alexametrics

Katarsis Seorang Ilustrator atau Desainer Fashion

Oleh : Ari Eko Budiyanto, S.Pd, M.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kebutuhan manusia untuk mengungkapkan perasaan keindahan tampaknya berlaku secara universal dan berlangsung lama. Berekspresi estetik merupakan salah satu kebutuhan manusia yang tergolong ke dalam kebutuhan integratif.

Kebutuhan integratif ini muncul karena adanya dorongan dalam diri manusia yang secara hakiki senantiasa ingin merefleksikan keberadaannya sebagai makhluk yang bermoral, berakal, dan berperasaan.

Kebutuhan estetik, secara langsung maupun tidak langsung terserap dalam kegiatan-kegiatan pemenuhan kebutuhan lainnya. Baik dalam kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, maupun kebutuhan integratif lainnya yang berkaitan dengan perasaan baik dan benar, adil dan tidak adil, serta masuk akal atau tidak masuk akal (Tjetjep: 9).

Kesenian adalah milik masyarakat, walaupun kenyataan empirik yang menjadi pendukung kesenian itu adalah individu-individu warga masyarakat yang bersangkutan. Dalam kenyataan empirik, kesenian dapat dilihat sebagai cara hidup, yang bertalian dengan keindahan dari masyarakat. Dalam konteks kesenian, reaksi-reaksi yang muncul dan dilandasi oleh pengalaman dan motivasi yang berbeda terhadap suatu permasalahan melahirkan aneka ragam bentuk kreasi seni.

Baca juga:  Study Komparatif: Indonesia Bercermin dari Pendidikan di Finlandia

Sama halnya dengan seorang ilustrastor design maupun seorang desainer fashion. Dalam berkesenian atau menciptakan suatu karya seni terapan yaitu “fashion”. Para pegiat dan pelaku fashion memberi kesempatan pada dirinya untuk melepaskan dorongan-dorongan libidonya bertransformasi melalui ego.

Freud (dalam Tjetep: 15) mengungkapkan bahwa proses transformasi ini dikenal sebagai sublimasi. Yaitu proses mengarahkan energi naluriah dorongan egoistik instinkif dari tujuan-tujuan seksual ke tujuan-tujuan yang lebih tinggi seperti halnya kesenian, agama, moral dan sebagainya, yang mempunyai kemanfaatan secara sosial serta sesuai dengan kegiatan, pikiran dan cita-cita yang disepakati bersama.

Melalui sublimasi rangsangan-rangsangan dari nafsu libido bertransformasi dalam suatu proses semacam sexual intercourse, sehingga dorongan pemuasan nafsu libido ini akan sampai pada titik klimaks sexual orgasm dalam bentuk yang bernilai. Pencapaian ini disebut juga katarsis, yaitu pelepasan emosi sehingga orang menjadi lega (Read, 1970: 176-181, Wirahadikusuma,1992:27-28).

Baca juga:  Digitalisasi Tugas Kepolisian menuju Polri yang Presisi

Bagi para pelaku seni khususnya di bidang fashion eksternalisasi dorongan libido melalui sublimasi ini dapat menghasilkan berbagai kreasi seni terbuka peluang-peluang bagi pengembangan pribadi dalam berkesenian. Yang hasilnya diuji dan diuji kembali melalui simbol-simbol dalam sistem pemberian makna bersama. Inilah yang menyebabkan timbulnya berbagai gaya individual dalam ciptaan atau tampilan seni.

Bagi mereka suatu proses dalam berkesenian atau menciptakan suatu karya lebih mereka gandrungi, dalam berproses setiap ilustrator atau desainer fashion bisa mengeksplore bahan sesuai gaya/karakter yang mereka inginkan sesuai dengan ide-idenya. (unw/lis)

Dosen Pend. Vokasional Desain Fashion S1 Universitas Ngudi Waluyo

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya