alexametrics

Pembelajaran Hak dan Kewajiban dengan Make A Match

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) yang cerdas, terampil, dan berkarakter sesuai yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Dalam pembelajaran tematik kelas 4 terdapat muatan pelajaran PKn dengan materi hak dan kewajiban warga. Pada materi tersebut, siswa dituntut untuk bisa memahami hak dan kewajiban sebagai warga di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.

Dalam proses pembelajaran tersebut, terdapat beberapa siswa yang kurang tertarik terhadap muatan pelajaran PKn, karena selama ini pelajaran PKn dianggap sebagai muatan pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata. Akibatnya, sering terdapat siswa merasa malas dalam pembelajaran. sehingga siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar dan juga mengakibatkan siswa kurang termotivasi dalam belajar sehingga hasil belajar siswa menjadi rendah.

Baca juga:  Video Pembelajaran Solusi Masa Pandemi Covid-19

Sebagian besar siswa kelas IV di SD Negeri Wonotunggal 02 merupakan siswa yang selalu aktif dan tidak menyukai pembelajaran yang hanya diam dan mendengarkan penjelasan dari guru. Sehingga siswa akan merasa bosan, mengantuk dan akan asyik bermain dengan teman sebangkunya, yang akhirnya akan berakibat hasil belajar yang dicapai siswa rendah.

Berdasar fakta tersebut, maka guru berusaha semaksimal mungkin untuk selalu mancari metode dan model pembelajaran yang aktif, kraeatif dan menyenangkan. Sehingga siswa merasa senang dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam pembelajaran tematik untuk muatan PKn, guru tidak hanya menyuruh siswa untuk membaca dan menghafalkan. Akan tetapi guru menggunakan model pembelajaran seperti permainan dengan mencari pasangan antara soal dan jawaban atau disebut dengan model Make A Match.

Baca juga:  Tingkatkan Hasil Belajar Pecahan dengan Alat Peraga Benda Konkret

Sebelum pembelajaran dimulai, guru mempersiapkan kartu soal dan kartu jawaban. Langkah pertama dalam pembelajaran adalah siswa disuruh membaca materi hak dan kewajiban selama 20 menit, kemudian siswa dibagi menjadi tiga kelompok. Setiap kelompok terdiri atas tujuh siswa. Kelompok pertama adalah kelompok yang memegang kartu soal. Kelompok dua memegang kartu jawaban, dan kelompok tiga sebagai tim penilai. Siswa nomor 1 pada kelompok pertama menunjukkan kartu soal, lalu siswa kelompok dua yang merasa memegang kartu jawaban dari siswa nomor 1 tersebut maju sebagai pasangannya. Kemudian tim penilai pertama menilai pasangan tersebut. Apabila benar, maka pasangan tersebut mendapat nilai atau poin. Apabila salah, maka pasangan tersebut kena hukuman yang berupa menyanyikan lagu wajib nasional.

Selanjutnya secara bergantian siswa nomor 2 dan nomor berikutnya melakukan kegiatan seperti pada siswa nomor 1 tersebut sampai siswa nomor 7. Sehingga semua siswa yang memegang kartu soal menemukan jawabannya pada kelompok dua. Setelah semua siswa menemukan pasangan masing-masing. Yang kelompok soal pindah ke kelompok jawaban, kelompok jawaban pindah ke tim penilai, dan tim penilai pindah ke kelompok soal. Begitu seterusnya sampai semua siswa merasakan menjadi kelompok soal, jawaban dan penilai. Dengan kegiatan tersebut, semua siswa terlihat asyik selama pembelajaran. Sehingga dua jam pelajaran tak terasa sudah selesai.

Baca juga:  Dukungan Orang Tua, Sukseskan Pembelajaran dari Rumah

Dari kegiatan tersebut, semua siswa mudah mengingat materi tanpa teknik hafalan. Sehingga 95 persen siswa mencapai nilai KKM yang ditentukan sekolah. Oleh karena itu dapat diambil kesimpulan bahwa dengan kegiatan permainan yang menyenangkan, siswa dapat dengan mudah mengingat daripada disuruh menghafalkannya. (pkn1/aro)

Guru SD Negeri Wonotunggal 02, Kabupaten Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya