alexametrics

Pentingnya Membaca Asmaul Husna di Sekolah Dasar

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan di sekolah dasar sekarang ini sudah mulai membaur dengan sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI). Pendidikan sekolah dasar umum sudah mulai ada pembiasan-pembiasaan yang bersifat agamis. Pendidikan agamis tidak hanya boleh diajarkan di sekolah Madrasah Ibtidaiyah tetapi di sekolah dasar juga ada Pendidikan Agama Islam (PAI).

Untuk menciptakan suasana yang agamis di sekolah bagi guru agama sangat dipandang perlu, karena di lingkungan sekolah SD Negeri Kebonagung masih banyak yang mampu menghafal Asmaul Husna.

Padahal membaca Asmaul Husna sudah dibuat jadwal dibaca tiap Jumat pagi sebelum pembelajaran dimulai. Sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI) maka guru tergugah hatinya untuk membuat siswa mau menghafal Asmaul Husna di sekolah. Guru ingin membiasakan bacaan Asmaul Husna setiap pagi sebelum pelajaran dimulai sebagai pembiasaan karakter baik di sekolah.

Baca juga:  Berlatih Kompak dengan Team Work Mengenal Asmaul Husna

Menurut UUD No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi sebagai berikut, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Salah satu cara yang tepat untuk digunakan yaitu dengan membiasakan mengamalkan ajaran agama yang didapat dalam kehidupan sehari-hari dengan berzikir menyebut nama- nama Allah SWT yang mulia (asmaul husna).

Kata Asmaul Husna berasal dari bahasa arab yang merupakan gabungan dari dua kata yaitu al-Asma’ dan al-Husna. Al-Asma’ yang berarti nama. Sedangkan al-Husna adalah yang berarti baik, bagus. Hafalan Asmaul Husna berarti menghafalkan nama-nama Allah yang agung dan indah yang berjumlah 99. Menghafal bukanlah sesuatu yang mudah. Menghafal merupakan kemampuan memadukan cara kerja kedua otak yang dimiliki manusia, yakni otak kiri dan otak kanan. Seseorang akan cepat lupa dengan sesuatu yang telah dihafal apabila tidak sering diulang sampai menjadi semacam perilaku.

Baca juga:  Tingkatkan Cinta Lingkungan dengan Kegiatan Implementatif di Rumah

Karena seseorang dalam menghafal dengan menggunakan kerja otak kiri. Kerja otak kiri sangatlah pendek, hanya bisa bertahan selama enam jam. Artinya setelah enam jam orang menghafal, kemudian tidak diulang dan ulang lagi, maka yang terjadi adalah lupa. Apabila seseorang sudah lupa, maka kegagalanlah yang akan ia dapat.

Untuk menanamkan hafalan Asmaul Husna pada siswa guru Pendidikan Agama Islam (PAI) menggunakan langkah-langkah sebagai berikut guru menyediakan foto kopi Asmaul Husna sejumlah siswa. Piket kelas membagikan foto kopi Asmaul Husna yang disiapkan guru kepada setiap siswa, guru membagi siswa untuk bertugas memimpin membaca Asmaul Husna di depan kelas sesuai piket kelas.

Asmaul Husna dibaca setiap hari sebelum pembelajaran dimulai sambil menyimak foto kopi Asmaul Husna yang dibagikan regu piket. Bagi yang tidak membaca ataupun menyimak Asmaul Husna maka dikenai denda. Ternyata setelah guru PAI menerapkan pembiasaan membaca Asmaul Husna setiap pagi hampir semua siswa SD Negeri Kebonagung Kecamatan Ngampel, Kendal mampu menghafal Asmaul Husna. Setelah dibiasakan membaca Asmaul Husna suasana sekolah juga lebih nyaman dirasakan dan siswa yang tadinya sulit menerima pelajaran sekarang lebih mudah menerima pelajaran dari guru. (pgn2/lis)

Baca juga:  Kombinasikan Pembelajaran Jarak Jauh dengan Tatap Muka

Guru SDN Kebonagung, Ngampel, Kabupaten Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya