alexametrics

Ramadan dan Tradisi Balik ke Kampung Halaman

Oleh : Masrohatun

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SETIAP menjelang akhir bulan Ramadan sebagian dari muslim Indonesia disibukkan dengan persiapan hari raya. Maka, tidaklah mengherankan jika pusat perbelanjaan begitu ramai diserbu pembeli untuk memenuhi pernak-pernik hari raya. Keramaian juga terlihat di stasiun, terminal, pelabuhan dan bandara yang dipadati pemudik. Stasion TV pun akan menyiarkan informasi situasi terkini dari berbagai ruas jalan dalam program berita mudik. Inilah moment untuk anak rantau kembali ke daerah.

Fenomena rutin tahunan ini memang bukan bagian dari ritual keagamaan yang terlihat memiliki nilai religiusitas seperti puasa, salat tarawih, i’tikaf di masjid atau ritual lainnya menggambarkan relasi vertikal, mahluk dengan sang khaliq. Meskipun demikian, mudik bak ritual wajib bagi perantau serta miliki nilai sosio-culture yang keberadaannya tidak bisa diabaikan di dalam membangun sebuah relasi horizontal di masyarakat. Bagi perantau bisa pulang ketika hari raya adalah moment spesial. Sungkem dan memohon maaf kepada kedua orang tua, silaturahmi dengan keluarga, tetangga dan teman semasa kecil menjadi moment langka sekaligus wujud melepas kerinduan serta merawat kenangan. Dengan silaturrahmi, maka akan tercipta keharmonisan, damai, kasih sayang, dan tolong menolong sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS Ali Imrana ayat 112. Inilah kesalihan sosial yang terbangun dari moment mudik.

Baca juga:  Heni Indrayani, Inginkan PR yang Adaptif

Mudik tahun ini laiknya Ramadan tahun lalu ketika awal masuknya Covid-19. Namun sedikit longgar karena pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan peniadaan mudik sebagai upaya memotong mata rantai penularan Covid-19 dan menjaga agar gelombang kedua kasus Covid-19 seperti yang terjadi di beberapa negara tidak muncul di Indonesia. Kebijakan ini kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah dan mulai berlaku dari tanggal 6-17 Mei 2021. Gabungan polisi dan aparat keamanan pun disiapkan guna membantu penertiban pada beberapa titik di sejumlah ruas jalan. Akan tetapi, sebelum diberlakukan pada tanggal 6 Mei 2021, masyarakat masih diperbolehkan melakukan perjalanan luar kota, namun dengan disertai surat test rapid anti GeNose C19. Sedangkan bagi yang tidak bisa mudik karena tugas seperti ASN tetap bisa melakukan mudik lokal.

Baca juga:  Lantunkan Ayat Suci Alquran Menggema Menyejukkan Hati

Apapun kebijakan yang dikeluarkan pemerintah adalah sebuah ikhtiar untuk melindungi warganya dari Covid-19 yang masih masif. Pandemi Covid-19 sudah meluluhlantahkan sistem yang sudah mapan dalam sekejap. Jangan sampai keadaan sebelumnya berulang dan kembali mengoyak sistem yang masih sempoyongan untuk bangkit. Bagi yang belum punya kesempatan mudik, bisa memanfaatkan hari-hari terakhir Ramadan untuk mukhasabah diri, memperbaiki hubungan vertikal dengan sang khaliq serta merajuk penuh harap untuk bisa dipertemukan kembali dengan Ramadan.

Tidak mudik bukan berarti memutus silaturahmi dan tidak sayang. Silaturahmi masih bisa lewat video call melalui gawai. Meski tidak sehangat perjumpaan, namun cara ini cukup efektif untuk bisa melerai rindu, menggugurkan kewajiban berbakti kepada orang tua serta langgengkan silaturahmi dengan saudara maupun teman di tengah kondisi normal baru. Wujud cinta dan sayang terbaik adalah untaian doa supaya diberi kesehatan dan umur panjang. Inilah cara terbaik untuk saling menjaga di tengah kondisi seperti ini supaya Lebaran tahun berikutnya bisa diberi kesempatan menikmati perjumpaan. Di sinilah pembelajaran kesabaran kita dalam manjalani kehidupan terus ditempa. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang menang dalam melewati ujian kesabaran, kembali fitrah dan menjadi pribadi yang lebih baik. Selamat merayakan hari kemenangan. (*/ida)

Baca juga:  Kesiapan Siswa Menghadapi AKM Literasi Membaca

Trainer WMC dan Dosen FISIP UIN Walisongo

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya