alexametrics

Peningkatan Kemampuan Berdiskusi dengan Metode Debat

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Salah satu misi pembelajaran PPKn di sekolah adalah melatih peserta didik membiasakan diri menerapkan sikap demokratis sesuai apa yang ada dalam Pembukaan UUD 1945 yakni bahwa negara Indonesia ialah negara yang berkedaulatan rakyat atau demokrasi. Untuk mewujudkan misi tersebut, khususnya dalam mengembangkan sikap demokratis. Salah satu keterampilan yang perlu dimiliki dan dikembangkan oleh peserta didik adalah keterampilan berdiskusi.

Namun sering kali usaha peserta didik dalam mengemas setiap pembelajaran khususnya dalam metode diskusi tidak berhasil diterapkan sesuai dengan target yang diharapkan. Hal tersebut teramati pada saat kegiatan diskusi yang dilakukan oleh peserta didik cenderung didominasi oleh peserta didik tertentu saja, sedangkan peserta didik yang lain lebih memilih diam, mereka masih kurang percaya diri dalam mengungkapkan gagasan, perasaan maupun pendapatnya saat berdiskusi. Selain itu keberanian dalam menyampaikan pendapatnya di depan umum pun masih kurang.

Baca juga:  Pembelajaran HOTS Mata Pelajaran Ekonomi melalui Peningkatan Literasi

Salah satu strategi pembelajaran yang sesuai dengan implikasi pembelajaran PPKn yang dapat mengatasi kurang aktifnya peserta didik dalam diskusi adalah dengan menggunakan metode Debat. Debat merupakan salah satu metode pembelajaran dimana peserta didik melakukan kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan atau kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan. Debat dapat menumbuhkan pola pikir kritis, melatih peserta didik untuk berani menyampaikan pendapat, menanggapi pertanyaan, menghormati pendapat, menumbuhkan sikap kerja sama antar peserta didik dalam kelompok, memantapkan pemahaman konsep terhadap materi yang telah diberikan. Melalui metode debat, peserta didik didorong untuk mengemukakan pendapatnya melalui suatu perdebatan antar kelompok diskusi yang disatukan dalam sebuah diskusi kelas untuk menentukan baik tidaknya suatu usul tertentu yang didukung oleh suatu pihak yang disebut pendukung atau afirmatif, dan ditolak oleh pihak lain yang disebut penyangkal atau negatif (Nurdin, 2016).

Baca juga:  Menghafal Surah Al-Fil Kelas IV SD dengan Metode Tikrar

Langkah pembelajaran pada metode Debat Pro dan Kontra meliputi : pertama, guru membagi dua kelompok peserta debat yang satu dan yang lain kontra. Langkah kedua, guru memberikan tugas untuk membaca materi “Ancaman di Bidang Ipoleksosbudhankam”. Adapun yang harus didebatkan oleh kedua kelompok tersebut adalah apakah mereka setuju atau tidak bahwa WNI yang membantu ISIS di negara lain dapat hilang kewarganegaraan RI?. Setelah selesai membaca materi, guru menunjuk salah satu anggota kelompok pro untuk berbicara saat itu ditanggapi atau dibalas oleh kelompok kontra. Demikian seterusnya sampai sebagian besar peserta didik dapat mengemukakan pendapatnya.
Langkah ketiga, sementara peserta didik menyampaikan gagasannya, guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi. Guru menambahkan konsep yang belum terungkap. Sedangkan langkah keempat, dari data-data di papan tersebut guru mengajak peserta didik membuat rangkuman yang mengacu pada materi yang ingin dicapai.

Baca juga:  Games Belajar Bahasa Inggris di Kelas

Dari hasil pengamatan ini dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Debat Pro dan Kontra dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PPKn peserta didik kelas X SMAN 3 Pemalang pada materi “Ancaman di Bidang Ipoleksosbudhankam”. Peningkatan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran ditunjukkan dengan adanya peningkatan partisipasi dan keaktifan peserta didik dalam hal menyampaikan pendapat, menanggapi pertanyaan, menghormati pendapat dan kerja sama. (pkl1/ton)

Guru PPKn SMAN 3 Pemalang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya