alexametrics

Asyiknya Belajar Aritmetika Sosial dengan RME

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Banyak hal dilakukan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Salah satunya menciptakan suasana belajar yang baik.

Mengetahui kebiasaan dan kesenangan belajar siswa agar siswa bersemangat dan berkembang sepenuhnya dalam proses belajar langsung. Dalam proses pembelajaran, guru dihadapkan pada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Menurut teori belajar free discovery learning yang dicetuskan Bruner, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang dijumpai dalam dunia nyata.

Salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang sejalan dengan teori belajar Bruner adalah RME (Realistic Mathematics Education). RME dilahirkan di Belanda oleh Freudenthal. RME pada dasarnya adalah pemanfaatan realita dan lingkungan yang telah dipahami siswa untuk memperlancar proses pembelajaran matematika.

Baca juga:  Belajar Peta Indonesia Mudah dengan Menggunakan Permainan Puzzle

Yang dimaksud realita adalah hal-hal nyata atau konkret, yang dapat diamati atau dipahami siswa secara langsung. Sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan adalah kehidupan sehari-hari yang dialami atau dapat dipahami siswa.

RME memiliki karakteristik, menggunakan konteks real sebagai titik tolak belajar matematika, menekankan penyelesaian secara informal sebelum menggunakan rumus, ada upaya mengaitkan sesama topik dalam pembelajaran matematika, menghargai keberagaman jawaban siswa dan kontribusi siswa.

Aritmetika sosial merupakan suatu penerapan dasar-dasar perhitungan matematika yang ada di dalam kehidupan sosial sehari-hari, seperti perdagangan, perbankan dan yang lainnya. Aritmetika sosial di SMP meliputi harga pembelian, penjualan, untung, rugi dan persentasenya, perbankan, diskon dan perhitungan pajak.

Baca juga:  Metode Make a Match untuk Meningkatkan Motivasi Belajar PKn

Pendekatan RME dirasakan cocok untuk proses pembelajaran aritmetika sosial di kelas VII A dan VII B SMP Negeri 39 Semarang. Dalam proses pembelajaran RME dipadukan dengan model pembelajaran PjBL (Project Based Learning). Guru menyiapkan RPP yang dilengkapi dengan kisi-kisi, rubrik dan instrumen penilaian PjBL dan melakukan penilaian keterampilan.

Pada pelaksanaan pembelajaran model PjBL, siswa diajak untuk melakukan kegiatan pembelajaran mulai dari perencanaan, pembuatan produk, pelaksanaan jual beli, pengolahan data hasil jual beli untuk menemukan konsep untung-rugi. Pembahasan rangkaian pelaksanaan kegiatan dan penyusunan laporan. Kegiatan proyek dilakukan secara berkelompok. Tiap kelompok terdiri 4 anggota dan dilaksanakan dalam waktu 3 minggu.

Pengamatan guru, siswa menyukai kegiatan pembelajaran ini. Mereka asyik melakukan setiap tahap kegiatan dibuktikan dengan dokumen yang dilampirkan pada laporan. Mereka menyusun perencanaan dan strategi pemasaran produk secara bersama, menjual produksinya kepada temannya dan guru dengan penuh semangat. Pembahasan dilakukan dengan diskusi asyik dan menyusun laporan secara kerja sama dan menyenangkan. Setiap anggota memiliki kontribusi dalam presentasi. Seluruh siswa diberikan kesempatan untuk bertanya atau menyampaikan pendapatnya. Guru sebagai moderator memiliki peran yang besar.

Baca juga:  Whatsapp Video Call Efektifkan Pembelajaran “Introducing Self”

Laporan PjBL yang dibuat siswa sangat baik. Hasil penilaian keterampilan mengalami peningkatan dan terbukti pembelajaran dengan pendekatan RME juga mengasyikkan bagi siswa. Karena seolah-olah siswa menemukan sendiri konsep dan rumus aritmetika sosial melalui masalah konteks real yang diberikan guru di awal pembelajaran. (by2/lis)

 

 

Guru Matematika SMP Negeri 39 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya