alexametrics

Meningkatkan Rasa Tanggung Jawab Siswa melalui Penjas

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Guru dalam situasi yang baik sekalipun, kadang merasakan dalam dirinya menerima suatu kenyataan dari peserta didik yang tidak baik dalam bersikap. Hal ini mungkin memunculkan perasaan yang tidak baik bagi gurunya. Rasa tanggung jawab seseorang, terutama peserta didik masing-masing akan berbeda. Terlihat sekali di SD Negeri Srondol Wetan 06. Sehubungan dengan itu, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh para guru untuk mengurangi rasa kecewa atau marah tersebut. Sehingga bisa menguntungkan, baik bagi guru maupun peserta didiknya. Untuk membina self-responsibility pada sekolah-sekolah yang bermasalah dengan disiplin peserta didiknya ini, dapat digunakan Pembelajaran Model Hellison .

Perilaku peserta didik SD Negeri Srondol Wetan 06 yang muncul, hampir sama dengan contoh kasus yang disebutkan Hellison. Terdapat lima tingkatan rasa tanggung jawab masing-masing peserta didik dalam model Hellison, yaitu level 0, 1, 2, 3, dan 4 yang dikutip Widyatmoko (dalam Zulfa, 2015), yaitu :

Baca juga:  Pemanfaataan LMS Moodle untuk Pembelajaran Daring Kimia

Level 0, Irresponsibility, misalnya: menyalahkan orang lain, memanggil nama jelek terhadap orang lain,bermain sendiri saat guru sedang menjelaskan, mendorong temannya pada saat mendapatkan peralatan olahraga. Level 1, Self-Control, misalnya menghindari gangguan temannya, hanya melihat orang lain bermain, menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan temannya, berlatih tapi tidak terus-menerus.

Level 2, Involvement, misalnya:membantu menyiapkan perlengkapan olah raga, bermain dengan teman sebaya, memperhatikan pembelajaran dan mengerjakan tugas yang diberikan, mencoba sesuatu yang baru tanpa mengeluh. Level 3, Self-responsibility, misalnya, membersihkan ruangan tanpa disuruh, merapikan peralatan tanpa disuruh, belajar sesuatu yang bukan tugas dari gurunya, berusaha belajar keterampilan baru melalui berbagai sumber di luar pelajaran Pendidikan Jasmani di sekolah.

Baca juga:  Analisis SWOT untuk Siswa SMK

Level 4, Caring, misalnya, menyiram tanaman hias,mengajak orang lain ikut bermain bersama,membantu teman memecahkan masalah-masalah pelajaran, antusias sekali untuk bekerja sama dalam kelompok atau group dengan siapa saja dalam Pendidikan Jasmani.

Terdapat tujuh strategi pembelajaraan yang sudah digunakan Hellison dalam mengajar tanggung jawab pribadi melalui penjas, yaitu, penyadaran (awarness), tindakan, refleksi, keputusan pribadi, pertemuan kelompok, konsultasi, dan kualitas pengajar.

Beberapa harapan yang ingin dicapai untuk meningkatkan rasa tanggung jawab pribadi peserta didik adalah menghargai orang lain, bermain jujur, bermain dengan tidak membahayakan, melakukan yang terbaik, mengikuti petunjuk guru.

Contoh konsekuensi yang dapat diberlakukan bila terjadi penyimpangan adalah: peringatan, time-out 5 menit, time-out 10 menit, memanggil orang tua peserta didik, mengirim peserta didik ke kepala sekolah

Baca juga:  Pembelajaran Lari Jarak Pendek dengan Permainan Lari Bola Keranjang

Program evaluasi dalam model ini menggunakan penilaian kualitatif. Beberapa bentuk penilaian yang berhubungan dengan rasa tanggung jawab ini adalah catatan harian, observasi, refleksi peserta didik, tes pengetahuan rasa tanggung jawab, dan wawancara.

Melalui model ini diharapkan peserta didik berperan dan menyenangi aktivitas untuk kepentingannya sendiri dan bukan hanya untuk mendapatkan penghargaan ekstrinsik. Fair play dalam pendidikan jasmani akan direfleksikan dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh karena itu, pada dasarnya model Hellison ini dibuat untuk membantu peserta didik mengerti dan meningkatkan rasa tanggung jawab pribadi (self-responsibility) melalui pendidikan jasmani. (by1/aro)

Guru SD Negeri Srondol Wetan 06, Banyumanik, Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya