alexametrics

Membangun Kemampuan Berpikir Kritis Melalui PBL

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pengembangan pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skill (HOTS) merupakan program yang dikembangkan oleh Kemendikbud melalui Ditjen GTK dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan meningkatkan kualitas lulusan. Program ini dikembangkan mengikuti arah kebijakan Kemendikbud yang pada tahun 2018 telah terintegrasi dengan Penguatan Pendidikan Karakter. Peningkatan kualitas peserta didik salah satunya dilakukan oleh guru dengan berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran di kelas yang beroirientasi pada keterampilan berfikir tingkat tinggi. Untuk itu peran guru sangat penting sebagai kunci keberhasilan belajar peserta didik dan menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Guru dituntut tidak hanya cerdas tapi juga adaptif terhadap perubahan utamanya yang menyangkut implementasi yang dinilai masih banyak kekurangan terutama kecenderungan guru yang masih banyak memberikan pembelajaran dengan menekankan aspek kognitif saja. Padahal dalam pembelajaran berorientasi HOTS seharusnya proses berfikir peserta didik berada pada level menganalis (C4), mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6). Dengan demikian guru harus terus menambah pengetahuan dan memperluas wawasannya, terlebih dengan adanya tuntutan kecakapan abad 21.

Baca juga:  Metode TPC dapat Tingkatkan Berpikir Kritis Siswa

Problem Based Learning (PBL) yang dikembangkan dalam Kurikulum 2013 menjadi salah satu model pembelajaran yang tepat untuk dipilih dalam melaksanakan pembelajaran berorientasi HOTS. Dalam PBL peserta didik dituntut mampu memecahkan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual).

Upaya membangun sikap kritis melalui PBL ini sudah penulis terapkan dalam pembelajaran PPKn Kelas IX Semester Genap di SMP Negeri 2 Reban pada kompetensi dasar menganalisis keberagaman masyarakat Indonesia dalam bingkai bhinneka tunggal ika. Adapun langkah-langkah yang penulis lakukan dalam pembelajaran dengan model PBL ini adalah pertama, pada tahap orientasi masalah, peserta didik dibagi menjadi 5 kelompok dengan anggota masing-masing 5-6 orang. Setiap kelompok diminta untuk mengamati dan memahami beberapa artikel terkait dengan konflik aktual yang terjadi terhadap keberagaman masyarakat Indonesia. Kedua, pada tahap pengorganisasian peserta didik berdiskusi mencari data baik melalui buku paket, internet maupun sumber referensi lainnya untuk menyelesaikan masalah terkait konflik dalam masyarakat yang meliputi faktor penyebab terjadinya konflik, akibat dari adanya konflik serta upaya pemecahan masalah terhadap konflik. Ketiga, guru melakukan pembimbingan terhadap peserta didik mengadakan penyelidikan baik secara individu maupun kelompok untuk melengkapi jawaban. Keempat, peserta didik melakukan diskusi untuk menganalisis dan menghasilkan solusi pemecahan masalah kemudian mengembangkan dan menyajikannya dalam bentuk laporan. Tahap kelima. Peserta didik melakukan evaluasi proses pemecahan masalah melalui kegiatan presentasi dan membuat kesimpulan.

Baca juga:  Model Pembelajaran PBL Bikin Siswa Antusias dan Berpikir Kritis

Berdasarkan pengalaman penulis tersebut, dapat disimpulkan bahwa ternyata benar jika penerapan model pembelajaran PBL ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi peserta didik untuk bertanya dan menanggapi topik yang dibahas dalam pembelajaran. (pkn2/ton)

Guru PPKn SMP Negeri 2 Reban

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya