alexametrics

Peranan Perempuan dalam Pembangunan Dunia Konstruksi di Indonesia

Artikel Lain

Oleh: Agung Riyadi, SST

RADARSEMARANG.ID – Konsep Gender adalah segala sesuatu (peran) yang dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki laki, yang bisa berubah dari waktu ke waktu serta berbeda dari suatu kelas (ekonomi, sosial, politik) ke kelas yang lain. Untuk peran perempuan lebih banyak ke sektor domestic sedangkan pria ke sektor publik.

Dewasa ini tidak jarang dijumpai juga wanita pekerja konstruksi. Pekerjaan konstruksi memiliki faktor-faktor kompleks yang mempengaruhi pekerja wanita baik pendukung maupun penghambatnya, dan secara langsung berpengaruh terhadap kinerja pekerja. Sehingga perlu dilakukan kajian terhadap permasalahan ini. Tujuan dari penelitian ini adalah menanggapi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja pekerja wanita pada perusahaan konstruksi di indonesia.

Perempuan dalam pembangunan, bagaimana melibatkan perempuan, seperti partisipasi, peran bisa sekedar hadir, mendengarkan. Perspektif keadilan antara laki laki dan perempuan karena pembagian peran yang tidak imbang atau tidak setara menimbulkan masalah dan yang dibutuhkan adalah perspektif gender. Perspektif perempuan karena akibat ketidakadilan gender perempuan lebih banyak dirugikan dan menjadi korban Subordinasi, Marginalisasi, Stereotype, Beban Ganda, kekerasan terhadap perempuan

Beberapa tahun terakhir terdapat kecenderungan tenaga kerja wanita mencari kerja sektor teknik. Salah satunya adalah dalam bidang konstruksi. Kecenderungan tersebut juga dapat dilihat dari bertambahnya persentase wanita pada pendidikan bidang konstruksi, seperti Teknik Sipil dan Arsitektur. Pertambahan tersebut berarti

Juga pertambahan jumlah wanita yang memiliki peluang bekerja di bidang proyek konstruksi. Para wanita tersebut tentu saja berharap tidak ada lagi aspek gender dalam kegiatan proyek konstruksi, sehingga mereka memiliki peluang yang sama dengan pria.

Baca juga:  Koalisi, Kompetensi dan Kompetisi

Hal yang perlu menjadi perhatian utama bagi perusahaan konstruksi adalah meningkatkan kinerja dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya, secara strategis yaitu dengan mengadakan kegiatan pelatihan baik formal dan informal terhadap tenaga kurang terampil menjadi tenaga terampil sehingga memiliki kualitas baik.

Pekerjaan pada proyek konstruksi terbagi menjadi dua kelompok yaitu pekerjaan di kantor dan pekerjaan di lapangan. Wanita yang bekerja di kantor umumnya memperoleh peluang yang sama, bahkan lebih baik dibandingkan pria. Karakteristik wanita seperti teliti, cermat, dan sabar, memberikan kontribusi yang cukup besar bagi wanita dalam mencapai kesuksesan berkarier di kantor. Namun, tidak mudah bagi seorang wanita untuk bekerja dan berkembang di lapangan,

karena sifat dasar konstruksi yang identik dengan pekerjaan kasar, dilakukan di ruang terbuka dan didominasi kaum pria, menjadi hambatan bagi kaum wanita yang pada dasarnya dibesarkan dengan cara yang feminin.

Strategi karier wanita dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan faktor eksternal. Faktor-faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri wanita itu sendiri seperti karakteristik dan kemampuan, sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri Wanita.

Secara umum dunia konstruksi dianggap sebagai suatu profesi yang hanya ditujukan bagi kaum pria, sehingga hanya sedikit saja jumlah wanita yang menempuh pendidikan dan memilih bekerja di proyek konstruksi. Wanita profesional pada umumnya terlibat dalam jenis pekerjaan di proyek konstruksi yang berhubungan dengan administrasi, disain, dan pendidikan; dimana jam kerjanya lebih memungkinkan untuk wanita yang mempunyai peran ganda sebagai ibu rumah tangga untuk membagi waktunya.

Baca juga:  Pentingnya Transformasi Digital Perusahaan dan Membangun Budaya Teamwork di Tempat Kerja

Akibat dominasi kaum pria pada pekerjaan konstruksi, secara informal budaya kerja yang terbentuk didalamnya sudah menjadi budaya kerja pria. Hal ini menjadi sebuah halangan tersendiri bagi wanita untuk dapat bergabung didalamnya karena wanita harus menyesuaikan diri dengan cara kerja, kebutuhan dan pola karier pria. Selain itu, budaya kerja organisasi dibentuk berdasarkan karakteristik dan kebijakan kaum pria.

Pada umumnya di Indonesia, employers lebih suka mempekerjakan pria dalam proyek konstruksi, meskipun jenis pekerjaannya berhubungan dengan estimating, pemetaan, cost control dan pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan ketelitian. Keseganan employers dalam mempekerjakan kaum wanita menjadi hambatan yang cukup besar bagi kaum wanita untuk dapat memasuki dunia konstruksi.

Disamping itu anggapan dari supervisors mengenai kemampuan wanita dalam bekerja dan kodrat wanita sebagai kaum lemah, pengikut suami dan feminin juga menjadi hambatan bagi pengembangan karier wanita di dunia konstruksi dan membatasi para wanita untuk dapat dipromosikan. Pandangan employers mengenai kemampuan wanita sangat mempengaruhi kesuksesan karier wanita.

Hambatan yang sering dialami wanita dalam berkarier di proyek konstruksi pada dasarnya disebabkan oleh hal-hal umum seperti usia, kesehatan, mengandung dan melahirkan, mendidik dan membesarkan anak, keamanan ditempat kerja, ketidakpuasan terhadap pekerjaan, keahlian teknis yang dimiliki oleh wanita, dan pelecehan di tempat kerja. Diskriminasi atau ketidaksamaan dengan pria sering kali juga menjadi hambatan bagi wanita di berbagai bidang pekerjaan secara umum.

Baca juga:  Tahun Baru dan Momentum Akuntansi Keluarga

Diskriminasi yang sering dialami oleh wanita pada perusahaan kontraktor adalah dalam hal kewenangan dan pembagian tanggung jawab terutama yang berhubungan dengan pekerjaan di lapangan yang lebih sering diserahkan kepada kaum pria sebagai rekan kerjanya. Pada perusahaan konsultan diskriminasi yang paling sering dihadapi wanita adalah dalam hal pelatihan. Diskriminasi atau ketidaksamaan dengan kaum pria sering kali menjadi hambatan bagi wanita di berbagai bidang pekerjaan secara umum.

Kesimpulan yang bisa diambil adalah Peluang berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan yang pada umumnya dilakukan oleh pimpinan kontraktor atau penanggung jawab konsultan, keterwakilan wanita hanya sedikit keseluruhan jumlah pimpinan kontraktor atau penanggung jawab konsultan.

Pria dan wanita memiliki kemampuan yang sama dalam mengatur bawahan, komitmen kerja, keahlian teknis, kompetensi, dan kerjasama (team work). Dibandingkan dengan wanita, pria memiliki kemampuan menggunakan logika, bertahan menghadapi tekanan, kepemimpinan, dan pengalaman kerja di lapangan yang lebih baik. Dalam hal ketelitian, wanita cenderung lebih teliti dibandingkan dengan pria. (*/bas)

Mahasiswa Magister Manajemen Unissula Angkatan 74

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya