Pengembangan Produk Baru, Pentingkah di Masa Pandemi?

Oleh : Bayu Prestianto

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, ARTIKEL ini mencoba mengupas perubahan perubahan teknologi, perubahan politik/peraturan, perubahan persaingan, perubahan pelanggan (konsumen) dan perubahan sosiologis dan demografis, dengan mempertanyakan apakah ini menjadi sebuah ancaman atau peluang di lihat dari sisi manajemen terutama keputusan pengembangan produk baru.

Ancaman dan Peluang dalam Pengembangan Produk (Baru)

Jika terjadi sesuatu perubahan, sebuah makluk hidup tentu akan melakukan adaptasi. Adapatsi adalah proses yang sangat natural. Ini dilakukan oleh setiap makluk hidup untuk menjaga kehidupannya. Sama halnya dengan makluk hidup, produk yang mayoritas adalah benda mati (non-hayati), juga mempunyai tantangan yang sama. Perubahan yang adalah sesuatu yang pasti, akan memaksanya untuk beradaptasi. Produk atau bisnis yang tidak mampu beradaptasi akan digilas oleh perubahan tersebut, dan akhirnya mati.

Setiap produk tentu saja akan melewati fase daur hidupnya (Siklus Hidup Produk). Produk itu lahir, bertumbuh, dewasa dan pada akhirnya akan mati. Namun, tidak semua produk melewati tahapan ini. Ada produk yang lahir atau diperkenalkan, kemudian masuk ke fase decline (penurunan). Ada produk yang sampai dengan hari ini belum melewati fase decline atau masih pada fase pertumbuhan. Tetapi yang pasti bahwa produk akan mengalami siklus hidupnya. Bagi perusahaan, hal yang penting adalah agar perusahaan tetap hidup dan produk tetap ada dan bertahanan.

Baca juga:  Meningkatkan Minat Belajar IPA Melalui Alat Peraga di Masa Pandemi

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup sebuah produk. Barry Render dan Jay Heizer menyebutkan beberapa faktor tersebut, yaitu perubahan teknologi, perubahan politik/peraturan, perubahan persaingan, perubahan pelanggan (konsumen) dan perubahan sosiologis dan demografis.

Perubahan teknologi, misalkan munculnya teknologi baru dalam pencetakan gambar atau desain/digital printing ini menyebabkan produk papan reklame dengan teknik airbrush menjadi mati. Matinya taxi dan angkutan lainnya karena adanya teknologi digital yang diaplikasikan pada produk seperti Gojek dang Grap. Teknologi digital juga tidak hanya menyebabkan matinya produk, tetapi juga menciptakan banyak peluang baru di era sekarang ini.

Dimana orang harus berjarak, tidak berkerumn dan bergerombol, maka produk dan layananpun muncul di berbagai macam aplikasi digital berbasis Android atau Ios. Munculnya aplikasi Ruang Guru sebagai salah satu aplikasi dengan platform pendidikan yang mengembangkan produk baru bimbel secara digital. Hal ini tentu saja akan mengancam lembaga bimbingan belajar yang sudah ada yang masih off-line, yang mungkin kurang beradaptasi dengan adanya perubahan dan revolusi digital ini.

Perubahan politik/peraturan, di era pandemi, seperti yang terjadi sekarang ini. Pemerintah sebegai pemegang kebijakan tentu saja sangat berupaya dalam mengendalikan penyebaran penularan Covid-19. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah pusat pada waktu itu adalah memberlakukan PPKM Darurat. Beberapa waktu lalu bahkan pernah ada PPKM Mikro, sebelumnya lagi PSBB yang merupakan usulan dari pemerintah daerah. Apapun bentuknya, kebijakan ini pasti akan mempengaruhi perubahan mobilitas masyarakat, perubahan perilaku masyarakat.

Baca juga:  Peningkatan Kinerja Guru di Masa Pandemi dengan Pelatihan Mandiri Secara Daring

Banyak jalan yang ditutup membuat volume transaksi berkurang, omset jatuh. Hal ini mau ngak mau memaksa para pelaku ekonomi untuk memutar otak. Mencari cara apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup dalam bisnis sekarang ini. Inilah yang menjadi alasan pentingnya pengembangan produk baru untuk setiap bisnis. Seperti yang diuraikan di atas, bahwa dengan kebijakan ini juga menyebabkan kegiatan vacation, tourism megalami penurunan. Sekalipun ini adalah tantangan yang besar, dengan adanya teknologi digital, membantu perusahaan yang bergerak di bidang ini untuk tetap memberikan layanannya dan menciptakan layanan baru (pengembangan produk baru) dengan cara virtual tourism.

Perubahan persaingan atau munculnya produk subtitusi ini juga yang menyebabkan perusahan harus mau untuk melakukan pengembangan produk baru. Perubahan pelanggan (perubahan perilaku konsumen) merupakan masalah yang dasar dalam pengembangan produk baru. Banyak produk yang lahir biasanya dari pikiran pelanggan, bukan dari pikiran produsen. Banyak produk cenderung mengembangkan produk dari lead users, dan tentu saja ini ideal.
Perubahan sosiologis dan demografis bisa menjadi faktor lain yang mempengaruhi pengembangan produk baru.

Baca juga:  Campur Tangan Stereotip Terhadap Pemilihan Jurusan Sekolah

Perubahan ukuran keluarga menjadi masukan dalam pengembangan di binsis perumahan dan mobil keluarga. Perubahan sosial masyarakat, terjadinya penurunan consumer confidence, yang menyebabkan orang takut ke luar rumah, takut berkerumun, tetapi tetap ingin menikmati makan kesayangannya. Peluang ini ditangkap oleh bisnis restoran dengan menyediakan makan di rumah, dining at home, sebagai output dalam pengembangan produk barunya.

Akhir Kata

Pengembangan produk baru adalah kunci kesuksesan bisnis (key success factor). Meskipun ini adalah keputusan pertama yang harus dilakukan dalam membangun bisnis baru. Namun keputusan ini bukanlah keputusan final. Sebab perubahan sebuah keniscayaan dan pasti terjadi. Seperti halnya yang terjadi sekarang ini, dunia mengalami masa pandemi Covid-19. Ini adalah perubahan yang tidak dapat ditolak dan dihindari oleh siapapun termasuk pelaku bisnis. Sebagai pelaku bisnis, mestinya bisa melihat perubahan menjadi peluang, atau ancaman menjadi pemicu/trigger pengembangan bisnis. Untuk bertahan dan terus tumbuh di era sekarang ini, jawabannya adalah kemauan untuk pengembangan bisnis dengan cara pengembangan produk baru (new product development). (*/ida)

Dosen Program Studi Manajemen Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya