alexametrics

Terjebak pada Indentitas Gender yang Salah, Menelisik Kisah Aprilio Manganang

Oleh: Aprilian Ria Adisti, M.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, BERITA yang viral tentang Ex Srikandi Bola Voli Indonesia yang kini menjadi prajurit TNI AD, Aprilio Manganang masih menyita perhatian seluruh pemberitaan nasional di Indonesia. Kali ini bukan soal prestasi yang dia torehkan, namun tentang perubahan identitas gender yang ternyata setelah melalui proses pemeriksaan panjang, diketahui bahwa Aprilio Manganang seorang laki-laki. Hasil ini pun diperkuat dengan keputusan Hakim Pengadilan Tondano, Jumat 19 Maret 2021 tentang perubahan status gender Aprilio Manganang menjadi laki-laki yg sah di mata hukum, sekaligus penobatan nama baru menjadi Aprilia Perkasa Manganang yg disaksikan secara live di seluruh media nasional Indonesia. Bahkan berita ini turut dilirik media internasional untuk meliput karna sepanjang perjalanan karir sebagai atlet nasional yg bertanding di event internasional, Aprilia beberapa kali dibenturkan dengan persoalan identitas “gender”nya yg dianggap tidak jelas.

Terlepas dari segala proses yang mengharu biru dalam perjalanan hidup Aprilio Manganang, terdapat satu benang merah yang bisa dirangkai. Bahwasanya identitas gender sangatlah penting dan menjadi awal kehidupan yang terus melekat sejak seorang bayi dilahirkan hingga ia dewasa.

Menilik kisah Aprilio Manganang, yang notabene selama 28 tahun menghadapi polemik dalam diri tentang identitas gendernya yang tidak jelas, menjadikan pembelajaran berharga untuk masyarakat awam pada umumnya. Secara fisik dia merasa dirinya laki-laki, namun karna sejak lahir dinyatakan sebagai perempuan oleh bidan yang membantu persalinan, diperkuat pula dengan akte kelahiran yang juga menyatakan perempuan sehingga kedua orang tua dan lingkungannya memperlakukan dia sebagai perempuan, maka dia tumbuh menjadi pribadi yg penuh kebimbangan.

Baca juga:  Tren Teknologi Informasi terhadap Pembelajaran Daring pada Masa Pandemi Covid-19 di Indonesia

Stigma “perempuan” yang melekat pada dirinya, memaksanya harus berperang melawan batinnya sendiri. Peran-peran yang selayaknya lazim dilakukan oleh perempuan secara socio-kultural juga terpaksa ia jalankan dalam menapaki fase kehidupannya.

Kasus seseorang yang menderita penyakit “hipospadia” atau kelainan pada alat kelamin laki-laki seperti yang dialami oleh Aprilio Manganang memang selayaknya mendapat perhatian yang besar. Hal ini dikarenakan rata-rata penderitanya merasa malu untuk berterus terang kepada orang lain karna kekurangannya. Apalagi secara latar belakang ekonomi keluarga, Aprilio dilahirkan di sebuah desa yang jauh dari perkotaan, serta merupakan anak dari keluarga kurang mampu serta kurang berpendidikan sehingga kedua orang tuanya tidak paham untuk memeriksakan lebih lanjut tentang keadaan tersebut. Imbasnya, segala kehidupan Aprilio saat itu seolah dipaksa untuk menjalani kehidupan sebagai seorang perempuan hingga dewasa.

Baca juga:  Ekonomi Jawa Tengah di Masa Pandemi

Mengambil hikmah dari peristiwa tersebut, selayaknya sebagai orang tua kita lebih peka terhadap identitas gender anak sejak dini. Peran orang tua menginisiasi terhadap perkembangan identitas gender pada anak. Peran ini akan menjadi pola yang membentuk karakter anak terhadap perkembangan gendernya kelak. Perilaku orang tua terhadap anak mereka akan menjadi konstruksi identitas yang terekam dalam diri anak hingga anak tumbuh dewasa. Orang tua seharusnya mengenalkan apa yang menjadi kodrat anak yang merupakan ketentuan dari Tuhan yang tidak bisa diubah seperti pengenalan jenis kelamin dan membahas organ seksual laki-laki dan perempuan, serta identitas gender yang mengacu pada sikap, perilaku, atau peran anak sesuai dengan jenis kelamin yang dimilikinya sehingga anak sadar akan peran dan tanggung jawabnya.

Stigma yang sudah dilekatkan pada anak sejak lahir, berkaitan dengan identitas gendernya, menjadi jati diri yang terus bertumbuh pada pribadi anak. Ajarkan anak untuk lebih peka dan memahami siapa dirinya. Ajak anak berdiskusi dengan orang tua tentang keinginan-keinginannya, terutama yg berkaitan dengan proses penguatan identitas dirinya. Beri ruang pada anak untuk berdiskusi, mengenal pribadinya sendiri, mengeksplor kelebihan yg dimiliki serta mengatasi permasalahan yang timbul dalam fase perjalanan hidup anak. Dan yang tak kalah penting, bekali anak dengan pengetahuan agama yang baik.

Baca juga:  Manajemen Strategik, Perlukah bagi Lembaga PAUD?

Kasus salah identitas gender bukan kali ini saja terjadi. Orang tua harus lebih peka dan respek, serta membekali diri dengan edukasi yang mumpuni agar bisa memahami tumbuh kembang anak. Komunikasi yg hangat dan terbuka antara orang tua dan anak bisa mengiringi anak mencapai tahap perkembangan kepribadian yang maksimal dan matang.

Mengutip wawancara dengan Aprilio Manganang, “Saya ingin melalui proses transisi ini dulu menjadi laki-laki sejati karena selama 28 tahun selalu diperlakukan sebagai wanita”, tentu pesan ini cukup bermakna dalam. Jangan sampai anak salah dalam mengenal dirinya. Bantu mreka untuk tumbuh dan berkembang dengan sempurna baik dari fisik, kognitif (intelektual), serta sosial dan emosional hingga mereka dewasa. (*)

Dosen IAIN Salatiga
Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Bahasa UNNES

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya