alexametrics

Dengan Kepemimpinan Transformasional, Menyongsong Era New Normal

Artikel Lain

Oleh : Yudi Prihanto SE

RADARSEMARANG.ID –  Krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19 telah mengubah seluruh aspek kehidupan. Bahkan, hampir semua negara di seluruh dunia merencanakan ulang proyek strategis dan melakukan refocusing anggaran yang sudah ditetapkan, diganti dengan kebijakan tanggap darurat. Masing-masing negara melakukan revisi anggaran pendapatan belanja negara (APBN).

Anggaran negara difokuskan untuk mengatasi pandemi Covid-19. Mengingat obat paten untuk mengatasi Covid-19 belum ditemukan. Jalan terbaik yang dapat diupayakan masing-masing negara untuk melindungi warganya adalah dengan cara pencegahan.

Krisis ini menjadi salah satu titik balik dalam sejarah. Sebagaimana pendapat beberapa ahli, dimana krisis ini mampu mengubah norma sosial dan ekonomi sehingga memicu terbentuknya era manusia baru. Dengan adanya beberapa perubahan atau tranformasi baru ini yang kemudian lahir istilah “New Normal” yakni suatu perubahan prilaku yang tetap menjalankan aktivitasnya secara normal dan tetap harus menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Dengan adanya sistem sosial, ekonomi, dan kesehatan yang hampir runtuh, kini terbentuk global baru. Namun global baru ini bergantung pada keputusan-keputusan yang diambil para pemimpin bangsa.

Baca juga:  Pendidik Juga Manusia

Karena sistem dan prosedur kerja menjadi berantakan oleh pandemi Covid-19. Terjadi kerusakan pada tatanan organisasi, entitas, serta sistem kerja, pada seluruh elemen, termasuk lembaga swasta. Dalam pandemi Covid-19 ini, sangat bergantung dengan cara para pemimpin menanggapi krisis. Karena itu, inilah saatnya bagi para pemimpin untuk menunjukkan skill dalam mengatasi keterbatasan dan ketakutan masyarakat. Pemerintah harus bisa mendorong para pekerja meningkatkan kinerja, dan para pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) bisa tetap survive hidupnya dengan skill baru.

Pada masa new normal ini, orang yang tetap eksis bukan yang paling kuat ototnya, melainkan yang paling adaptif terhadap perubahan. Orang yang berubah lebih dahulu, leadership-nya akan sukses. Selain mau berubah, seorang pemimpin transformasional harus memiliki keberanian. Tak hanya itu, seseorang pemimpin di masa new normal harus bisa bisa transformatif, tidak mengerjakan segalanya seorang sendiri.

Sebagaimana ciri-ciri pemimpin transformasional lainnya, pemimpin harus bisa bertindak atas sistem nilai, bukan atas dasar kepentingan individu atau atas dasar kepentingan serta desakan kroninya. Mampu mendorong stakeholder untuk berkiprah atas sistem nilai. Mengapa dengan sistem nilai? Karena tatanan masyarakat yang dibangun dengan sistem nilai, jauh lebih tahan banting, lebih kuat, dibandingkan mereka yang berkiprah atas dasar uang.

Baca juga:  Campur Tangan Stereotip Terhadap Pemilihan Jurusan Sekolah

Meski begitu, seorang pemimpin juga harus terus meningkatkan kemampuannya secara terus menerus sepanjang hayatnya.

Hal ini telah menjadi prinsip dalam Islam, bahwa setiap orang harus belajar dari lahir sampai liang lahat. Artinya, seseorang pemimpin wajib meng-upgrade kemampuannya dalam meghadapi situasi yang rumit, tidak jelas, serta tak menentu.
Ini bedanya antara orang yang punya leadership yang baik dengan yang tidak.

Bisa dengan mengkomparasikan leadership kepimpinanan pada banyak negara saat menghadapi Covid-19. Sejauh mana afektivitasnya dalam mengambil kebijakan, memiliki berani tampil pada keadaan yang rumit atau tidak. Apakah memiliki visi untuk masa depan bangsa selanjutnya. Sebab, masa new normal ini lebih dibutuhkan visi baru yang adaptif terhadap keadaan, mampu merangsang bawahannya untuk bergerak maju dengan cara pandang baru yang ditopang dengan oleh kecerdasan intelektualitas dan kecerdasan emosional.

Baca juga:  Pentingnya Transformasi Digital Perusahaan dan Membangun Budaya Teamwork di Tempat Kerja

Dan pemimpin transformasional harus mampu mempersepsikan dirinya menjadi individu yang bisa mendukung dan memberikan perhatian pada bawahan menggunakan pertimbangan individual, melalui anugerah motivasi inspirasional, serta kharisma.

Kepemimpinan transformasional adalah jenis atau pola kepemimpinan yang terdiri atas empat komponen yakni, pertama, Idealized Influence, sosok seorang pemimpin digambarkan sebagai seorang yang memiliki pengaruh dan dapat menjadi figur percontohan bagi bawahannya yang dihormati dan dikagumi. Kedua, Inspirational Motivation karakter pemimpin harus dapat menjadi seorang inspirator yang bisa memotivasi bawahannya untuk mendapatkan ide-ide baru. Ketiga, Intellectual Stimulation seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan menstimulasi/merangsang bawahannya untuk berpikir kritis dan penuh inovasi serta dapat membingkai ulang sesuatu hal dengan cara pandang yang baru. Dan keempat, Individualized Consideration, karakter seorang pemimpin harus dapat mengenali hal-hal yang berbeda dari setiap individu dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginannya serta membangun situasi yang kondusif dalam hal kesempatan belajar para bawahannya. (*/ida)

Mahasiswa Magister Manajemen Unissula Angkatan 74 Tahun 2021

 

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya