alexametrics

Keberhasilan Pemprov Jateng dalam Penanganan Covid-19 dengan Pemberlakuan PPKM

Oleh: Brigadir Taruna Alvernio Daffa Noya

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, TREN kasus aktif Covid-19 di Indonesia semakin turun. Begitu pula dengan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis level yang juga menurun.

Bagaimana dengan Jawa Tengah? Mengutip laman www.covid19.go.id, Jawa Tengah menjadi salah satu penyumbang kasus harian yang tingkat kesembuhannya cukup tinggi.

Tepatnya, provinsi yang dipimpin oleh Gubernur Ganjar Pranowo ini bertengger di posisi lima besar nasional. Setidaknya, rilis dari laman www.covid19.go.id per 6 September 2021 mencatat, selain Jawa Tengah, ada Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, dan DKI Jakarta.

Rinciannya, Jawa Barat menambahkan tingkat kesembuhan 1.698 orang. Kumulatifnya 670.000 orang. Berikutnya, Sumatera Utara menambahkan 1.375 orang. Kumulatifnya: 79.010 orang. Jawa Tengah menambahkan 978 orang.

Kumulatifnya 425.839 orang. Jawa Timur menambahkan 969 orang, kumulatifnya 351.141 orang. Serta DKI Jakarta menambahkan 735 orang. Kumulatifnya 835.470 orang.

Sebaran kasus Covid-19 di Jawa Tengah, update Selasa, 7 September 2021 pukul 16.00 yang bersumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mencatat, pasien terkonfimasi positif (dirawat dan isoman) ada penambahan 751. Kumulatifnya, 7.147. Sedangkan pasien sembuh 978 atau hampir 1000 jiwa. Pasien meninggal secara total relatif kecil, terjadi penambahan 71 orang. Kumulatifnya, 31.210.

Bagaimana Jateng bisa menekan persebaran Covid-19? Tentu tidak mudah. Upaya Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menginisiasi program Jogo Tonggo dinilai cukup berperan. Jogo Tonggo merupakan inovasi pemberantasan Covid-19 berbasis kewilayahan. Melalui Instruksi Gubernur Nomor 1 Tahun 2020, dibentuklah Satgas Jogo Tonggo. Warga di wilayah RW diberdayakan.

Baca juga:  SP2020 Menuju Satu Data Kependudukan Indonesia

Program ini mengedepankan partisipasi aktif warga untuk saling menjaga penularan Covid-19. Jika ada yang terinfeksi virus korona, warga saling menjaga dengan memberikan perhatian. Serta tidak memberikan stigma pada mereka yang tertular.

Warga juga dengan suka rela menyediakan makanan kepada warga yang tengah menjalani isolasi mandiri. Program ini menjadi salah satu juara dalam acara Top Inovasi Pelayanan Publik, Inovasi Penanganan Covid-19 tingkat nasional.

Nah, saat gelombang kedua korona menggila pada medio Juni-Agustus, dengan temuan varian baru delta yang menjangkiti warga Kudus dan menyebar ke sejumlah kota lain di Jawa Tengah, Pemprov Jateng sudah punya “amunisi” untuk mengendalikan. Jogo Tonggo tinggal dimasifkan. Lebih terarah dan sistematis.

PPKM berbasis wilayah terkecil dilakukan. Berbasis desa/kelurahan. Fasilitas akses ditambah. Penyediaan oksigen diperbanyak. Obat-obatan disediakan. Tempat isolasi terpusat diperbanyak.

Gubernur Ganjar bahkan melakukan langkah berani. Menutup keluar akses pintu masuk tol di wilayah Jawa Tengah. Sebuah upaya yang memang tidak populis. Namun cukup efektif menekan mobilitas warga.

Sinergitas dengan institusi/lembaga pemerintah maupun swasta, lebih diintensifkan. Kepolisian Republik Indonesia melalui Polda Jawa Tengah bahkan secara khusus menginisiasi program Kampung Siaga Candi.

Keberadaan Kampung Siaga Candi dirasakan mampu menjadi jurus ampuh dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi sosial warga. Kampung Siaga Candi dibina oleh Babinsa dan Babinkamtibmas yang tentu saja melibatkan Polri, TNI, dan pemerintah daerah.

Baca juga:  Silturshop Tingkatkan Kreativitas dan Produktivitas Guru

Di Kampung Siaga Candi, pergerakan warga benar-benar dipantau. Mulai pengecekan suhu tubuh, penyediaan ruang isolasi, pembagian sembako, bahan pangan, serta vitamin. Upaya Polda Jateng menginisiasi program Kampung Siaga Candi mendapatkan apresiasi positif oleh Kapolri. Program yang diharapkan ditiru oleh kepolisian daerah lainnya.

Kolaborasi dan sinergitas yang efektif antara Polri, TNI, dan pemerintah provinsi serta pemerintah daerah dalam program vaksinasi juga mempercepat penekanan persebaran Covid-19 di Jateng. Di provinsi ini, target vaksinasi mencapai 28 juta orang. Hingga saat ini, baru sekitar 7,7 juta warga yang sudah divaksin dosis pertama; dan 4,5 juta warga dosis kedua. Gubernur sendiri berharap adanya penambahan vaksin hingga 2,5 juta per minggu.

Jika targetnya pada Desember 2021 harus selesai, maka Jateng butuh 2,5 juta dosis vaksin per minggu. Dengan catatan, jika dengan kiriman yang saat ini hanya 1 juta sampai 1,6 juta per minggu, maka target selesai vaksinasi sampai akhir tahun akan sulit tercapai.

Maka, berbagai upaya musti terus dilakukan. Salah satunya, melakukan pendampingan di kota-kota yang vaksinasinya masih rendah. Salah satunya, Brebes. Upaya lain, tentu door to door vaksinasi ke wilayah-wilayah yang sulit terjangkau. Tujuannya, agar vaksinasi benar-benar merata. Yang menggembirakan, kota/kabupaten di Jawa Tengah sudah banyak yang turun level.

Baca juga:  Mengajar Penerjemahan di Era Google Translate

Terakhir, Kota Magelang yang sebelumnya bertengger di level 4, sudah turun ke level 3. Bahkan, Kota Semarang, ibu kota provinsi, mencatatkan prestasi menggembirakan. Kota ini sudah berpredikat level 2. Dengan begitu, maka wisata di Kota Atlas sudah dibuka. Mal-mal juga begitu, durasi makan di tempat ditambah menjadi 60 menit, pembelajaran tatap muka (PTM) sudah mulai dilakukan, dan sebagainya. Imbasnya, ekonomi bergeliat.

Apakah itu cukup? Belum. Kewaspadaan masyarakat menjadi hal utama. Dalam masa transisi, masyarakat musti hidup berdampingan dengan Covid-19. Sudah sepatutnya kita semua mempersiapkan diri. Memang tidak mudah. Asal semua elemen masyarakat mau bekerja sama dan memupuk rasa tanggung jawab pandemi, semua pasti bisa teratasi. Bentuk tanggung jawab warga, bisa tecermin dalam komitmen menjalankan protokol kesehatan di setiap aspek kehidupan. Termasuk di dalam rumah, perjalanan, maupun beraktivitas di luar rumah.

Setiap institusi maupun pengelola fasilitas publik juga musti intens melakukan pengawasan dan bertanggung jawab atas penerapan protokol kesehatan di tempat masing-masing. Masyarakat perlu mengetahui bahwa protokol kesehatan adalah modal untuk tetap hidup sehat dan produktif, meski Covid-19 masih ada di sekitar. Artinya, 5M tetap wajib dilakukan, meski level terendah PPKM sekalipun sudah kita raih. Jadi, kita tetap harus pakai masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas. (*)

Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Nomor AK: 18.12

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya