alexametrics

Project Based Learning dalam Pembelajaran IPA

Artikel Lain

ADARSEMARANG.ID, Salah satu faktor penyebab rendahnya kemampuan peserta didik dalam memahami konsep-konsep IPA adalah model pembelajaran yang diterapkan guru kurang melibatkan peran aktif peserta didik. Oleh karena itu, perlu inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan kreativitas peserta didik dalam belajar. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk menangani hambatan tersebut adalah model Project based learning (PjBL).

PjBL merupakan model pembelajaran yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan kompleks, di mana peserta didik belajar dalam situasi problem nyata. Hal ini sesuai dengan prinsip yang mendasari pembelajaran berbasis proyek, yakni: pertama, pembelajaran berpusat pada peserta didik yang melibatkan tugas-tugas pada kehidupan nyata; kedua, tugas proyek menekankan pada kegiatan penelitian berdasarkan tema yang telah ditentukan; ketiga, penyelidikan dilakukan secara otentik dan menghasilkan produk nyata. Produk, laporan atau hasil karya tersebut selanjutnya dikomunikasikan untuk mendapat tanggapan dan umpan balik guna perbaikan proyek berikutnya.

Baca juga:  Mengembangkan Nilai-Nilai Nasionalisme melalui Role Play

Pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit, sebagian besar peserta didik hanya dapat memahami secara definisi saja, sehingga konsep materi tersebut akan mudah hilang dari ingatan peserta didik. Melalui kegiatan proyek, dari mempersiapkan alat dan bahan, merancang percobaan, melakukan percobaan, melakukan pengamatan, menganalisa data, dan membuat kesimpulan sendiri, serta mengkomunikasikan hasil percobaan melalui presentasi, maka peserta didik dapat mengkonstruk dan memadukan antara pengalaman, pengetahuan dan pengamatan secara langsung.

Pada pembelajaran proyek setidaknya terdapat tiga hal yang harus dinilai guru, penilaian kognitif, proyek, dan produk. Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: pertama, kemampuan pengelolaan, yakni kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan; kedua, relevansi yakni kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan; ketiga, keaslian yakni proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.

Baca juga:  Memanfaatkan Media Sosial YouTube dalam Pembelajaran Prakarya

Berdasarkan pengamatan selama dua kali kegiatan proyek, peserta didik telah menunjukkan kemampuan yang baik dalam menyelesaikannya. Hal tersebut dibuktikan dengan perolehan skor dengan rata-rata baik. Secara umum masing-masing kelompok telah mampu membuat rancangan proyek atas inisiatif mereka yang didukung dengan kemampuan menggunakan TIK yang cukup baik, menyiapkan alat/bahan, menggunakan alat/bahan, melakukan pengamatan dan analisis data, membuat laporan tertulis, dan mampu mempresentasikan data hasil pengamatan.

Sedangkan penilaian produk (appraisal), meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. Berdasarkan data penilaian dari tiga produk yang telah dibuat peserta didik dapat disimpulkan bahwa secara umum hasil karya peserta didik berupa alat uji hantar listrik, larutan indikator asam basa alami, dan batu baterai yang diisi kulit buah memenuhi kriteria baik, benar, dan layak digunakan. (st2/ton)

Baca juga:  Gunakan WA Group untuk Pembelajaran Efektif di Era Pandemi

Guru IPA SMP Kesatrian 1 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya