alexametrics

Memahami Makna Afiat dan Urgensinya di Tengah Pandemi

Oleh: Burhan Yusuf Habibi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, KATA “afiat” dalam bahasa Indonesia seringkali disebutkan secara bermasa-sama mengiringi kata “sehat” sehingga terbentuklah frase “sehat wal afiat”. Kata “afiat” dianggap menjadi sinonim dari kata “sehat”. Sebagaimana disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “afiat” diartikan dengan sehat. Sedangkan kata sehat sendiri diartikan sebagai kondisi baik seluruh badan serta bagian-bagiannya. Sehat dan afiat sama-sama menjadi lawan kata dari sakit.

Jika dicermati, afiat sebenarnya memiliki makna berbeda dari sehat. Hal ini nampak dengan digunakannya kata “wa” sebagai pemisah antara kata “sehat” dengan kata “al-afiat” dalam frase sehat wal afiat. Huruf wawu yang berarti “dan” dalam bahasa Arab adalah kata penghubung yang sekaligus menunjukkan adanya perbedaan antara yang disebut pertama (afiat) dan yang disebut kedua (sehat).

Kata afiat sesungguhnya adalah kata serapan dari bahasa Arab “al-‘âfiyah”. Dalam kamus-kamus bahasa Arab, kata afiyah diartikan dengan ash-shihhah at-tâmmah (kesehatan yang prima) dan al-barrâ’ min al-asqâm wa al-balâyâ (bebas dari penyakit dan musibah). Lawan dari kata afiyah dalam bahasa Arab adalah kata bala’ yang berarti cobaan. Dengan demikian, Secara global, afiat adalah perlindungan Allah bagi hamba-Nya dari berbagai macam penyakit dan bencana.

Menurut Quraish Shihab, perlindungan dari Allah untuk hamba-Nya tidak dapat diperoleh secara sempurna kecuali bagi mereka yang memperhatikan petunjuk-petunjuk-Nya dengan baik. Maka kata afiat dapat diartikan sebagai berfungsinya anggota tubuh manusia sesuai dengan tujuan penciptaannya. Kalau sehat diartikan sebagai keadaan baik bagi segenap anggota tubuh, dapat dikatakan mata yang sehat adalah mata yang dapat melihat maupun membaca apapun tanpa bantuan kaca mata. Tetapi mata yang afiat adalah yang dapat melihat dan membaca objek-objek yang bermanfaat serta mengalihkan dari objek-objek yang terlarang, karena itulah fungsi yang diharapkan dari penciptaan mata.

Baca juga:  Menggerakkan Rasa Empati untuk Kesempurnaan Ramadan

Dari pengertian-pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa afiat memiliki makna dan urgensi yang begitu besar dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, dalam berbagai literatur Islam, khususnya dalam hadits-hadits Nabi, ditemukan sekian banyak do’a yang mengandung permohonan afiat. Bahkan bisa dikatakan bahwa Rasululullah saw lebih sering memohonkan afiat dibandingkan dengan sehat. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud, An-Nasai dan Ibnu Majjah dari Ibnu Umar ra berkata bahwa Rasulullah saw selalu memohon afiat kepada Allah setiap hari, baik di pagi hari maupun sore hari. Selain itu, permohonan terhadap afiat juga selalu terselipkan dalam shalat 5 waktu. Salah satu do’a yang disebutkan dalam bacaan duduk di antara 2 sujud adalah wa’âfini yang berarti permohonan atas afiat.

Baca juga:  Pandemi dan Kesiapan Belajar Kita

Afiat yang dimohonkan oleh Rasulullah memiliki cakupan yang luas serta berimensi dunia dan akhirat. Afiat yang dimohonkan tidak sebatas untuk jasad saja, akan tetapi juga mencakup afiat untuk agama, dunia, keluarga dan harta.

Permohonan atas afiat adalah permohonan atas perlindungan Allah bagi hamba-Nya dari berbagai macam penyakit dan bencana, serta memperoleh keselamatan dari hal-hal yang buruk yang bisa bisa menimbulkan bahaya baik di dunia maupun akhirat. Afiyat di dunia mencakup keselamatan dari berbagai fitnah, penyakit, musibah dan hal-hal buruk lainnya yang terjadi di dunia ini. Sementara afiyat di akhirat, mencakup keselamatan dari siksa setelah kematian, seperti siksa kubur, siksa neraka serta selamat dalam menjalani hisab dan kesulitan-kesulitan lainnya yang terjadi kelak di akhirat.
Berbagai ikhtiar sudah dilakukan oleh pemerintah dan berbagai pihak untuk menekan laju pandemi ini. Mulai dari sosialisasi protokol kesehatan yang tidak henti-henti sampai diberlakukannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat di berbagi daerah. Selain itu, muncul ajakan untuk hening cipta dan berdo’a dari rumah.

Ketika berbagai ikhtiar sudah dilakukan secara maksimal, memang manusia hendaknya berserah diri. M,emohon pertolongan kepada Allah agar beban berat yang ada sekarang segera diringankan dan diberikan jalan keluar. Usaha-usaha bathiniyah perlu untuk juga digencarkan di samping usaha-usaha lahiriyah. Salah satunya yaitu dengan memanjatkan do’a, bermohon kepada Allah.

Baca juga:  Bapas Klaten sebagai UPT Baru di Kemenkumham Jawa Tengah

Do’a yang seringkali dipanjatkan di tengah pandemi covid-19 adalah do’a supaya wabah ini segera di angkat oleh Allah, dihindarkan dan diberi keselamatan darinya. Semua do’a-do’a itu memang baik dan ada anjurannya. Namun seringkali, do’a memohon afiat justru dilupakan. Padahal cakupan dari afiat sedemikian luas dan penting sebagaimana yang sudah diuraikan di atas.
Dengan memohon afiat kepada Allah di tengah pandemi, seorang hamba bisa diberikan kesehatan fisik, selamat dari wabah dan berbagai musibah, baik untuk dirinya sendiri, keluarganya, serta orang-orang di sekitarnya. Dengan afiat, wabah ini tidak membuat lupa untuk selalu menjalankan ketaatan-ketaatan kepada-Nya dalam beragama, meskipun semua di lakukan di rumah. Selain itu, diberikan jalan keluar dari masalah-masalah yang menyangkut keuangan dan ekonomi.

Semoga dengan selalu memohonkan afiat kepada Allah disertai dengan berbagai ikhtiar, bangsa Indonesia bisa segera kembali pulih dan bisa melewati pandemi ini menuju keadaan yang lebih baik. Aamiin. (*/zal)

Dosen Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya