alexametrics

Dampak Rob Terhadap Kerusakan Sarana Prasarana dan Ekosistem

Oleh: Prof. Dr. Edy Lisdiyono, SH.M.Hum dan Ir. Bambang Widodo, MT

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SECARA umum penyebab terjadinya rob adalah air laut pasang, penurunan situs (land-subsidence), terjadinya hujan yang berkepanjangan, dan drainase yang kurang memadahi. Baik dari segi dimensi maupun kemiringan dasar saluran/sungai menuju laut, sehingga terjadi back water, dan juga karena adanya pemanasan global. Kondisi tersebut menimbulkan permasalahan lingkungan hidup.

Selama ini, persoalan rob di Semarang Utara, khususnya wilayah Kelurahan Tanjung Mas, Bandarharjo Dadapsari, Panggung Lor, Tanjung Mas, semakin hari semakin tak terkendali. Masyarakat sudah tidak ada jalan lagi untuk mengatasinya. Tentu pemerintah yang harus berusaha dan melakukan tindakan untuk mengatasi persoalan rob.

Sebagian wilayah Semarang Utara masih terdampak rob. Air masuk ke permukiman, bahkan ke rumah-rumah penduduk. Kondisi ini telah berlangsung cukup lama, sehingga mengakibatkan aktivitas dan akses masyarakat sangat terganggu. Termasuk kerusakan bangunan dan sisi lingkungan hidup.

Tim Akademisi Untag Semarang telah melakukan pengabdian dan pendampingan kepada masyarakat yang terdampak rob di wilayah Semarang Utara, khususnya Kelurahan Tanjung Mas. Rob merupakan masalah yang belum teratasi dan menimbulkan berbagai kerugian. Tujuan pengabdian dan pendampingan kepada masyarakat terdampak rob adalah untuk merumuskan arahan adaptasi masyarakat yang dapat meningkatkan resiliensi sosial.

Respon masyarakat dalam menghadapi rob sangat beragam, sesuai dengan pengalaman hidup yang dirasakan oleh masing-masing individu. Bahkan ada salah satu warga berpendapat bahwa rob adalah telah menjadi bagian kehidupan di lingkungannya, karena setiap sore air rob selalu masuk rumahnya, mau tidak mau harus beradaptasi dengan bajir rob.

Baca juga:  Pengembangan Sumber Daya Pendidikan melalui The 4 Disciplines of Execution

Depresi sebagai salah satu dampak dari kondisi banjir rob yang terus menerus secara berkala dialami tampaknya menjadi satu masalah psikologis tersendiri. Individu yang mengalami depresi menunjukan sedih dan suasana hati apatis, konsep diri negatif, perubahan tingkat aktivitas misalnya menjadi lamban lesu atau agitas (Davidson, Neale & Ann, 2003).

Sepertinya untuk mengatasi rob perlu belajar dari negara Belanda yang sudah berhasil mengatasi permasalahan rob. Belanda adalah sebuah negara berdataran rendah karena sekitar 60% wilayahnya terletak di bawah permukaan laut. Karena kondisi tersebut belanda sering mengalami banjir ROB (Banjir Air Laut). Banjir ROB terparah yang pernah di alami belanda terjadi pada tahun 1953. Hal ini memaksa masyarakat Belanda menciptakan teknologi agar tetap bisa bertahan hidup dan tidak tenggelam.

Beberapa teknologi yang diciptakan Belanda guna mencegah luapan air dari laut utara antara lain: Mengeringkan air laut menggunakan pompa hidrolik yang digerakkan oleh kincir angin. Membangun benteng untuk menahan volume air yang mungkin akan menerjang Belanda. Membuat tanggul dan bendungan yang dapat dibuka tutup sesuai kebutuhan.

Jenis teknologi yang diklaim paling berpengaruh untuk mengatasi banjir di Belanda adalah tanggul air yang dapat dibuka tutup. Tanggul ini akan menutup secara otomatis ketika air laut mengalami pasang. Sebaliknya, ketika air laut surut, tanggul akan terbuka.

Baca juga:  Pertanian Jawa Tengah Tetap Tegar di Masa Pandemi

Berkat teknologi tersebut, Rotterdam yang notabene wilayah Industri di Belanda bisa disulap menjadi kota yang indah. Jauh dari kesan kumuh dan terbebas dari banjir. Teknologi seperti ini mungkin dapat diaplikasikan pada Indonesia, khususnya untuk wilayah pesisir yang rawan banjir rob. Contohnya di pesisir Semarang Utara.

Adapun dampak yang diakibat rob bisa meliputi berbagai aspek kehidupan seperti mengubah fisik lingkungan, penurunan kualitas lingkungan hidup, dan kerugian ekonomi serta dampak kesehatan.

Banjir rob juga bisa menyebabkan terganggunya lalu lintas di beberapa titik yang tergenang air bahkan kerusakan jalan. Kerugian ekonomi prasarana dan sarana permukiman seperti jalan becek dan selalu tergenang air sehingga menggangu kelancaran lalu lintas.

Fenomena rob ini terjadi sejak tahun 1996. Setiap tahun terjadi penurunan tanah. Sehingga berkejaran antara menaikkan lantai rumah dengan naiknya air pasang karena dipastikan air akan masuk rumah, dan jalan lingkungan penghubung antar kapung, sehingga mengganggu aktivitas dan kenyawanan warga, karena genangan air pasang.

Demikian juga jalan lingkungan dalam kawasan perumahan diupayakan untuk ditinggikan, agar terhindar dari genangan air pasang, konsekuensi ini mengakibatkan lantai rumah dengan jalan tidak seimbang. Bagi warga yang mampu bisa bertahan untuk bertempat tinggal di daerah genangan rob, akan tetapi bagi warga yang tidak mampu pasti berpengaruh terhadap kondisi kesehatannya.

Baca juga:  Rumah Sehat Anti Stunting (RS AS): Solusi Cerdas Tingkatkan Kesehatan Ibu dan Anak

Banjir rob juga dapat berpangaruh terhadap kebutuhan air bersih. Pengaruhnya berupa kedalam pipa bertambah akibat pengurugan lahan, air tanah rasanya berubah jadi asin / payau, dan peralatan air bersih cepat rusak terkena korosi.

Dampak pada penggunaan lahan dapat divaluasikan secara ekonomi sehingga dapat diketahui besar kerugian dalam rupiah yang dialami oleh masyarakat yang terdampak rob. Penggunaan lahan berupa jalan menghasilkan besar kerugian mencapai miliar rupiah. Banjir rob yang terjadi di pesisir Semarang bagian utara mengalami peningkatan frekuensi dan luasan terdampaknya.

Hal itu mendorong masyarakat untuk melakukan adaptasi terhadap banjir rob terdampaknya. Terhadap kerusakan lingkungan sudah sangat jelas pasti terjadi, yaitu adanya degradasi lingkungan, mengganggu keseimbangan ekosistem. Perubahan yang terjadi pada ekosistem dapat mempengaruhi keseimbangannya.

Ketidakseimbangan ekosistem dapat terjadi apabila salah satu komponen pada ekosistem tersebut rusak. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru.

Perubahan ekosistem dapat terjadi secara alami atau dapat juga akibat aktivitas dan tindakan manusia. Munculnya suatu anomali atau keanehan di suatu ekosistemitulah salah satu dampak negatif dari ketidakseimbangan ekosistem ini, oleh karena itu maka dari itu ekosistem harus selalu dijaga keseimbangannya di setiap waktu. (*/zal)

Guru Besar Ilmu Hukum dan Dosen Fakultas Teknik Untag Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya