alexametrics

Ramadan Momentum Menjadi Individu Baru di Masa Pandemi

Oleh : Ririh Megah Safitri MA

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, MENDEKATKAN diri kepada-Nya dengan meningkatkan sisi spiritualitas menjadi goals utama bagi setiap individu di bulan suci ini. Masyarakat berlomba-lomba menjalankan serangkaian praktik ibadah, terlebih pelipatgandaan pahala dalam setiap ibadah yang dilakukan menjadi motivasi khusus bagi masyarakat untuk tidak melewatkan bulan Ramadan begitu saja. Menahan diri dari berbagai hawa nafsu menjadi laku utama yang melekat pada praktik ibadah di bulan Ramadan. Hingga akhirnya, hari raya Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan Ramadan turut dimaknai sebagai hari kemenangan atas berbagai laku yang telah dilakukan selama satu bulan belakangan ini. Istilah ‘kosong-kosong’, ‘nol-nol’, ‘podo-podo’, dan ‘seko nol’ lantas menjadi diksi yang lazim disampaikan antarmasyarakat, khususnya dalam moment silaturahmi Lebaran. Diksi tersebut merepresentasikan kebaharuan dari dirinya sebagai individu-muslim yang telah berhasil memenangkan laku ibadah selama bulan Ramadan.

Masa pandemi kali ini, kembali mengajak kita untuk melakukan refleksi atas bentuk pertahanan diri dari berbagai hawa nafsu dan keinginan. Meskipun tren perkembangan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia sedikit melandai beberapa bulan belakangan ini, namun pemerintah tetap konsisten dalam penerapan protokol kesehatan termasuk penyesuaian beberapa kebijakan terkait pembatasan mobilitas masyarakat. Berita terkait peningkatan status siaga Covid-19 yang kembali mencuat di India dan Turki cukup membuat getir masyarakat Indonesia. Berbagai bentuk antisipasi untuk mencegah terjadinya tsunami Covid-19 terus diupayakan. Seperti munculnya kebijakan terbaru dalam konteks pembatasan mobilitas masyarakat yakni addendum surat edaran nomor 13 tahun 2021 tentang peniadaan mudik hari raya Idul Fitri tahun 1442 Hijriah dan upaya pengendalian penyebaran Covid-19 selama Ramadan. Masyarakat kembali harus menahan diri untuk tidak bersua dengan keluarga dan kerabat pada moment mudik lebaran yang tinggal beberapa hari ke depan. Kekecewaan masyarakat atas implementasi kebijakan tersebut mulai terekspresi dalam ruang virtual maupun non-virtual. Pasalnya mudik lebaran telah dimaknai sebagai moment terbaik bagi masyarakat untuk saling bersilaturahmi.

Baca juga:  Kaji Enam Kitab, Disiarkan di Akun Instagram Ponpes

Berbagai bentuk adaptasi dan negosiasi yang dilakukan masyarakat dalam merespon kebijakan pengendalian penyebaran Covid-19 menjadi satu tantangan tersendiri. Menambah kompleksitas tantangan yang harus dilewati oleh masyarakat secara keseluruhan, mengingat tidak hanya tantangan dalam dimensi keagamaan, namun tantangan dalam dimensi sosial. Masyarakat lantas diharuskan melakukan adaptasi sosial guna merespon berbagai dinamika tantangan tersebut. Setidaknya terdapat empat tahapan adaptasi sosial yang harus dilalui masyarakat. Pertama, tahap keingintahuan/kuriositas ketika masyarakat memiliki perasaan antusias atas perkembangan situasi dan kondisi aktual meskipun dapat menimbulkan kesan baik atau buruk. Kedua, tahap culture shock/frustasi yakni kondisi dimana mulai ditemukan berbagai kesulitan atas kondisi yang tidak sesuai dengan kebiasaan. Ketiga, tahap recovery atau tahapan pemecahan dari krisis yang sedang dihadapi. Biasanya masyarakat telah memiliki keterampilan untuk bertindak efektif dalam menyikapi kondisi baru. Keempat, tahap adjusment ketika masyarakat mulai bisa menerima dan mengintegrasikan berbagai aktivitas dengan kondisi yang baru. Tahapan keempat ini menjadi puncak keberhasilan proses adaptasi sosial yang dilakukan masyarakat, dimana tatanan kehidupan baru telah menjadi bagian dari aktivitas keseharian semua individu. Sayangnya, tidak semua individu mampu melewati tahapan adaptasi sosial dalam kurun waktu yang sama. Sehingga gap practice dalam menyikapi masa pandemi covid-19 beserta dinamika kebijakannya menjadi tantangan tersendiri.

Baca juga:  Napi Lapas Bulu Bergilir Masak dan Keliling Bangunkan Sahur dengan Terompet

Menyambut hari raya Idul Fitri ini, masyarakat dapat melakukan re-kontekstualisasi atas status ‘menjadi individu yang baru’. Bahkan, status tersebut tidak hanya dimaknai sebagai bentuk kemenangan atas berbagai tantangan dalam dimensi keagamaan. Namun juga bentuk kemenangan dalam dimensi sosial karena telah berhasil melakukan tahapan adaptasi sosial. Khususnya dalam merespon berbagai dinamika yang muncul pada tatanan kehidupan yang baru ini. (*/ida)

Trainer WMC dan Dosen Fak. Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya