alexametrics

Pembelajaran Huruf Hijaiyah melalui Metode Sorongan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN baca Al-Quran yang semula di fakuskan pada kegiatan mengajar, kini lebih banyak di fokuskan pada kegiatan siswa belajar. Pembelajaran yang berfokus pada kegiatan guru dalam mengajar telah lama di kritik banyak orang . Setiap kegagalan dalam belajar anak, selalu dicari pada guru dan pengatasannya pun selalu di lakukan pada sisi guru.

Akibat cara berfikir seperti ini kegagalan belajar  Al-Quran selalu terjadi sepanjang jaman, dan tidak teratasi secara tuntas. Kesalahan berfikir seperti itu, mendorong kita untuk memikirkan kembali bagaimana mengatasi kegagalan belajar siswa, tentunya apabila ada siswa yang belum berhasil dalam belajar membaca Al-Quran, cara mengatasannya pun harus di mulai dari siswa itu sendiri. Pembelajran baca Al-Quran yang berfokus pada pembelajar bukan berarti meniadakan peran guru,hanya saja apabila dalam tradisi lama peranan guru sebagai nara sumber, sekarang peranan guru lebih diarahkan sebagai motivator, dinamisator, organisator, fasolitator, mediator, evaluator dan lain- lain, sedang kan aktifitas belajar tetap di fokuskan pada pembelajaran. Untuk itu, dalam upaya meningkatkan prestasi siswa guru perlu menggunakan metode pembelajaran yang menambah suasana belajar siswa lebih menyenangkan dan lebih efektif, dengan harapan kondisi kegiatan belajar siswa akan lebih nikmat sesuai dengan keinginan belajar siswa. Seperti yang diterapkan di SDN Srondol Kulon 01 Semarang.

Baca juga:  Mengidentifikasi Cerita Fiksi Lebih Mudah Menggunakan Pop-Up Book

Berdasarkan pernyataan, penulis akan berinisiatif untuk mencoba metode pembelajaran Al-Quran dengan menggunakan metode sorongan.

Metode sorongan merupakan kegiatan pembelajaran bagi para siswa yang menitik beratkan pada pengembangan kemampuan perorangan (individu), di bawah bimbingan seorang guru (mentoring). Metode tersebut untuk mengetahui sejauh mana dampak metode sorongan yang di terapkan dalam belajar membaca Al-Quran terhadap prestasi siswa.

Menurut Marzuki Wahid, pembelajaran dengan sistem sorongan ini biasanya di selengara kan pada ruangan tertentu dimana disitu tersedia tempat duduk seorang guru, kemudian didepannya terdapat bangku untuk meletakan kitab bagi murid yang menghadapi. Dalam pelaksanaan metode ini dapat di gambarkan sebagai berikut:

Murid berkumpul ditempat yang di tentukan. Seorang yang mendapat giliran menghadap langsung secara tatap muka kepada gurunya. Guru membacakan teks dalam Al-Quran itu,baik secara melihat atau hafalan. Murid dengan tekun mendengsrksn apa yang dibacakan guru dan mencocokannya dengan Al-Quran yang dibawanya. Murid kemudian menirukan kembali apa yang dibacakan guru secara sama, kegiatan ini biasanya di ulang pada kegiatan berikutnya,sebelum dipindahkan pada pembelajaran selanjutnya. Guru mendengarkan dengan dengan tekan apa yang dibaca muridnya sambil melakukan koreksi seperlunya,setelah tampilan murid dapt di terima, tidak jarang juga seorang guru memberikan tambahan penjelasan agar apa yang dibaca dapat di mengerti.

Baca juga:  Cara Asyik Belajar Membaca untuk Siswa Kelas I

Ternyata dengan metode pembelajaran sorongan ini pencapaian hasil belajar PAI di SDN Srondol Kulon 01 siswa kelas II lebih baik dibandingkan dengan cara yang biasa dilakukan,artinya kegiatan pembelajaran disekolah selama ini masih di dasari paradigma lama bahwa pengetahuan merupakan perangkat fakta-fakta yang harus di hafal.kelas masih berfokus pada guru sebagai nara sumber utama pengetahuan. Sebaliknya metode sorongan ini memungkinkan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran lebih efektif. (by1/zal)

 

 

Guru PAI SDN Srondol Kulon 01 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya