alexametrics

Tantangan Kuliah di Program Studi PAI

Artikel Lain

Oleh: Syaefudin Achmad

RADARSEMARANG.ID – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) memang menjadi favorit di beberapa kampus PTKIN maupun swasta. Hampir tidak pernah ada program studi PAI yang sepi dari peminat. Calon mahasiswa berlomba memperebutkan kursi di program studi PAI di berbagai kampus di Indonesia.

Hal tersebut memang sudah lumrah. Sesuai hukum ekonomi, program studi yang paling banyak peluang kerjanya, sudah pasti menjadi buruan mahasiswa. Lalu apakah program studi PAI memang mendatangkan peluang kerja yang luas?

Silahkan bisa dicek sendiri, kira-kira ada atau tidak sekolah yang tidak mengajarkan mata pelajaran PAI di sekolah? Mayoritas sekolah di Indonesia baik dari tingkat dasar (SD) sampai SMA/SMK pasti ada mata pelajaran PAI. Kalau di madrasah seperti MI, MTs, dan MA, sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Mungkin hanya sekolah milik umat beragama di luar Islam yang tidak mengajarkan mata pelajaran PAI. Kesimpulannya, kebutuhan guru PAI memang sangat besar, setidaknya dibanding guru mata pelajaran lain, terutama mata pelajaran yang tidak diikutkan dalam ujian nasional.

Sebenarnya masih bisa dimaklumi ketika ada mahasiswa PAI yang ternyata tidak terlalu menguasai teori-teori yang termasuk dalam ruang lingkup PAI seperti  fiqih, akidah, akhlak, sejarah Islam, Alquran, dan hadits. Dibanding program studi lain, PAI adalah program studi yang paling luas ruang lingkupnya. Akibatnya, bisa dibilang cukup sulit melahirkan lulusan PAI yang benar-benar menguasai teori-teori yang termasuk dalam ruang lingkup PAI secara mendalam. Materi yang mereka pahami biasanya hanya di permukaan, tidak sampai detail hingga ke akar-akar karena begitu luasnya ruag lingkup PAI.

Baca juga:  Dampak Rob Terhadap Kerusakan Sarana Prasarana dan Ekosistem

Jika mahasiswa Fakultas Syari’ah (misalnya prodi Hukum Keluarga Islam/Ahwal As-Syakhsiyyah) bisa fokus belajar fiqih dan ushul fiqih secara mendalam, didukung dengan jumlah jpl (jam pelajaran) yang cukup banyak, mahasiswa PAI hanya belajar fiqih di permukaannya saja karena memang jpl yang sedikit. Selain itu terlalu banyak ruang lingkup PAI yang dipelajari membuat mahasiswa PAI tidak bisa fokus mengkaji fiqih dan ushul fiqih secara mendalam.

Saat mahasiswa PAI hanya mempelajari permukaan dari sejarah peradaban Islam dengan jpl yang sedikit, mahasiswa humaniora (prodi Sejarah Peradaban Islam) justru benar-benar mempelajari sejarah  peradaan Islam secara mendalam dan mendetail. Pun demikian ditunjang dengan jpl yang banyak.

Ketika mereka hanya fokus mempelajari fiqih, Alquran, hadits, aqidah, akhlak, sejarah peradaban Islam, mahasiswa PAI masih harus mempelajari fan ilmu lain, yaitu ke-tarbiyah-an (pendidikan). Itu pun hanya bisa mempelajari permukaan saja karena jpl juga sedikit.

Baca juga:  Makin Senang Belajar Thaharah melalui Video

Mahasiswa prodi PAI harus benar-benar meningkatkan kualitas dari sekarang. Meskipun peluang kerja lulusan PAI cukup luas, mahasiswa program studi PAI tidak boleh “berleha-leha” dan “overconfidence” akan langsung bekerja menjadi guru PAI setelah lulus nanti. Tantangan mahasiswa prodi PAI makin berat. Pasalnya, pesaing mahasiswa prodi PAI tidak hanya dari alumni program studi PAI, namun juga dari Program studi HKI ( Hukum Keluarga Islam), Akidah Filsafat, Sejarah Peradaban Islam dan IAT (Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir). Mereka adalah pesaing yang terbilang sangat berat.

Nampak muncul ketidakadilan di lapangan. Lulusan PAI diadu dengan lulusan Syari’ah, Ushuluddin, dan Humaniora sekaligus. Sudah pasti secara nalar dalam hal fiqih, lulusan Syari’ah jelas lebih unggul. Dalam hal pemahaman Alquran, hadits, aqidah, akhlak, lulusan Ushuluddin lebih berkompeten.

Begini, kalau untuk sekolah umum, mungkin mahasiswa prodi PAI bisa bernafas lega. Biasanya sekolah umum menghendaki guru mata pelajaran PAI adalah lulusan murni dari program studi PAI. Pada CPNS tahun 2018, Kemenag menerima lulusan dari HKI, Akidah Filsafat, IAT, dan SPI untuk mengisi formasi mata pelajaran rumpun PAI di Madrasah-Madrasah yang berada di bawah naungan Kemenag. Jadi tidak hanya lulusan PAI yang bisa mengisi formasi tersebut. Saya punya kawan yang lulusan HKI, diterima CPNS di formasi guru Fiqih di Madrasah Negeri.

Baca juga:  Tanda – tanda Hari Kiamat dan Balasan Atas Kebaikan dan Keburukan

Artinya, kalau mahasiswa prodi PAI tidak benar-benar meningkatkan kualitas diri, maka bersiap-siaplah ladang pencahariannya akan diambil oleh mereka-mereka yang bukan alumni PAI. Mahasiswa prodi PAI mungkin merasa mereka yang bukan lulusan PAI hanya paham materi, tapi kurang cekatan dalam mengajar karena mengajar itu sesuatu yang tidak mereka pelajari selama kuliah. Begini, mempelajari ilmu mengajar tak sesulit mempelajari materi agama Islam secara mendalam. Mereka memang belum belajar ilmu mengajar, tapi mereka mengalami proses pembelajaran sejak sekolah dasar. Jangan lupakan, pengalaman lebih baik dibandingkan sekedar teori. Tinggal dilatih sebentar, kemampuan mengajar mereka sudah bisa menyamai lulusan PAI.

 

Saya berharap mahasiswa PAI yang akan menjadi calon-calon guru PAI benar-benar meningkatkan kualitas agar ladangnya tidak direbut oleh program studi lain yang notebene bukan program studi PAI. (*)

Dosen PAI IAIN Salatiga

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya