alexametrics

Menggerakkan Rasa Empati untuk Kesempurnaan Ramadan

Oleh : Sholihan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PUASA adalah ibadah rutin tahunan yang diperintahkan oleh Allah sebagaimana tersebut dalam QS Al-Baqarah ayat 183, “hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas umat terdahulu dari kamu, mudah-mudahan kamu bertaqwa.” Puasa (transliterasi: Sauwm) secara bahasa berarti menahan atau mencegah. Berdasarkan syariat agama Islam berarti menahan diri dari makan serta minum dan semua perbuatan yang dapat membatalkan puasa, dari mulai terbit fajar hingga tenggelam matahari, dengan prasyarat spesifik, dengan tujuan untuk meningkatkan ketakwaan seseorang muslim. Melihat perjalanan pelaksanaan ibadah puasa, tampaknya tidak salah jika diambil kesimpulan bahwa ibadah puasa tampaknya merupakan ibadah fisik namun sebenarnya orientasinya juga sangat spiritual.

Salah satu dimensi spiritual yang diajarkan dalam berpuasa adalah mengolah kesabaran. Sabar dari rasa lapar dan dahaga serta menahan diri dari hal-hal yang merusak kualitas puasa kita adalah hal yang sederhana yang bisa kita lakukan. Jadi, apa yang pernah Rasulullah sabdakan bahwa “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga (HR At-Thabarani).” Sungguh merupakan gambaran umum dari kualitas berpuasa kita yang paling sederhana. Meski demikian, berpuasa dengan kualitas seperti itu, masih ada hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil dalam membingkai kehidupan yang baik dan bermanfaat.

Baca juga:  KKN: Adaptasi Bahasa, Budaya dan Sosialisasi Pendidikan

Terus, hikmah apa yang bisa kita petik dari puasa yang hanya sekedar lapar dan dahaga ini? Sudah pasti jawabannya adalah tumbuh dan hadirnya rasa empati kepada sesama yang mungkin saja rasa lapar dan dahaga tidak hanya mereka rasakan saat di Ramadan saja tetapi juga di luar Ramadan. Mereka adalah saudara kita yang sedang diuji oleh Allah dengan kefakiran dan kemiskinan. Rasa lapar dan dahaga yang kita rasakan saat berpuasa masih jauh dari kepedihan mereka yang hidup dalam bingkai kemiskinan. Maka beruntunglah mereka yang berpuasa dan dapat menggerakkan rasa empati dalam diri mereka sehingga secara sadar membantu dan peduli kepada sesama yang membutuhkan.

Baca juga:  Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan

Dengan rasa empati ini, kita diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya QS Adz-Dzariyat:19 “dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” Dan ingatlah bahwa Rasulullah pernah berkata “Ramadan adalah bulan umatku”. Artinya, Ramadan adalah milik kita bersama, berbahagia bersama dan kita sangat dianjurkan untuk berbagi kebahagiaan kepada sesama sebagaimana Rasullah pernah berpesan kepada sahabat Salman al-Farisi dan para sahabatnya untuk menjadikan Ramadan sebagai bulan kepedulian.

Rasa empati inilah salah satu hikmah yang diajarkan di Madrasah Ramadan. Sebuah hakikat kebahagiaan yang seharusnya kita hadirkan di bulan suci nan mulia ini. Kebahagiaan yang sepatutnya tidak hanya dirasakan oleh kita dan keluarga kita sendiri tetapi juga dirasakan oleh tetangga kita, oleh saudara-saudara kita yang lain, terlebih saudara-saudara kita yang membutuhkan dan yang sedang terdampak musibah pandemi seperti saat ini. Maka dari itu, marilah momen hari-hari di pengujung Ramadan ini kita jadikan zakat kita, infaq kita, serta sedekah kita sebagai penyempurna amal kita di bulan yang penuh berkah ini. Ingatlah bahwa amal yang sangat dicintai Allah adalah amal yang bermanfaat dan membahagiakan hati setiap orang (HR At-Tabarani). (*/ida)

Baca juga:  Rasionalitas di Balik Tradisi Mudik Lebaran

Senior Trainer WMC dan Dosen Pascasarjana UIN Walisongo Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya