alexametrics

Mencegah Depresi Postpartum pada Ibu Melahirkan, Sebuah Silent Problem?

Oleh: Monica Kartini

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Depresi merupakan masalah kesehatan mental yang sangat umum terjadi di seluruh dunia, dan merupakan penyebab utama disabilitas (https://www.who.int/health-topics/mental-health#tab=tab_1).

Diperkirakan sekitar 3,8% populasi di dunia mengalami depresi, meliputi 5,0% orang dewasa dan 5,7% dewasa lanjut (usia lebih dari 60 tahun). Institute of Health Metrics and Evaluation (2021) memperkirakan bahwa sekitar 280 juta orang di dunia mengalami depresi.

Depresi yang berulang dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang serius, orang dapat sangat menderita, tidak dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan baik di sekolah, tempat kerja, dan keluarga. Dalam tingkat yang sangat buruk, depresi dapat mengarah ke bunuh diri.

Sekitar 75% orang dengan depresi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak mendapatkan perawatan karena berbagai hal: stigma sosial, kurangnya pengetahuan, kurangnya sumber daya, dan sebagainya. Termasuk diantaranya adalah depresi postpartum.

Seringkali ibu postpartum mengalami depresi berat namun tidak mendapatkan perawatan yang efektif. Kehamilan, melahirkan dan pasca melahirkan merupakan peristiwa alamiah sehingga seringkali perubahan mood yang mengarah pada depresi diabaikan oleh orang-orang di sekeliling ibu.

Sebuah review sistematik yang dilakukan oleh Gaynes (2005) menunjukkan bahwa prevalensi depresi postpartum atau depresi setelah melahirkan adalah sebesar 19,2% dalam 12 minggu pertama post melahirkan. Sedangkan data di Indonesia menurut Gondo (2012) sebanyak 3%-11% ibu mengalami depresi postpartum.

Data tersebut sesuai dengan sebuah penelitian yang dilakukan di Temanggung oleh penulis dan dosen lain dari STIKES Ngesti Waluyo, yang menunjukkan bahwa 5% ibu berisiko berat mengalami depresi postpartum (sebagaimana diterbitkan dalam Journal of Epidemiology and Public Health Vol. 5 No. 1, hal. 97-105).

Angka 5% ibu yang berisiko berat mengalami depresi postpartum ini dapat dikatakan cukup besar dan dapat menjadi silent problem. Hal ini karena data ini berasal dari ibu-ibu postpartum yang tinggal di keluarga atau masyarakat, bukan di rumah sakit.

Secara umum, depresi dapat diakibatkan karena interaksi yang kompleks antara faktor sosial, psikologi, dan biologi.

Faktor risiko munculnya depresi postpartum sendiri juga beragam, diantaranya adalah pekerjaan ibu, dukungan keluarga dan tingkat pendidikan suami.

Sedangkan dari penelitian penulis pada ibu-ibu di wilayah Kabupaten Temanggung, selain dukungan keluarga, faktor risiko utama munculnya depresi postpartum ini adalah parenting self-efficacy (PSE) pada ibu (keyakinan orang tua untuk dapat melaksanakan perannya sebagai orang tua dengan baik).

Rendahnya PSE akan meningkatkan risiko depresi pada ibu. Selain itu, PSE juga berkorelasi dengan kecemasan pada ibu dan rasa ketidakamanan (insecurity) dalam suatu relasi atau hubungan.

Sebaliknya, individu yang memiliki self-efficacy yang tinggi akan menjadi individu yang lebih baik dan lebih kuat Ketika menghadapi kesulitan atau tantangan, menjadi individu yang lebih positif dan produktif.

Oleh karena itu penting sekali untuk menanamkan pentingnya self-efficacy pada individu, terutama pada ibu di masa kehamilan-kelahiran-postpartum.

Lalu bagaimana bisa mencegah depresi postpartum dan meningkatkan parenting self-efficacy ini? Dukungan keluarga yang tinggi dan upaya peningkatan PSE menjadi kunci penting menjaga kesehatan mental ibu dan mencegah depresi postpartum.

Berikan dukungan keluarga pada ibu yang baru melahirkan, dengan cara memahami ibu, tidak menyalahkan ibu, memberikan kata-kata yang men-support ibu, membantu ibu dalam proses laktasi, memperhatikan dan membantu memenuhi kebutuhan akan istirahat dan tidur pada ibu, serta khususnya bagi suami atau anggota keluarga lain, sangat penting untuk membantu ibu dalam merawat bayi pada waktu malam hari.

Dukungan keluarga ini selain berkorelasi langsung dengan berkurangnya risiko depresi postpartum, juga berpengaruh terhadap peningkatan PSE ibu.

Parenting self-efficacy (PSE) sendiri dapat ditingkatkan misalnya dengan melakukan memberikan Pendidikan Kesehatan tentang perawatan bayi dan tentang self-efficacy itu sendiri.

Penelitian yang dilakukan oleh penulis terhadap 68 ibu yang menikah pada usia dini di Kabupaten Temanggung mendapatkan hasil bahwa ibu yang diberikan Pendidikan Kesehatan tentang perawatan bayi akan meningkat PSE-nya dibandingkan ibu yang hanya mendapatkan informasi berupa bahan bacaan (booklet) saja (artikel terbit di jurnal GSTF JNHC Vol. 4 No. 2 Tahun 2017).

Pendidikan Kesehatan tentang perawatan bayi ini akan sangat tepat bila diintegrasikan dengan kelas ibu hamil ataupun kelas ibu postpartum (kelas ibu bayi) yang saat ini juga menjadi program Puskesmas.

Ibu-ibu, terutama ibu yang baru pertama kali memiliki bayi, sangat memerlukan pengetahuan tentang bagaimana merawat bayi, bagaimana memandikan bayi, mengenali bayinya sehat atau sakit, mengambil tindakan bila ada tanda bayi tidak sehat, menyusui bayinya, dan sebagainya. (*)

Dosen STIKES Ngesti Waluyo

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya