alexametrics

Menjaga Keaslian dan Keamanan ‘Jawara’, Jamu Warisan Nusantara

Artikel Lain

Oleh: Dr Suparmi SSi MSi (ERT)

RADARSEMARANG.ID – Jamu yang khasiatnya sudah dipercaya secara turun-temurun sejak nenek moyang dikenal sebagai Jawara “Jamu Warisan Nusantara”. Pada Hari Jamu Nasional ke-13 tanggal 27 Mei 2021, BPOM RI melaporkan bahwa pada tahun 2020 permintaan jamu/obat tradisional untuk peningkat daya tahan tubuh atau imunnodulator mengalami kenaikan sebesar 131,14% dibandingkan tahun 2019. Tingginya permintaan jamu pada masa pandemi covid-19 ini, sudah seharusnya diikuti oleh upaya yang nyata dalam menjaga khasiat, mutu dan keamanan Sang Jawara.

Sebagai obat tradisional asli Indonesia, pemanfaatan tanaman obat asli Indonesia dalam ramuannya menjadi salah satu upaya menjaga keaslian dan keamanan Sang Jawara. Belajar dari kasus penghentian peredaran obat tradisional China (TCM) donasi yang diperuntukkan untuk mempercepat penyembuhan covid-19, Lianhua Qingwen Capsules (LQC) para produsen jamu sebaiknya bijak dalam memilih tanaman obat yang aman dan berkhasiat.

LQC donasi dihentikan karena memiliki Ephedra sinica (tanaman asli China) yang mengandung efedrin. Para pelaku usaha jamu sebaiknya mengetahui dan mematuhi daftar tanaman terlarang dalam komposisi obat tradisional Indonesia yang ditetapkan dalam Peraturan Kepala Badan POM Nomor: HK.00.05.41.1384 Tahun 2005. Konsumen sebaiknya juga jeli dalam memahami komposisi jamu yang tertera pada label kemasan jamu yang dibeli.

Tidak hanya dari pemilihan tanaman obat asli Indonesia, penjagaan Sang “Jawara” juga dapat dilakukan dengan kepatuhan dalam aturan pakai yang meliputi jangka waktu pemakaian dan dosisnya. Hal ini dikarenakan bahan alami dalam jamu belum tentu aman.

Baca juga:  Ekonomi Digital Jadi Penopang Perekonomian Indonesia di Masa Pandemi Covid-19

Hasil penelitan penulis beserta kolega di Divisi Toksikologi, Wageningen University and Research (WUR), Belanda yang terbit di jurnal Food and Chemical Toxicology (FCT) tahun 2018, 2019 dan 2020 menunjukkan bahwa dalam beberapa sampel jamu mengandung tanaman penghasil senyawa karsinogenik dan genotoksik alkenylbenzenes (ABs), pyrrolizidine alkaloids (PAs) dan aristolocic acid (AAs). Pemakaian dalam jangka waktu yang lama (seumur hidup) dapat menyebabkan kanker hati dan ginjal. Dalam jurnal FCT tahun 2020 penulis beserta kolega dari WUR merekomendasikan untuk memonitor penggunaan tanaman obat daun dewa atau daun sambung nyawa (Gynura sp.) yang terdeteksi mengandung senyawa PAs dalam kadar yang sangat tinggi.

Tingginya permintaan akan jamu dan keinginan konsumen untuk memperoleh khasiat yang cepat “ces pleng” memicu berbagai kasus adulterasi atau penambahan bahan kimia obat (BKO) di dalam ramuan jamu ataupun obat tradisional lainnya. Fenilbutason, antalgin, diklofenak sodium, piroksikam, parasetamol, prednison, atau deksametason dilaporkan sebagai BKO yang banyak ditambahkan pada jamu yang ditujukan untuk mengobati pegal linu/ encok/ rematik. Kasus adulterasi lain banyak dijumpai pada jamu pelangsing yang ditambahkan sibutramin hidroklorida, jamu obat kuat/ penambah stamina dengan sildenafil sitrat, serta jamu untuk diabetes mellitus (DM) yang ditambahkan glibenklamid (BPOM RI, 2006).

Baca juga:  Efek Pandemi, Kemiskinan di Kabupaten Magelang Naik

Dalam kajian pustaka yang terbit online di jurnal Critical Reviews in Toxicology pada 25 Mei 2021, penulis beserta kolega dari BPOM dan WUR mengkaji tentang bahaya dan risiko adulterasi BKO pada konsumen jamu. Hasil analiasa risiko menggunakan perbandingan perkiraan asupan harian (Estimated daily intake/ EDI) dan dosis referensi menunjukkan bahwa EDI dari methampyrone, asam mefenamat, prednisone dan sibutramine jauh melebihi dosis aman yang dianjurkan untuk khasiat BKO tersebut.

Bahaya mengkonsumsi methampiron pada jamu dapat mengakibatkan muntah dan kencing darah, gangguan pencernaan, agranulosis, anemia dan fetotoxicity (keracunan pada janin). Contoh lain adalah bahaya BKO prednisone dimana EDI 1.321 kali lebih tinggi daripada dosis referensinya sehingga berpotensi mengakibatkan ketergantungan steroid, krisis adrenal, diare, osteoporosis, Cushing syndrome, katarak, hipertensi bahkan kematian. Sibutramin hidroklorida yang ditambhakan pada jamu pelangsing mengakibatkan risiko peningkatan tekanan darah dan denyut jantung.

Keberhasilan upaya penjagaan yang sudah dilakukan oleh BPOM RI perlu didorong oleh berbagai pihak mulai dari petani tanaman obat, produsen, penjual atau pelaku usaha jamu, pemerintah baik pusat maupun daerah, tenaga kesehatan, akademia dan konsumen itu sendiri.

Baca juga:  Kenaikan Harga Minyak di Indonesia Dikaitkan Dengan Teori Peak Oil

Petani sebagai tulang punggung penghasil tanaman obat yang berkualitas sebaiknya menerapkan tata cara penanaman obat tradisonal yang baik sehingga menghasilkan tanaman dengan kandungan senyawa kimia berkahasiat yang tinggi. Sebagai produsen jamu sebaiknya menerapkan prinsip “jika aku menjadi konsumen” maka aku menginginkan produk jamu yang aman dan berkhasiat, sehingga disinilah kejujuran produsen atau pembuat jamu perlu ditanamkan untuk mencegah adulterasi BKO ataupun penggunaaan tamanan obat yang terlarang. Bagi akademia perlu melakukan penelitian lanjut mengenai interaksi senyawa dalam BKO dengan senywa kimia yang terkandung dalam jamu. Sebagai konsumen yang baik tentunya ingat pesan BPOM RI untuk cek KLIK (kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa). Di tengah maraknya peredaran jamu secara online konsumen sebaiknya memiliki literasi digital yang baik sehingga tidak mudah termakan oleh iklan jamu yang menawarkan klaim khasiat secara berlebih dan “ces pleng”.  Pemerintah baik pusat maupun daerah sebaiknya selalu bergantengan erat dengan BPOM RI dalam mengawasi mutu, khasiat dan keamanan jamu. Jika Sang Jawara terjaga keaslian dan keamanannya maka harapan untuk mendukung Gerakan Masrarakat Sehat (Germas) niscaya dapat terwujud dan jamu menjadi lebih populer di pasaran global. (*/bas)

Dosen Bagian Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung, Semarang.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya