alexametrics

STM Tingkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Belajar IPS

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Critical thinking atau berpikir kritis adalah salah satu dari tiga istilah 4C yang digadang sebagai keterampilan abad 21. Selain critical thinking, ada communication, collaboration, dan creativity, serta problem solving.

Keterampilan tersebut adalah kemampuan yang ingin dituju dalam Kurikulum 2013. Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan berpikir secara logis, reflektif, sistematis, dan produktif yang diaplikasikan dalam menilai situasi untuk membuat keputusan yang tepat.

Beberapa ciri berpikir kritis adalah penuh rasa ingin tahu dan ingin menjelajah atau bereksplorasi. Pada kenyataannya masih banyak kita temui peserta didik yang kurang dalam kemampuan berpikir kritis. Mereka kurang responsif terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Hal tersebut penulis temukan juga pada peserta didik kelas VIII SMP Negeri 1 Kedungjati. Untuk itu dalam pembelajaran IPS materi aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan berkaitan dengan kelangkaan sebagai permasalahan ekonomi penulis memilih pendekatan sains-teknologi-masyarakat (STM) agar kemampuan berpikir kritis peserta didik meningkat.

Baca juga:  Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid-19

STM dikembangkan sebagai sebuah pendekatan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berkaitan langsung dengan lingkungan nyata dengan cara melibatkan peran aktif peserta didik dalam mencari informasi untuk memecahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan kesehariannya. Sehingga memiliki bekal pengetahuan yang cukup guna mengambil keputusan penting tentang masalah tersebut. Sekaligus dapat mengambil tindakan sehubungan keputusan yang diambilnya. Rusmansyah (2003:1) mengatakan pendekatan sains teknologi dan masyarakat merupakan satu pendekatan pembelajaran yang dapat memberikan harapan untuk menciptakan manusia yang berkualitas dan peka terhadap masalah-masalah yang timbul di masyarakat.

Langkah-langkah pembelajaran yang penulis terapkan di kelas VIII B menggunakan pendekatan STM adalah pertama invitasi. Guru mengundang peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran. Menggali isu atau masalah terkait aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan berkaitan dengan kelangkaan sebagai permasalahan ekonomi sehingga peserta didik termotivasi untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kemudian eksplorasi. Peserta didik secara berkelompok dengan bimbingan guru merancang dan melakukan kegiatan eksperimen. Melakukan wawancara terhadap penjual grosir di pasar untuk memperoleh data tentang aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan berkaitan dengan kelangkaan sebagai permasalahan ekonomi. Sebagai informasi dan data pendukung tentang hal tersebut peserta didik mencarinya dengan berselancar di dunia maya.

Baca juga:  Belajar IPS Tidak Lagi Membosankan dengan Puzzle

Selanjutnya, pengajuan ekplanasi dan solusi. Peserta didik akan membangun sendiri pengetahuannya dengan diskusi kelompok mereka. Menjelaskan apa yang sedang terjadi atau mengapa hal tersebut bisa terjadi. Kemudian mencoba menemukan solusinya. Guru mengarahkan kelompok yang sekiranya bias atau bahkan keliru dalam penentuan solusi berdasarkan informasi yang diperolehnya.

Langkah berikutnya adalah tindak lanjut. Guru membantu peserta didik untuk menjelaskan fenomena sosial berdasarkan konsep-konsep yang baru saja mereka bangun. Selain itu juga menjelaskan berbagai aplikasi untuk memberikan makna terhadap informasi yang baru saja mereka peroleh, dan melakukan refleksi terhadap pemahaman konsep.
Pada akhir pembelajaran peserta didik memajang hasil kerjanya dengan percaya diri dan gembira. Itu menunjukkan pembelajaran yang telah dilaksanakan benar-benar membuat mereka merasa diberi kesempatan untuk berperan sebagai warga masyarakat. (slg2/lis)

Baca juga:  Bermain Sains Bisa Menumbuhkan Imajinasi Anak TK

Guru IPS SMP Negeri 1 Kedungjati

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya