alexametrics

Teknik Tarling Gaya Baru dalam PPKn, Guru dan Siswa Berkolaborasi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, KOMPETENSI Dasar (KD) Sumpah Pemuda termasuk materi yang menantang di kelas VIII semester 2. Materinya bersifat unik. Alasan pertama, karena peristiwanya terjadi di masa lampau. Alasan kedua, materi itu harus disampaikan kepada generasi zaman now. Jika strategi pembelajarannya monoton dapat dipastikan siswa jenuh dan bosan. Karena itu diperlukan teknik khusus untuk menimbulkan antusiasme siswa. Alternatif penulis menerapkan teknik berputar dan berkeliling (tarling) di kelas 8F SMPN 40 Semarang.

Realisasi teknik tarling adalah guru mengajukan pertanyaan materi Sumpah Pemuda dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Siswa diberi waktu untuk menyiapkan jawaban secara individual. Selanjutnya guru melakukan gerakan berputar dan berkeliling (tarling) melewati lorong tempat duduk siswa sambil berhitung sebanyak jumlah siswa di kelas tersebut. Dirangkai kemudian dengan guru menyebut nomor acak sebagai penentu peserta didik yang maju ke depan kelas untuk menyampaikan jawaban secara lisan. Jawaban benar diberi penguatan pujian dan tepuk tangan. Maksimal untuk satu pertanyaan siswa yang maju dibatasi 4 orang saja. Demikian seterusnya dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya.
Bagi guru penggunaan teknik tanya jawab gaya tarling memberi peluang mengasah keterampilan bertanya. Ungkapan verbal yang meminta respon dari siswa secara tertulis sudah sangat lazim dilakukan, namun bertanya kepada siswa untuk dijawab secara lisan di depan kelas tentu bisa memberikan kesan unik dalam pembelajatan PPKn. Gerakan guru untuk berputar dan berkeliling memungkinkan siswa terpantau dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Sementara penunjukkan nomor absen acak untuk menentukan giliran maju menjawab memberi kejutan tersendiri kepada siswa. Kondisi ini pun memberi pengalaman khusus kepada siswa. Kepercayaan diri siswa yang maju dan berhasil menjawab pertanyaan dengan benar dapat langsung diamati selama proses pembelajaran.

Baca juga:  Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika dengan Thinking-Finding-Solving

Kelebihan dari strategi tarling ada empat. Pertama, siswa lebih fokus dan aktif mencari jawaban. Kedua, aktivitas siswa terkendali dengan baik. Ketiga, semua siswa menjadi siap untuk menjawab pertanyaan di depan kelas karena guru menunjuk siswa yang maju secara acak. Keempat, ada suasana menantang dan kegembiraan dalam pelaksanaan teknik ini karena guru dan siswa saling berkolaborasi secara terpadu.
Kekurangan strategi tarling ditimbulkan oleh kelemahan manusiawi pada guru maupun peseta didik. Pertama, jika guru tidak ada persiapan mengajar yang jelas maka proses pemberian pertanyaan bisa terhambat sehingga siswa tidak merasa nyaman dalam pembelajaran. Kedua, apabila guru tidak bisa melaksanakan pengelolaan kelas dengan baik, maka kondisi kelas menjadi sukar dikendalikan dan menimbulkan suasana gaduh. Maka pada saat guru melaksanakan peran tarling harus dipastikan bahwa waktu guru berhitung maksimal 30 detik agar tidak terjadi pemborosan waktu. Ketiga, apabila suasana kolaborasi peserta didik rendah maka pertanyaan yang diajukan tidak akan mendapat respon positif dari peserta didik. Kesiapan bekerjasama antara guru dengan peserta didik benar-benar perlu dijalin sebelum melaksanakan pembelajaran dengan strategi tarling.

Baca juga:  Serunya Belajar Descriptive Text dengan Metode Guessing Game

Untuk mengatasi kelemahan penggunaan strategi tanya jawab tarling adalah dengan menyiapkan perangkat pembelajaran secara lengkap. Pertanyaanpun disusun terlebih dahulu agar bisa langsung digunakan. Sementara kepada siswa dijelaskan tentang aturan main teknik tanya jawab tarling. Jika perlu guru harus menjelaskan ulang tentang prosedur pelaksanaannya. Selanjutnya, untuk pertanyaan yang belum terjawab sempurna guru perlu menindaklanjuti dengan membahasnya secara klasikal agar siswa mendapat pengayaan atas materi yang dirasa sulit. (gml1/ida)

Guru PPKn SMPN 40 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya