alexametrics

Interpersonal Skill di Perpustakaan

Oleh : Yaculine, S.Sos

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Waktu penulis kuliah, ada dosen namanya Agus Rusmana dan Ninis Agustini Damayanti. Dua dosen ini favorit mahasiswa jurusan Ilmu Perpustakaan pada kelas paralel Fikom Unpad. Kedua dosen ini selain penampilannya menarik juga gaya mengajarnya asyik. Paling utama, kedua dosen ini selalu memotivasi mahasiswanya bahwa seorang pustakawan harus bisa bergaya dan berkomunikasi seperti selebritis. Wow keren habis deh, tapi apa mungkin? “Ya mungkin saja jika pustakawan itu memiliki interpersonal skill yang baik,” kata Bu Ninis. Nah baik coba kita simak apa sih interpersonal skill, dan bagaimana proses interpersonal skill di perpustakaan.

Komunikasi interpersonal. Dalam kehidupan sehari-hari manusia senantiasa melakukan komunikasi dengan sesamanya. Karena manusia merupakan makhluk sosial dan dalam istilah komunikasi diartikan sebagai komunikasi interpersonal. Dua individu yang saling berkomunikasi atau melakukan interaksi dan saling bertukar ide, pandangan melalui tatap muka maupun menggunakan alat komunikasi. Komunikasi intrapersonal. Merupakan komunikasi yang berlangsung antardiri manusia itu sendiri.

Baca juga:  Pentingnya Perpustakaan di Kantor Kelurahan

Dalam proses pengambilan keputusan, seringkali seseorang dihadapkan pada pilihan ya atau tidak. Keadaan semacam ini membawa seseorang pada situasi berkomunikasi dengan diri sendiri. Cara ini hanya bisa dilakukan dengan metode komunikasi intrapersonal atau komunikasi dengan diri sendiri.

Interpersonal skill atau kemampuan seseorang dalam berkomunikasi inilah yang bisa mengantarkan seseorang berhasil dalam melakukan komunikasi antarpersonal. Dengan kemampuan komunikasi yang baik dan performance yang menarik maka akan tercipta komunikasi yang harmonis.

Intrapersonal skill yang baik dapat memengaruhi komunikan merupakan suatu keberhasilan bagi sebuah institusi dalam memberikan pelayanan, dan juga kepuasan bagi komunikan itu sendiri dan kesan tersendiri. Sehingga komunikan akan mengulang lagi untuk datang melakukan komunikasi.

Perpustakaan merupakan institusi. Berarti ada aktivitas manajemen di dalamnya. Komunikasi di perpustakaan bisa terjadi antara kepala perpustakaan, dengan staf. Demikian sebaliknya, komunikasi antarpustakawan, kepala perpustakaan dan pustakawan dan yang lebih penting adalah komunikasi antarpustakawan dan pemustaka/masyarakat. Karena perpustakaan merupakan institusi pelayanan publik yang memberikan jasa layanan informasi kepada pemustaka/masyarakat.

Baca juga:  Pemberdayaan PD Nasyiatul Aisyiyah Kota Magelang sebagai Kader Trainer Parenting oleh LPPM UAD

Model komunikasi yang terjadi di perpustakaan yaitu model komunikasi dari teori Harold D. Lasswell. Komponen komunikasi dari teori Harold D.Lasswell yaitu komunikator, pesan, sarana, penerima, dan efek. Komunikator yaitu pustakawan menyampaikan pesan menggunakan sarana bisa berupa data atau informasi tercetak kepada penerima atau pemustaka/masyarakat yang akan menimbulkan efek atau kesan.
Untuk menimbulkan kesan yang positif terhadap layanan di perpustakaan, pustakawan hendaknya memiliki penampilan yang menarik, berpakaian rapi, aroma badan yang menyegarkan, tutur kata yang baik dan sopan. Juga menguasai ruang lingkup lingkungan sekitar tempat kerjanya.

Image dapat tercipta dengan sikap pustakawan yang berpenampilan menarik, tutur bahasa yang lemah lembut dan menjalin keakraban dengan pemustaka/masyarakat. Serta memberikan pelayanan yang lebih dalam artian memberikan pujian kembali kepada pemustaka/masyarakat.
Era revolusi industri 4.0 perpustakaan bukan lagi sebagai tempat baca dan menulis, tapi tempat ilmu pengetahuan, pusat kegiatan masyarakat dan pusat kebudayaan. Perpustakaan dirancang lebih berdaya guna bagi masyarakat. Perpustakaan memfasilitasi masyarakat mengembangkan potensi yang dimiliki, serta menjadi wadah menemukan solusi dari permasalahan kehidupan masyarakat.

Baca juga:  Pengelola Perpustakaan Desa Juga Harus Melek Teknologi

Di era kenormalan baru ini ada tiga literasi yang harus dipahami oleh pustakawan. Yaitu pertama, literasi manusia yang merupakan kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif dan inovatif. Kedua literasi data. Kemampuan membaca, menulis, menganalisis, dan menggunakan informasi di dunia digital. Ketiga literasi digital. Membaca cara kerja mesin aplikasi teknologi (programing, aflicatif intelligance, engineering principle).

Jadi benar apa yang disampaikan kedua dosen penulis, bahwa pustakawan berinteraksi dengan banyak orang maka harus bisa berkomunikasi dengan baik. Memiliki penampilan yang menarik seperti selebritis. Paling tidak berpenampilan seperti resepsonis sebuah bank atau perusahaan swasta. Karena perpustakaan tidak bersifat statis tapi mengikuti perkembangan zaman dan teknologi informasi. Salam sehat, salam literasi. Literasi untuk kesejahteraan. (*/lis)

Pustakawan Ahli Madya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya