alexametrics

Tingkatkan Speaking Siswa melalui Story Retelling

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PADA saat ini pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah seharusnya berfokus pada budaya masyarakat sekitar atau sesuai dengan budaya lokal keberadaan tentu saja dengan menggunakan model pembelajarn yang menarik peserta didik sehingga mudah dipahami oleh peserta didik. Ini sesuai dengan amanah yang diberikan KK 2013.

Kurikulum 2013 memberikan kesempatan yang sangat luas kepada pelaksana pendidikan untuk mengembangkan kreatifitas dalam pembelajaran.
Ada 2 permasalahan utama yang muncul pada proses pembelajaran Bahasa Inggris, Pertama, kurangnya motivasi dalam belajar Bahasa Inggris (the lack of students’ motivation) dan yang kedua kurangnya kemampuan siswa dalam menyerap materi yang disampaikan oleh guru (the lack of students’ absorbing ability). Guru harus menyadari bahwa dua masalah tersebut dapat mengganggu proses pembelajaran, situasi kelas bahkan dapat menghambat pencapaian tujuan pembelajaran.

Dalam pembelajaran Bahasa Inggris di SMPN 1 Bandar penulis menyimpulkan bahwa permasalahan yang timbul adalah kuranya motivasi belajar siswa (the lack of stundents’ motivation) dan kurangnya kemampuan bicara siswa (the lack of students’ speaking skill). Dalam tulisan ini penulis membidik tentang kurangnya kemampuan berbicara siswa.

Baca juga:  “A Moment With English” Solusi untuk Meningkatkan Self Confident dan Speaking

Berdasarkan pengamatan dan evaluasi penulis, ada 5 hal sebagai sumber permasalahan kurangnya kemampuan berbicara siswa di SMPN 1 Bandar. Pertama, kegiatan Speaking (Berbicara) sebagai kegiatan yang monoton. Kedua, para siswa tidak memiliki rasa percaya diri untuk berbicara Bahasa Inggris di dalam kelas. Ketiga, kurangnya kosakata Bahasa Inggris siswa, keempat, kurang berlatih berbicara dalam Bahasa Inggris dan yang terakhir kurangnya tema yang menarik.

Dari berbagai permasalahan di atas penulis berpendapat bahwa Story Retelling, mampu meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris siswa, khususnya di SMP Negeri 1 Bandar.

Tanner (1991:55) mengatakan “Story Retelling is an act of sharing, often as important to the story teller as to the listener” Story Retelling merupakan tindakan / kegiatan berbagi sehingga antara story retelling dan pendengar mempunyai peran yang sama pentingnya.
Story Retelling memberikan ruang atau kesempatan yang luas kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan berbicara di dalam kelas dan bermain peran dalam menyusun kembali sebuah cerita, kejadian atau informasi yang pernah mereka dengar dengan bahasa siswa sendiri yang disusun baik secara individu, berpasangan maupun kelompok.

Baca juga:  Belajar Speaking Skill Menarik melalui Vlogging di Youtube

Adapun langkah-langkah dalam Story Retelling bisa bermacam-macam tergantung pada kreativitas guru dalam pembelajaran. Langkah pertama peserta didik berkelompok yang masing masing beranggotakan 4 atau 5 peserta didik, setiap kelompok diberi cerita / teks dengan tema yang sama.

Langkah berikutnya peserta didik diberi kesempatan untuk mencari / menentukan unfamiliar words dan ditulis di papan tulis secara bergantian untuk masing masing kelompok. Guru bersama-sama peserta didik mendefinisikanya (disarankan tidak secara langsung) beri peserta didik klu-klu, agar mereka menemukan definisi dengan sendirinya.

Tahap selanjutnya beri kesempatan peserta didik memahami isi bacaan yang telah dibagikan. Untuk langkah selanjutnya guru meminta masing-masing kelompok untuk berlatih menceritakan kembali Story Retelling selama 10 – 15 menit, dan menyusun sejumlah pertanyaan (3 pertanyaan) dengan bimbingan guru.

Baca juga:  STAD, Tingkatkan Kemampuan Menghitung Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan

Pada langkah ke lima, guru meminta masing-masing kelompok untuk menujuk salah satu anggotanya untuk maju ke depan menceritakan kembali (Story Retelling) di depan kelas, dan memberikan pertanyaan kepada kelompok lain yang sebagai pendengar (Story listener).

Bagi kelompok yang mampu menjawab pertanyaan dengan benar berarti kelompok tersebut sebagai kelompok yang juga mampu memahami yang disampaikan oleh story reteller, dan tentu saja guru harus memberikan apresiasi terhadap kelompok tersebut dan juga kelompok yang sebagai story reteller.

Pada akhir pembelajaran guru memberikan umpan balik dan motivasi kepada peserta didik untuk selalu mempunyai rasa percaya diri untuk berbicara Bahasa Inggris karena bahasa adalah alat komunikasi dan bahasa inggtis adalah bahasa internasional sehingga sangat beruntung apabila peserta didik menguasainya. (pkn1/zal)

Guru Bahasa Inggris SMPN 1 Bandar, Kabupaten Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya