alexametrics

Dengan Pendekatan Kontekstual, Pembelajaran Matematika Bermakna

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PENDIDIKAN matematika di tanah air saat ini sedang mengalami perubahan paradigma. Terdapat kesadaran yang kuat, terutama di kalangan pengambil kebijakan, untuk memperbaharui pendidikan matematika. Tujuannya adalah agar pembelajaran matematika lebih bermakna bagi siswa dan dapat memberikan bekal kompetensi yang memadai baik untuk studi lanjut maupun untuk memasuki dunia kerja (Sutarto Hadi, 2005).

Paradigma baru pendidikan saat ini masih diharapkan lebih menekankan pada peserta didik sebagai manusia yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Siswa harus aktif dalam pencarian dan pengembangan pengetahuan. Kebenaran ilmu tidak terbatas pada apa yang disampaikan oleh guru. Guru harus mengubah perannya, tidak lagi sebagai pemegang otoritas tinggi keilmuan dan indoktriner, tetapi menjadi fasilitator yang membimbing siswa ke arah pembentukan pegetahuan oleh diri mereka sendiri.

Pembelajaran dengan menggunakan masalah–masalah kontekstual dan pembelajaran yang menyenangkan, sejalan dengan prinsip bahwa pembelajaran harus bermakna (meaningfull learning). Menurut Ausubel (1963: 42-43), ada dua macam proses belajar, yakni proses belajar bermakna dan proses belajar menghafal. Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep–konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Jadi, proses belajar tidak sekedar menghafal konsep–konsep atau fakta–fakta belaka (rote learning), namun berusaha menghubungkan konsep–konsep atau fakta–fakta tersebut untuk menghasilkan pemahaman yang utuh (meaningfull learning). Sehingga konsep yang dipelajari dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan.
Ketika siswa SMP Negeri 2 Warungpring dihadapkan pada materi pelajaran seperti aritmetika sosial, diharapkan siswa mampu memahami konsep–konsep terkait materi tersebut. Berdasarkan teori belajar bermakna Ausubel, ketika siswa belajar aritmetika sosial, guru dapat membantu siswa dengan memancing pengetahuan siswa terkait masalah jual beli yang pernah mereka temui dalam kehidupan sehari–hari. Hal tersebut mampu memperkuat struktur kognitif siswa. Sehingga ketika siswa menemui masalah terkait aritmetika sosial, mereka mampu memberikan pemecahan masalah yang sesuai dengan konsep–konsep yang telah mereka pelajari dan mereka alami.

Baca juga:  Pembelajaran Matematika Menggunakan QR Code

Pembelajara bermakna berkaitan erat dengan pembelajaran kontekstual, yaitu pembelajaran yang didukung situasi atau masalah dalam kehidupan nyata. Landasan filosofis kontekstual itu sendiri adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal (rote learning), tetapi merekonstruksikan atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta–fakta yang mereka alami dalam kehidupannya. Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa salah satu cara yang dapat digunakan agar terjadi belajar bermakna adalah mengaitkan pembelajaran dengan masalah–masalah yang dekat dengan kehidupan siswa sehari–hari (kontekstual).

Pembelajaran konstektual memiliki lima konsep yang harus diterapkan pada pembelajaran (Muslich 2011: 41-42), Pertama, Relating. Yaitu bentuk belajar dalam konteks kehidupan nyata atau pengalaman nyata. Kedua, Experiencing, yaitu belajar dalam konteks eksplorasi, penemuan, dan penciptaan. Ketiga, Applying, yaitu belajar dalam bentuk penerapan hasil belajar ke dalam penggunaan dan kebutuhan praktis. Keempat, Cooperating, yaitu belajar dalam bentuk berbagi informasi dan pengalaman, saling merespon, dan saling berkomunikasi. Kelima, Transferring, yaitu kegiatan belajar dalam bentuk memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman berdasarkan konteks baru untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman belajar yang baru.

Baca juga:  Saling Berbagi pada Pembelajaran Matematika

Sebagai ruh matematika adalah pemecahan masalah, sedangkan itu sendiri dapat dikaji dari perspektif yang berbeda–beda dan akibatnya matematika bersifat dinamis, fleksibel, tumbuh, dan berkembang masalah itu sendiri. Dengan demikian, belajar matematika menjadi tidak bermakna manakala hanya sekedar hafalan tanpa pemecahan masalah. (pkl1/ida)

Guru SMP Negeri 2 Warungpring Kabupaten Pemalang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya