alexametrics

Freelancer Vs Korporasi, Antara Passion dan Stabilitas

Artikel Lain

Oleh: Muh Reza Aji Perdana

RADARSEMARANG.ID – Memiliki pekerjaan impian yang sesuai dengan passion adalah mimpi bagi banyak orang, akan tetapi kenyataannya banyak juga pekerja yang mendapati pekerjaan yang tidak sesuai dengan passion bahkan tidak sesuai dengan background keilmuan yang dipelajari sebelumnya. Hal ini terjadi karena adanya ketidak seimbangan antara lulusan yang dihasilkan setiap tahun dengan lapangan pekerjaan yang tersedia.

Hal ini memicu orang untuk berpikir kreatif dengan mencari pekerjaan dengan pilihan yang semakin sempit atau mencoba hal baru dengan ranah kerja yang benar-benar berbeda dengan definisi bekerja di paradigma masyarakat Indonesia.

Paradigma yang melekat pada seseorang yang dianggap bekerja adalah bekerja kantoran, berseragam, ruangan ber AC, seperti karyawan pada umumnya, dan pekerjaan selain itu dianggap tidak terlalu menjanjikan untuk masa depan. Akan tetapi ada kalanya pekerjaan yang dianggap remeh sebenarnya bisa menghasilkan lebih besar daripada kerja kantoran.

Saat ini perkembangan teknologi yang sangat pesat dimana jarak sudah bukan lagi menjadi masalah asalkan terdapat koneksi internet, yang bisa mempertemukan walaupun tidak secara fisik orang yang terpisah antar kota, negara bahkan benua.

Hal ini juga mendorong berkembangnya pekerjaan dengan model remote, atau pekerjaan yang diselesaikan secara online, para pekerja ini lebih familiar disebut dengan freelance atau freelancer.

Freelance adalah pekerja lepas, atau pekerja yang tidak terpaku oleh waktu. Tidak terikat oleh waktu dan tidak dinilai dari waktu kehadiran, melainkan dinilai dari hasil dan ketepatan waktu dalam pengumpulan pekerjaan, atau sesuai deadline.

Berkembangnya zaman dan teknologi, freelancer sudah tak lagi dipandang sebelah mata seperti zaman dahulu kala. Kini penyampaian informasi yang cenderung lebih sering disampaikan secara digital dan virtual, membuat pekerja freelance semakin banyak dicari.

Pelaku freelance atau freelancer ini sering dibutuhkan karena dianggap sudah ahli dalam bidangnya. Memiliki banyak pengalaman dan hasil kerja atau project yang memuaskan menjadi daya tarik tersendiri bagi seseorang.

Memilih pekerjaan korporasi maupun freelance adalah hak dari masing – masing individu, karena pada dasarnya bekerja adalah dalam upaya pemenuhan kebutuhan, masing masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing masing, disini saya kan mencoba merangkum perbedaan mendasar korporasi dan freelance, beserta kelebihan dan kekurangan berdasarkan pengalaman saya pribadi dan salah satu sahabat saya Lizha yang menekuni pekerjaan di dunia freelance.

Baca juga:  E-PBL Berketemu Ilmiah Solusi Pembelajaran Era Pandemi

1. FLEXIBILITAS

Hal yang paling membedakan antara pekerja korporasi dan freelance adalah flexibilitas, mengapa demikian? Karena bekerja di korporasi minimal bekerja 8 jam dalam sehari, dari hari senin sampai jumat, terkadang ada juga yang sampai hari sabtu, bahkan jika bekerja di produksi atau pabrik bisa lebih dari 8 jam dalam sehari. Sedangkan untuk freelancer jam kerja bisa memilih sesuai dengan kebutuhan, atau bahkan bebas asalkan deadline dari pekerjaan yang diberikan tercapai.

Tidak terpaku pada jam kerja per hari, tidak ada pressure dari atasan, bebas memilih tempat kerja, dirumah, kafe, atau bahkan disambi staycation, deadline bisa memilih sesuai dengan kapabilitas atau jadwal yang diinginkan. Jadi rutinitas kerja tidak monoton, bisa belajar keterampilan baru diluar kapabilitas yang sekarang dimiliki.

2. GAJI

Untuk pekerja korporasi tentu saja mendapatkan gaji bulanan sesuai dengan kontrak yang disepakati, sesuai dengan bidang pekerjaan, ditambah tunjangan, jam lembur, dan tentu saja dipotong pajak. Sedangkan freelance gajinya bervariasi tergantung dari jenis proyek yang dihandle, juga dipengaruhi dengan tingkat pengalaman di bidang pekerjaan tersebut, semakin expert seseorang maka fee yang didapatkan semakin besar, kita contohkan pekerjaan entry data tentu penghasilan yang didapatkan berbeda dengan konsultan, dimana untuk entry data digaji per banyaknya data yang berhasil diinput, sedangkan untuk konsultan penghasilan dipatok perjam, untuk nominalnya bervariasi, untuk entry data rata-rata 100$ per 1000 data sedangkan konsultan bisa mencapai 1000$ per jam.

3. JENJANG KARIR

Pada pekerjaan korporasi tentu saja jenjang karir lebih jelas karena memang ada organisasi yang mengatur serta hirarki kepemimpinan yang jelas. Sedangkan pada freelance tidak ada jenjang karir yang jelas, penghasilan berdasarkan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan. Walalupun ada kalanya juga sudah bekerja bertahun-tahun jabatan tidak kunjung naik contohnya pekerja buruh pabrik. Sedangkan pada freelance expertise juga mempengaruhi pekerjaan yang bisa diambil oleh freelancer. Juga jika pada pekerja korporasi tidak bisa mempelajari talent baru atau field pekerjaan diluar jobdescnya, sedangkan pada freelance sangatlah bebas, bisa mempelajari hal baru sesuai dengan passion yang diminati.

Baca juga:  Penegakan Hukum bagi Pelanggar Prokes dengan Pendekatan Hukum Progresif

4. ORGANISASIONAL CULTURE

Pada perusahaan yang sudah bonafide tentu struktur organisasinya sangat banyak, besar dan luas, karena menaungi banyak divisi kerja yang membuat birokrasi lebih panjang dan rumit, apalagi jika cross divisi dengan culture hormat kepada atasan atau hirarki kepemimpinan yang sangat terasa karena memang strukturnya sudah ada. Sedangkan pada freelance hampir tidak ada hirarki, semua menghandle pekerjaan yang mirip, hanya mungkin ada koordinator untuk tiap daerah atau project manager yang menjadi ujung dari setiap progress pekerjaan. perbedaan ini untuk korporasi bisa sangat membebani jika atasan gila hormat, sedangkan pada freelance akan sangat enjoy di pekerjaan karena kebanyakan berumur sama dan dengan passion yang sama.

5. WORK-LIFE BALANCE

Bekerja terus menerus tanpa adanya stress release bisa berakibat buruk, tidak hanya pada kesehatan tetapi juga bisa mempengaruhi performa kerja. Maka dari itu munculah teori work-life balance, Work-life balance adalah suatu keadaan di mana seseorang dapat mengatur dan membagi antara tanggung jawab pekerjaan, kehidupan keluarga dan tanggung jawab lainnya. Sederhananya, ini adalah suatu kondisi di mana seorang pekerja bisa mengatur waktu dan energi yang seimbang antara pekerjaan, kebutuhan pribadi, rekreasi, dan kehidupan berkeluarga. Pada pekerja korporasi yang jam kerjanya teratur terkadang masih ditambah lembur atau pekerjaan tambahan lain akan lebih sulit untuk membagi waktu dengan prioritas lain, bahkan ada yang pekerjaan dianggap lebih utama dari keluarga. Sedangkan pada pekerja freelance akan lebih mudah mengatur jadwal untuk mewujudkan work-life balance karena flexibilitas waktu yang ada.

6. MILENIAL

Pekerjaan sebagai freelancer sangat diminati kaum milenial, karena tidak terikat waktu, tempat dan jenis pekerjaan, sebagai freelancer bisa mengerjakan project dimana saja, asalkan ada koneksi dan saranan yang memadai, hal ini yang banyak mendorong milenial menjadi freelancer sekaligus traveler dengan slogan staycation. Terlepas dari itu semua itu kembali pada pilihan masing-masing, karena ada juga milenial yang memilih bekerja kantoran, semua itu kembali pada pada passion masing-masing. Bahkan ada kalanya passion dikesampingkan demi memenuhi kebutuhan hidup.

Baca juga:  Ajaran Puasa Tentang Etika Bisnis

Pada dasarnya bekerja sebagai apapun di bidang apapun itu tidak masalah, selama pekerjaan yang dilakukan halal dan menghasilkan. Yang salah itu mau hidup enak tapi tidak bekerja, atau memanfaatkan orang lain untuk mempermudah pekerjaan kita. Bekerja korporasi maupun freelance masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Bahkan mungkin freelance sampai saat ini masih dianggap sebelah mata disbanding pekerjaan korporasi.

Terkadang juga ada saat pekerja korporasi melihat freelancer seperti wah enak ya kerjanya bisa disambi jalan-jalan, mungkin tanpa tahu sebanyak apa pekerjaan yang diambil agar bisa terlihat seperti itu, mungkin juga ada kalanya freelancer melihat pekerja korporasi wah enak ya setiap bulan dapat gaji tetap, tidak perlu memikirkan setelah project ini lanjut project apalagi agar pemasukan tetap ada. Padahal juga dihajar lembur, bahkan mengejar produksi sampai tidak pulang ke rumah. Begitulah hidup, terkadang kita hanya melihat enaknya saja, tanpa melihat perjuangan dibalik itu semua.

Pilihlah pekerjaan sesuai dengan passion jika memungkinkan, karena jika kita bekerja sesuai passion kita akan enjoy dan happy dalam menjalaninya, karena jika tidak sesuai passion pasti akan terasa tertekan dan stress dalam melakukannya. Saran dari penulis yang merupakan mantan budak korporat bekerjalah dengan tanggung jawab, karena setiap pekerjaan akan dimintai tanggung jawab.

Tulisan ini dibuat bukan untuk memojokkan salah satu jenis pekerjaan atau organisasi, akan tetapi lebih kepada memberi pandangan baru kepada para pekerja atau calon pekerja sebagai bahan pertimbangan dalam memilih pekerjaan di masa yang akan datang. Agar pertimbangan memilih pekerjaan bukan hanya soal besarnya gaji, tapi lebih luas lagi, kenyamanan dan keamanan dalam bekerja harus menjadi pokok pertimbangan yang harus diikut sertakan. (*/bas)

Mahasiswa Magister Manajemen UNNISULA Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya