alexametrics

Self Enpowerement dengan Nilai Spiritual Islami

Artikel Lain

Oleh: Johan Triyadi

RADARSEMARANG.ID – Seringkali kita mendengar pepatah dari Cina “Orang-orang yang kuat mencari sesuatu (potensi) di dalam dirinya sendiri. Sementara orang yang lemah mencari sesuatu (potensi) pada diri orang lain.” – Confucius , hal ini banyak sekali diucapkan kepada orang lain terhadap kita saat kita mengalami hal berat dan belum menemukan solusi. Atau bahkan tidak jarangpun seorang trainer memberikan hal tersebut di saat melakukan progam pelatihan motivasi di suatu organisasi.

Tentu hal ini bukan suatu jawaban pasti, kondisi seperti ini bukan tergantung apa yang orang lain lakukan terhadap kita , namun lebih kepada apa yang kita lakukan pada diri sendiri, attitude bagaimana kita merespon suatu permasalahan atau tekanan negative lah yang paling penting. Selain hal itu kondisi psikologis kita juga akan mempengaruhi daya tahan kita saat pikiran (IQ) dan mental (EQ) kita berbenturan dengan masalah, disini kita membutuhkan apa itu nilai spiritual (SQ).

SQ mendorong seseorang untuk mengeksplorasi dirinya agar bisa menemukan dan mengembangkan potensi terbaik hingga akhirnya hidup pun menjadi lebih bermakna, hal ini yang bias memicu meningkatnya Self Enpowering. Pemberdayaan diri atau self empowerment sendiri adalah suatu konsep memaksimalkan memanfaatkan segala potensi dalam diri untuk meningkatkan produktivitas dengan segenap keyakinan yang ada dalam diri.

Ada beberapa kriteria orang yang mampu memberdayakan dirinya:

  1. Sense of meaning artinya bahwa seseorang peka akan siap dirinya. Who am I dia paham betul.
  2. Sense of competensi artinya bahwa seseorang mampu memahami kompetensi dalam diri hingga akhirnya   dia   menjadikan   kompetensi   tersebut    untuk    meraih
  3. Sense of determination. Artinya bahwa seseorang mampu untuk meyakini pilihan-pilihan yang ada dalam hidupnya. Dia merasa  yakin  bahwa  pilihannya  tersebut  adalah  yang  terbaik.
  4. Self of impact. Artinya kepekaan dalam diri untuk mampu menghasilkan atau memproduksi sesuatu yang lebih baik
Baca juga:  Peluang dan Ancaman Jawa Tengah di Pusaran Perang Dagang

Konsep self empowerment itu sendiri akan menjadi lebih kuat jika dibarengi dengan Nilai Spiritual ,yaitu suatu bentuk keyakinan diri untuk mencapai sikap yang positif. Ada beberapa point didalam niali spiritual islami yang bisa meningkatkan bentuk Self Enpowerement seperti berikut:

Pertama , ingatlah bahwa ujian hanya diberikan kepada orang yang mampu menghadapinya. “Yang tidak sanggup tidak akan dititipkan (masalah). Jadi pada saat kita dihadapkan dengan masalah maka sense of meaning kita harus mengingat bahwa dengan di ada permasalahan tersebut sudah ditakdirkan untuk kita hadapi. Lalu Jika seorang menyadari dengan sungguh-sungguh, di balik tiap kesulitan akan selalu ada kemudahan.

Ini tentu asalkan ia tetap mau berikhtiar, mengerahkan kemampuan yang ada, disertai dengan penyerahan diri (tawakal) kepada Allah SWT. Firman Allah dalam surah Alam Nasyrah [94]: 5-6, artinya, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Dengan berpondasi nilai spiritual tersebut akan memicu terjadinya kepercayaan terhadap diri sendiri yang bias mendorong self empowerment

Baca juga:  Tren Teknologi Informasi terhadap Pembelajaran Daring pada Masa Pandemi Covid-19 di Indonesia

Kedua Underlying Characteristics mengandung makna kompetensi adalah bagian dari kepribadian yang mendalam dan melekat kepada seseorang serta perilaku yang dapat diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas pekerjaan, meningkatkan Sense of competensi didalam pengetahuan akan tergantung dari akal .

Manusia adalah makhluk Tuhan yang diciptakan dengan kesempurnaannya. Kesempurnaan tersebut disebabkan manusia dianugrahi potensi yang tidak diberikan kepada makhluq Tuhan yang lainnya. Akal merupakan kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia. Dalam surat Al-Israa’ ayat 70 Allah SWT berfirman yang artinya “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Israa’ : 70).

Dari ayat tersebut dapat dikatakan bahwa akal merupakan kelebihan yang diberikan Allah SWT kepada manusia dan sekaligus menjadi faktor pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Karena itu, Allah SWT mendorong manusia agar bersedia menggunakan

akalnya untuk berpikir. Tidak sedikit ayat-ayat dalam Alquran yang menunjukkan dorongan kepada manusia agar menggunakan akalnya untuk hal-hal yang berguna. Salah satunya adalah surat An-Nahl ayat 12 yang artinya,

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (QS. An-Nahl : 12)

Baca juga:  Adakan Kajian Ilmiah, FAI Unissula Undang Profesor Global University Lebanon

Agar akal dapat memiliki fungsi yang maksimal maka diperlukan pemandu atau pembimbing. Dalam Islam, yang menjadi pemandu atau pembimbing akal adalah Al Qur’an dan as-Sunnah. Tanpa adanya bimbingan dari Alquran dan as-Sunnah, maka akal menjadi tidak berfungsi. Syaikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,

“Akal tidaklah bisa berdiri sendiri, akal baru bisa berfungsi jika dia memiliki naluri dan kekuatan sebagaimana mata bisa berfungsi jika ada cahaya. Apabila akal mendapatkan cahaya iman dan Al-Qur’an barulah akal bisa seperti mata yang mendapatkan cahaya matahari. Jika tanpa cahaya tersebut, akal tidak akan bisa melihat atau mengetahui sesuatu.” (Majmu’ Fatwa, Ibnu Taimiyah).

Dengan sense kompetensi nilai spiritual islami dapat mengukur kemampuan peserta untuk memilih jawaban yang paling benar tetapi tidak bias melihat apakah sesorang dapat melakukan pekerjaan berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya

Ketiga, Jadi kalau Anda mengalami kesulitan tidak pernah tuntas, yang salah bukan Allah, yang salah Anda karena Anda tidak mau keluar dari kesulitan itu, Seseorang yang memiliki self empowerment tinggi maka dia memiliki tingkat kecemasan yang rendah yang akhirnya juga jauh dari kondisi stres begitupun sebaliknya jika seseorang memiliki self empowerment yang rendah maka seseorang tersebut mudah cemas dan akibatnyapun mudah dilanda stres. Untuk itu mari kita bersama-sama bangkit dimulai dengan mengukir kekuatan dalam diri. (*/bas)

Mahasiswa Magister Manajemen Universitas islam Sultan Agung Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya