alexametrics

Meningkatkan Penguasaan Vocabulary Siswa lewat Game

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Dalam mempelajari bahasa, setiap orang harus menguasai vocabulary. Semakin banyak orang menguasai vocabulary, maka semakin lancar dalam berbicara, dan akan lebih mudah dalam memahami bahasa. Karena Bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang harus dipelajari bagi siswa Indonesia, maka siswa dituntut untuk menguasi vocabulary agar lebih mudah dalam menguasai Bahasa Inggris. Guru harus bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa usia SMP yang masih suka dengan game. Ini sesuai dengan kodratnya bahwa usia anak yang pada dasarnya masih suka bermain. Dengan ketertarikan dengan game, bagaimana caranya guru bisa menjadikan game yang disukai oleh siswa bisa dijadikan sebagai metode pembelajaran Bahasa Inggris tentang vocabulary yang menarik dan disukainya.

Di dalam pengajaran dapat dikenalkan dan dikembangkan dengan metode atau teknik permainan (game). Penggunaan metode dan teknik tersebut akan mempermudah bagi anak untuk menguasai kosakata Bahasa Inggris yang sederhana dan konkrit sesuai dengan perkembangan usia anak. Dengan demikian, akan mengembangkan sikap senang berbahasa Inggris.

Baca juga:  Memahami Gerak Parabola dengan Bermain TGT

Banyak bentuk permainan yang dapat dilakukan dan salah satunya permainan yang ditulis oleh Gretchen E. Weed dalam salah satu artikelnya yang berjudul “Using Games in Teaching Children” yang dimuat oleh ELEC Buletin No 32, Winter 1971 yang diterbitkan di Tokyo Jepang yang diberi nama Stand Up and Sit Down. Permainan ini membuat anak bergerak aktif. Para siswa diminta keluar dari tempat duduk lalu berbaris dengan rapi. Yang paling depan adalah ketua (leader), sedangkan yang berbaris di belakang disebut anggota. Bila jumlah siswa lebih dari sepuluh, kita tidak usah panik. Bagilah mereka ke dalam kelompok, tiga atau empat kelompok bermain. Tiap-tiap kelompok memiliki satu orang leader.

Baca juga:  Belajar Bahasa Inggris menggunakan Google Classroom di Era Covid-19

Pokok bahasan kali inilah kalimat pendek berupa perintah seperti Sit down! Stand up! Walk to the door!, dan seterusnya. Leader akan memberikan perintah dengan kalimat-kalimat pendek tersebut dan seluruh anggota yang berada di belakangnya mengerjakan perintah tersebut. Misalnya, dengan suara lantang, leader menyebut Sit down!, maka seluruh anggot mengerjakan perintah sang leader yaitu duduk. Apabila perintah sang leader yaitu tidak dipahami karena salah satu sebab, respons akan dihitung sebagai salah satu kesalahan. Kesalana pronunciation, misalnya, harus segera diperbaiki oleh guru. Sebaliknya, bila seluruh anggota mengerjakan perintah dengan benar, respons akan dihitung sebagi perolehan poin.

Akan tetapi, bila perintah tidak dapat dikerjakan karena tidak tahu bagaimana mengerjakannya, guru memberikan isyarat atau mencontohkannya. Misalnya, turn around. Mungkin saja mereka tidak tahu bagaimana melakukan gerakan karena kurang memahami arti frase tersebut. Gurulah yang akan mencontohkannya sambil mengulangi kalimat pendek tersebut perlahah-lahan dan berulang-ulang sampai setiap anggota dalam grup tersebut paham betul. Di samping tahu membedakannya dengan perintah yang lain seperti turn left atau turn right. Perintah-perintah tersebut dapat pula dikombinasikan dengan kata don’t…..” seperti “Don’t sit on the floor!” yang berarti perintah tidak boleh dilakukan.

Baca juga:  Pembelajaran Seni Budaya Lebih Efektif dengan Metode Segmentasi

Lewat permainan di atas, para siswa kelas 7 SMP Negeri 30 Semarang belajar memahami bentuk kalimat perintah (command) dan tanpa disadari perbendaharaan kata yang diperoleh melalui pengalaman bermain atau pekerjaan akan bertambah dan akan bertahan lebih lama dibandingkan dengan yang diperoleh melalui definisi atau terjemahan yang paling baik sekalipun. (ttg4/aro)

Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 30 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya