alexametrics

Teknik Drills dalam mengajarkan Degree of Comparation

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Drills menurut Roestiyah adalah suatu teknik mengajar di mana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan agar siswa memiliki ketangkasan dan keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari. Sementara Julie Tice dari British Council Lisbon mengatakan bahwa menurut pandangan behaviourist, mempelajari sebuah bahasa asing, seperti kemampuan lain, adalah mengulangi frasa-frasa dengan benar sebanyak-banyaknya akan membawa kepada penguasaan yang baik atas bahasa tersebut. Secara sederhana, drilling adalah mendengarkan sebuah contoh atau model yang diberikan oleh guru atau melalui rekaman, atau siswa lain dan mengulangi apa yang didengar. Teknik ini masih digunakan oleh banyak guru bahasa asing di seluruh dunia ketika memperkenalkan pelajaran baru kepada para siswanya.

Ada bermacam-macam drills yang dapat dilakukan guru seperti misalnya substitution drills atau question and answer drills. Substitution drills dapat digunakan untuk melatih struktur atau mengubah satu atau dua kata diganti dalam drills. Sementara dalam question and answer drills siswa diberi pertanyaan kemudian siswa menjawab dengan kata-kata yang telah disiapkan.
Untuk mengajarkan degree of comparation kepada siswa kelas delapan semester kedua, penulis memberikan drills kepada siswa dengan menggunakan substitution drills. Setelah menerangkan dan memberi contoh kalimat beberapa kali, siswa diminta menirukan contoh-contoh kalimat yang diberikan guru berulang-ulang. Drills pertama dilakukan secara keseluruhan. Semua siswa menirukan guru. Tahap kedua satu per satu siswa diminta untuk mengulangi contoh yang diberikan guru. Setelah berlatih secara lisan, para siswa diminta untuk menulis kalimat sejenis menggunakan foto atau gambar keluarga masing-masing. Kata sifat yang digunakan diberikan sebelum kegiatan dimulai seperti kata-kata big-small, tall-short, heavy-light, old-young. Untuk setiap pasang kata siswa diminta untuk menuliskan minimal lima kalimat. Setelah selesai, guru memeriksa dan memperbaiki kalimat-kalimat yang salah. Guru juga memberi nilai untuk kalimat-kalimat yang dibuat siswa, sebagai pendorong agar para siswa tetap bersemangat untuk meneruskan pelajaran. Setelah tullisan diperiksa, masing-masing siswa diminta untuk membacakan kalimat yang telah dibuatnya di depan kelas. Terakhir, para siswa secara bergilir diminta untuk membuat kalimat secara lisan menggunakan benda-benda lain yang dapat dijumpai di dalam kelas.

Baca juga:  Aplikasi Pendekatan Problem Based Learning Tingkatkan Aktivitas Pembelajaran

Menurut hemat penulis, teknik drilling tetap diperlukan dan sangat bermanfaat dalam mengajarkan Bahasa Inggris di SMP Negeri 12 Semarang. Latihan dengan teknik ini memberi siswa untuk berlatih lebih sering dalam keterampilan mendengarkan dan mengucapkan kata-kata atau frasa-frasa tertentu. Selain itu juga membantu para siswa untuk menirukan intonasi yang cenderung agak berbeda dari bahasa ibu mereka. Dengan teknik ini para siswa juga bisa memperoleh umpan balik secara langsung dari guru atas penampilan berbahasa mereka. Dan terakhir, drilling membantu siswa untuk mengingat dan membuat mereka secara otomatis memberikan respon terhadap pola-pola kalimat yang umum digunakan orang.

Demikianlah, pengalaman penulis dalam menggunakan teknik drilling untuk mengajarkan Degree of comparation kepada siswa kelas delapan di SMP 12 Semarang. (gml2/ton)

Baca juga:  Belajar Sejarah Asyik dengan Model Picture and Picture

Guru Bahasa Inggris SMPN 12 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya