alexametrics

Pertanian dan Big Data

Oleh : Eko Hermawati AS

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, “Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa. Apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi, maka malapetaka. Oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner.” Kutipan pidato Ir. Soekarno pada saat peletakan batu pertama gedung Fakultas Pertanian IPB pada 27 April 1952, masih relevan hingga saat ini. Persoalan pangan merupakan masalah krusial untuk diselesaikan.

Tanpa kelaparan, juga merupakan salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan/sustainable development goals (TPB/SDGs). Pembangunan berkelanjutan ini merupakan agenda 2030 yang menjadi kesepakatan pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan.

Agenda SDGs sendiri ditetapkan oleh PBB dan dilakukan oleh negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Ketersediaan pangan merupakan salah satu penunjang terwujudnya tujuan dari SDGs tersebut.

Jumlah penduduk Indonesia, hasil sensus penduduk tahun 2020 sebesar 270,20 juta jiwa. Sebanyak 69,28 persen penduduk Indonesia merupakan penduduk usia produktif (15-64 tahun). Penduduk sebesar itu, membutuhkan jumlah pangan yang besar pula. Komoditas beras merupakan konsumsi terbesar masyarakat Indonesia baik di pedesaan maupun perkotaan.

Baca juga:  Ironi, Banyak Pengangguran Berpendidikan Tinggi

Rata-rata jumlah konsumsi beras tahun 2020 penduduk pedesaan adalah 1,666 kilogram. Sedangkan untuk penduduk perkotaan sebesar 1,379 kilogram. Produksi padi pada tahun 2020 berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area diperkirakan 54.65 juta ton gabah kering giling (GKG). Jika dikonversikan dengan beras, mencapai sekitar 31,33 juta ton. Padi masih menjadi produk yang diminati untuk ditanam oleh penduduk Indonesia.

Persoalan pangan, tentu tidak bisa lepas dari petani sebagai pelaku serta produsen pangan. Berdasarkan data hasil survei pertanian antar-sensus tahun 2018, petani utama yang berumur kurang dari 35 tahun sebanyak 11,64 persen. Serta sebesar 64,2 persen petani utama berumur lebih dari 45 tahun.

Hal ini menunjukkan sektor pertanian belum menarik generasi muda masa kini untuk terjun di sektor tersebut. Berdasarkan kepemilikan lahan, sebagian besar petani di Indonesia merupakan petani gurem. Yaitu petani yang memiliki lahan kurang dari 2 hektare. Sebanyak 89,09 persen rumah tangga tani merupakan petani gurem. Sisi baiknya, 3,12 persen petani berpendidikan di atas SMA. Tentunya ini menjadi kekuatan tersendiri untuk sektor pertanian.

Baca juga:  Dampak Covid-19, Angka Kemiskinan Sragen Melonjak 119,380 Ribu

Dilihat dari kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memberi kontribusi 1,70 persen terhadap perekonomian Indonesia tahun 2020. Pertanian merupakan sektor yang memberi kinerja cukup baik di tengah pandemi Covid-19. Sektor pertanian tumbuh positif sebesar 1,75 persen di tengah kontraksi perekonomian Indonesia 2,07 persen (BPS, 2021).

Salah satu kata bijak mengatakan hal yang tidak pernah berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Revolusi Industri 4.0 mengakibatkan perkembangan teknologi dan informasi menjadi semakin cepat. Perubahan tidak bisa dihindarkan. Sektor pertanian juga harus mengikuti perubahan agar menjadi lebih baik. Dukungan sarana dan prasarana untuk mengakses teknologi informasi semakin banyak. Dari hasil pendataan potensi desa, sebanyak 94,92 persen desa menerima sinyal internet. Bahkan 7 dari 10 desa di Indonesia sudah bisa menerima sinyal 4G.

Baca juga:  Kredit Pertanian BRI Tembus Rp 117,54 Triliun, Pembiayaan Rice Mill Jangkau Lebih dari 40 Ribu Nasabah

Dengan dukungan teknologi yang mumpuni, tentunya kebijakan di bidang pertanian, dapat disusun dengan lebih baik menggunakan big data. Big data memiliki karakteristik dasar yaitu volume, velocity, dan variety. Volume merupakan ukuran data yang cukup besar, velocity merupakan kecepatan data, dan variety merupakan jenis data yang beragam.

Pemanfaatan big data pada sektor pertanian dengan memanfaatkan data yang tersebar mengenai suhu dan kelembapan. Data suhu dan kelembapan jangka panjang dapat menjadi dasar untuk membentuk siklus panen pertanian padi dan produktivitas padi untuk memperkuat ketahanan pangan di Indonesia. Optimalisasi pemanfaatan big data tentunya bisa menjadi salah satu jalan untuk pertanian yang lebih baik. Dan magnet bagi generasi muda untuk bergerak di bidang pertanian, di tengah terbatasnya lahan yang dimiliki para petani. (pm1/lis)

Statistisi Muda BPS Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya