, bahkan sebagai bahan informasi kemampuan peserta didik dalam mengaplikasikan, mensintesa, dan menganalisis materi yang diajarkan.

Mengukur kemampuan peserta didik dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan melaksanakan tes. Alat ukur ini merupakan cara untuk mengetahui besarnya tingkat kemampuan siswa secara tidak langsung, yaitu melalui respon seseorang terhadap sejumlah stimulus atau pertanyaan. Agar diperoleh informasi yang akurat mengenai kemampuan peserta didik dibutuhkan instrumen tes yang baik, bermutu, dan berkualitas.

Bagi guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAI dan BP), di SD se-Kecamatan Ringinarum Kendal dalam meningkatkan kualitas pendidikan, harus dapat mengetahui kemampuan peserta didiknya. Oleh karena itu, prosedur tes yang terstandar harus dikuasai. Instrumen tes tidak hanya diadopsi dari buku paket atau Lembar Kerja Siswa (LKS), namun dibuat oleh guru dengan memperhatikan materi dan kondisi peserta didik di sekolah masing-masing.

Kemampuan Guru PAI dan BP, menyusun perangkat tes yang terstandar, menjadi instrumen untuk mengetahui kemampuan dasar peserta didik, sehingga pendidik mendapatkan informasi yang utuh tentang peserta didik, layak atau tidak untuk dinyatakan tuntas, harus mengulang/remidial, atau memperoleh pengayaan.

Pada kenyataan di lapangan, masih ada guru yang membuat perangkat penilaian belum mengikuti kaidah yang berlaku, misalnya belum diawali dengan pembuatan kisi-kisi soal, juga belum diketahui karekteristik masing-masing butirnya karena tidak dianalisis secara teoritik maupun empirik. Kebiasaan yang selama ini berlangsung, kisi-kisi disusun setelah butir soal jadi, dan soal diambil dari buku paket dan lembar kerja siswa.

Kendala yang dihadapi guru PAI dan BP, merasa kesulitan dalam membuat/penyajian soal yang bervariasi apalagi berbasis HOTS, lambat dalam pembuatan, serta keterbatasan melakukan analisis empirik. Kondisi ini jika dibiarkan berlanjut, berdampak kurang baik pada pendidik, peserta didik, dan pembelajaran itu sendiri. Salah satu cara untuk mengatasinya, diperlukan kegiatan guru PAI dan BP dalam wadah Kelompok Kerja Guru (KKG) melalui kegiatan In House Training (IHT). Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan Guru PAI dan BP menyusun perangkat soal yang berkualiitas, dan bermuara pada bank soal untuk sekolah masing-masing. Bank soal yang tersusun dari Guru seKecamatan Ringinarum, dapat digunakan untuk mengukur standar kualitas peserta didik antarsekolah di wilayah UPTD Pendidikan di Kecamatan Ringinarum.

IHT merupakan pelatihan yang dilaksanakan secara internal oleh kelompok kerja guru PAI dan BP di Kecamatan Ringinarum, untuk meningkatkan kompetensi dalam menyusun perangkat soal. Bertindak sebagai trainer yaitu Pengawas PAI. Tujuan pelatihan secara umum untuk mengembangkan keahlian, pengetahuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam menyusun perangkat soal yang berkualitas. Namun secara khusus IHT ini, ada tiga tujuan, yaitu, 1) meningkatkan dan mengembangkan keahlian guru dalam menyusun perangkat soal, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif; 2) meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan tentang soal-soal berbasis HOTS, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional; dan 3) meningkatkan dan mengembangkan sikap kebersamaan, sehingga menimbulkan kemauan kerjasama antar Guru PAI se Kecamatan Ringinarum dengan Pengawas PAI.

Beberapa langkah yang harus dipenuhi untuk mewujudkan tujuan tersebut, yaitu menganalisa kebutuhan pelatihan, dengan mengidentifikasi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk memperbaiki atau meningkatkan kompetensi guru, menganalisa biaya yang dibutuhkan pada pelaksanaan pelatihan, dan menganalisa penggunaan metode pengumpulan data untuk dapat mengukur keberhasilan pelaksanaan pelatihan, sehingga dapat didesain pelatihan yang akan dilakukan.

Melalui IHT yang dirancang untuk meningkatkan kemauan menyusun perangkat soal, guru PAI dan BP di Kecamatan Ringinarum dapat merumuskan konsep Indek Pencapaian Kompetensi (IPK) berbais Higher Order Thinking. Hal ini mendukung upaya meminimalisir kemampuan mengingat kembali informasi (recall) dan asesmen mengukur kemampuan. Guru juga dapat mengikuti langkah-langkah merumuskan IPK, menganalisis Kompetensi Dasar (KD) yang dapat dikonstruksi IPK-nya dengan pola HOTS, dan mengonstruksi dan mengembangkan IPK HOTS. (pgn1/ida)

Pengawas PAI Korwil Cam Biddik Kecamatan Ringinarum
Baca juga:  Belajar Lebih Aktif dengan Make A Match pada Materi Keteladanan Rosul Ulul Azmi

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya