alexametrics

Rukun dan Sunah-Sunah Puasa

Ngaji Bareng Pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi, KH Masruchan Bisri 

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Setiap ibadah dalam Islam akan di anggap sah dan sempurna jika telah dilaksanakan semua syarat dan rukunnya termasuk ibadah puasa Ramadan. Puasa Ramadan mempunyai tiga rukun. Tiga rukun tersebut yakni : 1) Wujudnya orang yang berpuasa. Maksudnya, ibadah puasa harus di lakukan sendiri, tidak boleh di badalkan atau di wakilkan.

2) Niat puasa Ramadan harus di lakukan setiap malam selama bulan Ramadan, niat tidak boleh di lakukan satu kali untuk berpuasa satu bulan penuh, jika ini di lakukan maka yang sah hanya puasa di hari pertama, karena setiap hari merupakan ibadah tersendiri (ibadah mustaqilah). Niat puasa Ramadan harus di lakukan pada waktu malam hari (tabyiitunniat), yaitu niat sejak terbenamnya matahari (Maghrib) sampai sebelum fajar (imsak), jika niat di luar waktu tersebut maka puasanya tidak sah.

Makan, minum, jima` (bersetubuh) dan semua aktivitas yang di lakukan pada malam hari setelah niat dan sebelum imsak tidak merusak niat puasa dan tidak wajib memperbaruhi niat (tajdiidunniat). Bagi orang yang lupa niat di malam hari, maka puasanya tidak sah dan ia wajib menahan segala hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum dll serta wajib mengqodho`. Bagi orang yang mengalami keraguan untuk membatalkan puasa atau berniat untuk membatalkan puasa jika terjadi sesuatu, misal apabila nanti sakit akan membatalkan puasa, ternyata tidak sakit maka puasanya tetap sah. Wanita yang yakin bahwa dirinya telah suci dari haid atau orang yang baru selesai bersetubuh, dan belum sempat mandi junub / mandi besar sebelum fajar (imsak), maka diperbolehkan niat berpuasa dan puasanya di anggap sah, adapun mandi junubnya bisa di lakukan setelah imsak.

Baca juga:  Klaster Ponpes, 16 Positif Covid-19

3) Meninggalkan hal – hal yang membatalkan puasa.

Perkara yang membatalkan puasa antara lain: a) Memasukkan sesuatu ke dalam lobang yang terdapat pada lobang tubuh seperti makan, minum, merokok, dsb. Menelan air ludah tidak membatalkan puasa dengan syarat air ludah keluar dari sumbernya dan tidak tercampur dengan benda lain. Debu jalanan, tepung ayakan, asap rokok atau asap lain yang masuk ke dalam tubuh melalui mulut, hidung dan lainnya, maka hal – hal tersebut tidak membatalkan puasa, karena selalu menutup mulut untuk menghindari hal tersebut sangatlah sulit, tapi apabila ada orang yang sengaja membuka mulut sehingga debu, tepung, asap dll masuk ke dalam mulut atau hidung maka hal itu membatalkan puasa. Bagi orang yang sakit gusi yang selalu mengeluarkan darah dan sudah berusaha membersihkannya, ketika masih ada sisa darah yang bercampur dengan ludah kemudian tertelan bersama nya, maka puasanya tidak batal (di ma`fu / di maafkan). Berkumur saat berpuasa untuk berwudhu (madhmadhoh) dan menghirup air ke dalam hidung (istinsyaq) masih tetap di sunnahkan, jika sebagian air tertelan dengan tidak sengaja serta tidak berlebihan dalam berkumur dan istinsyaq (mubalaghoh) maka demikian ini tidak membatalkan puasa. Jika berkumur dan istinsyaq dilakukan secara berlebihan sehingga sebagian air tertelan maka hal ini membatalkan puasa.

Berkumur untuk mendapatkan kesegaran (tabarrud) jika memang itu dibutuhkan maka diperbolehkan, namun harus berhati – hati, karena meskipun tidak berlebihan dalam berkumur jika sebagian air tertelan maka membatalkan puasa.

Baca juga:  Alat Peraga sebagai Media Pembelajaran

Pengobatan secara bekam (hijamah) ketika sedang berpuasa hukumnya makruh, namun tidak membatalkan puasa, oleh karena itu hal tersebut sebaiknya dilakukan pada waktu malam hari. Pengobatan dengan cara di suntik / injeksi (huqnah) juga tidak membatalkan puasa, karena obat di masukkan melalui daging bukan melalui rongga badan, begitu pula tidak membatalkan puasa meneteskan obat tetes mata ke dalam mata meskipun sebagian obat masuk ke tenggorokan.

b) Muntah di sengaja. Jika seseorang muntah tanpa di sengaja atau muntah secara tiba – tiba, maka puasanya tetap sah selama tidak ada sedikitpun dari muntahannya yang sengaja di telan kembali, dan apabila tertelan dengan tidak di sengaja maka tidak membatalkan puasa.

c) Jima` (bersetubuh). Bagi orang yang sedang berpuasa melakukan jima` pada siang hari baik mengeluarkan mani atau tidak, maka puasanya batal dan ia wajib membayar kafarat (denda) berupa berpuasa dua bulan berturut – turut dan jika tidak mampu, maka wajib memberi makanan pokok kepada 60 faqir miskin sebanyak 1 mud (6 ons) setiap orangnya.

d) Keluar air mani (sperma). Bersentuhan kulit dengan lawan jenis atau melakukan onani di siang hari bagi orang yang sedang berpuasa sehingga keluar air sperma, maka puasanya menjadi batal, sedangkan keluar air mani saat tidur (ikhtilam) pada siang hari, maka tidak membatalkan puasa.

e) Haid dan Nifas

f) Junun/gila. Seseorang yang sedang berpuasa kemudian tiba – tiba gila meskipun sebentar, maka puasanya menjadi batal. Mabuk dan ayan (epilepsi) ketika tidak di sengaja dan tidak terjadi sepanjang hari (mulai imsak sampai maghrib) tidak membatalkan puasa, tetapi kalau di sengaja walaupun hanya sebentar menjadikan puasa tidak sah (batal).
g) Murtad (keluar dari Islam).

Baca juga:  Pandemi Covid-19 sebagai Alat Uji Mutu Pendidikan Berbasis 4.0

Sunah–Sunah Puasa

Segera berbuka (ta`jilul fitri) ketika yakin matahari telah terbenam (masuk waktu maghrib), berdasarkan hadits Nabi yang shohih:” Ketika Nabi Muhammad SAW berpuasa, beliau belum melaksanakan sholat (maghrib) sebelum didatangkannya kurma basah (rutob) atau air, kemudian beliau makan”.

Berbuka dengan tiga kurma basah atau jika tidak ada, maka dengan tiga kurma kering, berdasarkan hadits shohih :” Nabi Muhammad SAW berbuka puasa sebelum sholat (maghrib) dengan beberapa kurma basah, jika tidak ada kurma basah, maka dengan beberapa kurma kering, dan jika keduanya tidak ditemukan maka beliau berbuka dengan meminum air”.

Setelah berbuka ( ba`dal fitri) membaca do`a :” Allahumma laka shumtu wa`alaa rizqika afthortu”.

Memberi buka kepada orang-orang yang berpuasa. Nabi Muhammad SAW bersabda:” Barangsiapa memberi sesuatu untuk berbuka puasa, maka baginya mendapat pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa (yang diberi buka) dan tidak mengurangi pahala orang yang berpuasa meskipun sedikit”.

Bersahur. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim:” Bersahurlah kalian, karena didalam sahur terdapat barokah”.

Mengakhirkan waktu sahur. Dalam hadits Muttaqun `alaih, Nabi bersabda:” Manusia selalu dalam kebaikan selagi mereka bersegera berbuka dan mengakhirkan sahur”. (Penjelasan ini di ambil dari beberapa kitab Fiqih seperti Minhajul Qowwim, Fatkhul Mu`in, Kasyifah, Kifayah, Majmu` dll). (*)

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya