alexametrics

Penduduk Meningkat, Lahan Pertanian Makin Terancam

Oleh : Resmi Pringati, S.ST

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan jumlah penduduk menyebabkan permintaan terhadap sumber daya lahan, khususnya lahan pertanian terus meningkat. Hal ini mendorong terjadinya alih fungsi lahan yang akan berdampak pada perkembangan sektor pertanian, terutama terhadap hasil produksi serta kondisi ekonomi para pelaku usaha tani.

Meski telah memiliki undang-undang yang mengatur larangan alih fungsi lahan pertanian sejak beberapa tahun lalu, tetapi dalam pelaksanaannya masih menemui hambatan. Terlihat secara kasat mata lahan pertanian semakin hari kian berkurang untuk pembangunan perumahan dan industri.

Sementara itu di Kabupaten Purbalingga pertanian merupakan salah satu sektor yang memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada tahun 2020 atas dasar harga berlaku mencapai Rp 6,78 triliun atau sebesar 27,04 persen sekaligus menduduki peringkat ke dua setelah sektor industri.
Sehingga tidak dipungkiri jika sebagian masyarakat Purbalingga menggantungkan hidupnya di sektor pertanian, meski pekerjaan sebagai petani sering dianggap sebelah mata. Dari data BPS hasil Survei Pertanian Antar Sensus 2018 tercatat ada sekitar 19,46% (180.018 jiwa) menggantungkan hidupnya di sektor pertanian.

Baca juga:  Perpadi Butuh Suntikan Dana KUR Rp 1,5 M

Berjalannya waktu, pembangunan di segala lini berkembang pesat, dimulai awal tahun 2010, lahan pertanian khususnya lahan sawah semakin berkurang. Data BPS Purbalingga menunjukan lahan pertanian menyusut 196,54 hektare per tahun, pada 2010 masih ada 20.703 hektare. Sementara pada 2020 ini jumlahnya berkurang menjadi 18.737,60 hektare. Akibatnya produksi padi sawah menurun 14.389,39 ton di tahun 2020.

Upaya pemerintah mempertahankan fungsi lahan pertanian mengalami banyak tantangan yang tidak bisa dicegah keberadaannya. Jumlah penduduk Kabupaten Purbalingga makin meningkat dari tahun ke tahun berdasarkan proyeksi penduduk. Tahun 2016 jumlah penduduk mencapai 907.507 jiwa, meningkat di tahun 2017 menjadi 916.427 jiwa, tahun 2018 berjumlah 925.193 jiwa.

Dua tahun terakhir yaitu tahun 2019 dan 2020 masing-masing 933.989 jiwa dan 998.561 jiwa. Kondisi yang demikian ini berdampak pada pemenuhan kebutuhan pemukiman baru. Imbasnya lahan pertanian dipertaruhkan untuk dialihfungsikan menjadi pemukiman. Tanpa disadari lahan pertanian semakin terkikis.

Baca juga:  Dorong Generasi Milenial Terjun ke Sektor Pertanian

Sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Inilah yang membuat petani goyah dalam mempertahankan lahan pertaniannya untuk tetap diusahakan. Berikut beberapa faktor yang mendasari petani berani mengalihfungsikan lahan pertaniannya. Pertama, tidak seimbangnya antara biaya pengolahan dengan hasil panen serta harga pupuk dan obat-obatan yang makin mahal. Kedua tingkat usia, generasi penerus tidak ada. Kalaupun ada tenaga kerja muda dan berpendidikan tinggi enggan bekerja di sektor pertanian. Ketiga, untuk kebutuhan konsumsi seperti belanja kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah atau kuliah anak. Hanya sebagian kecil dari mereka yang memanfaatkannya sebagai modal usaha.

Meski lahan pertanian kian menyusut, dari potensi sebenarnya masih bisa diupayakan untuk mampu berproduksi lebih baik. Di antaranya meningkatkan efektifitas bendungan yang telah dibangun terutama saat kemarau panjang seperti Bendungan Slinga di Kecamatan Kaligondang. Di samping itu ketersediaan pupuk dalam jumlah yang cukup pada saat petani membutuhkan, dan penanganan OPT yang cepat dan tepat akan memberikan harapan yang lebih baik.

Baca juga:  Doktrinasi Pancasila di Perguruan Tinggi yang Sia-Sia

Peralihan fungsi lahan untuk pemukiman dan pembangunan kawasan industri juga diharapkan bisa untuk pemerataan pembangunan serta mengurangi kepadatan penduduk dengan tersedianya lahan untuk bermukim yang lebih nyaman. Dibangunnya kawasan industri diharapkan juga bisa menyerap tenaga kerja yang lebih banyak sehingga mengurangi tingkat pengangguran di Purbalingga.

Harus optimistis demi kemajuan pembangunan dengan menggali potensi daerah dan seyogyanya dimanfaatkan dengan tepat. Sehingga arah kebijakan menuju Purbalingga Perwira dengan titik berat pada investasi, industri, pariwisata dan tata kelola kota yang professional, bukanlah hal mustahil untuk diwujudkan. (pm1/lis)

Statistisi Muda BPS Kabupaten Purbalingga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya