alexametrics

Rasionalitas di Balik Tradisi Mudik Lebaran

Oleh: Kaisar Atmaja

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SUDAH dua kali Ramadan anak negeri ini menjalankan rangkaian ibadah di bulan suci dalam situasi pandemi. Tak banyak aktivitas ibadah berkerumun yang dapat dijalankan. Pemerintah masih menerapkan kebijakan prokes 5M, memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi. Ketentuan itu tentu menjadi pedoman pemegang otoritas termasuk bidang agama. Tokoh agama mengimbau jamaah untuk menjalankan ibadah selama Ramadan dengan menerapkan prokes 5M.

Kita telah melewati sepuluh hari pertama dan kedua Ramadan, dan berada di penghujung sepuluh hari ketiga – di ambang Lebaran. Euforia anak negeri menyambut mudik Lebaran tentu terhalang kebijakan pemerintah yang menerapkan pembatasan ketat akses ke setiap wilayah. Namun demikian, para pemudik selalu punya alasan tersendiri untuk bisa tetap mudik.

Mudik Lebaran umumnya dipahami sebagai kultur khas anak negeri karena kita tidak menemukan sistem nilai yang sama pada kasus mudik Lebaran di negeri lain. Betulkah mudik Lebaran di negeri ini hanya soal tradisi masa lalu? Alasan apa yang ada di benak para pemudik sehingga mereka tetap mudik di tengah situasi pandemi?

Baca juga:  Jangan Sembarangan Copot Catalytic Converter

Mudik Lebaran bukan hanya tindakan berulang yang diikuti begitu saja oleh generasi ke generasi. Mudik Lebaran adalah tindakan rasional sarat makna, yang tidak hanya bagi pribadi pemudik semata, tapi juga bermakna bagi orang yang dituju. Mudik Lebaran adalah tindakan yang sifatnya sosial karena bermakna subjektif dan sekaligus diarahkan ke orang lain. Mudik punya makna khusus bagi pemudik, dan juga diarahkan dengan orang di kampung halaman. Setiap tindakan bermakna subjektif sejauh dihubungkan dengan orang lain adalah tindakan sosial.

Ada empat alasan atau rasionalitas orang mudik Lebaran. Pertama alasan tradisi. Pemudik terikat kebiasaan orang dulu untuk menjalankannya lagi kini. Biasanya tradisi kerap diterima dan dijalankan begitu saja (taken for granted) oleh orang kini dengan tidak mempersoalkannya lagi. Alasan kedua adalah alasan afeksi. Alasan afeksi biasanya dipengaruhi keadaan emosi pemudik. Perasaan membuncah karena membayangkan bercengkerama langsung secara tatap muka dengan sanak saudara, menjadikan mudik sebagai pilihan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Alasan ketiga adalah nilai (values). Pemudik dengan alasan nilai menganggap prosesi mudik itu sendiri bernilai tinggi baginya yang tak didapatkan dengan cara lain. Mulai dari persiapan, perjalanan, hingga momen-momen khas yang bernilai khusus bagi pemudik. Alasan keempat adalah instrumental. Pemudik mengharap sesuatu lain yang bersifat ekonomi. Mudik dijadikan sebagai instrumental atau alat demi mendapatkan tujuan lainnya. Mudik dimaksudkan sebagai lantaran dengan penuh perhitungan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi.

Baca juga:  Asrama Mahasiswa UIN Jadi Tempat Isolasi Terpusat

Idealnya, mudik Lebaran bisa disebabkan oleh salah satu dari empat alasan, tradisi, afeksi, nilai, atau instrumental. Setiap pemudik tentu saja punya alasannya sendiri. Pada kenyataannya, alasan mudik tiap-tiap orang bisa berupa gabungan dari empat alasan tersebut.

Rasionalitas kita terhadap mudik Lebaran ternyata juga mulai berubah karena teknologi. Interaksi langsung secara tatap muka seperti dalam mudik Lebaran perlahan digeser oleh interaksi daring melalui layar gawai. Kita sadar mudik tidak lagi untuk romantika masa lalu, karena interaksi daring telah mengubahnya. Begitu kita mudik dan bertemu langsung secara tatap muka dengan keluarga dan kerabat – nuansa romantik masa dulu sudah tidak lagi hadir karena seringnya kita berinteraksi tatap muka melalui layar gawai. (*/ida)

Baca juga:  Heni Indrayani, Inginkan PR yang Adaptif

Dosen UIN Walisongo dan Penggiat WMC

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya