alexametrics

Isra Mikraj, Tafsir Surah Al Isra Ayat 1

Ngaji Bersama KH Masruchan Bisri, Pengasuh Ponpes Roudlotul Muttaqin (Salaf) Polaman Mijen Semarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Surah Al Isra juga dinamakan surah Bani Isro`il dan surah Subkhaan. Surah ini tergolong surah makkiyah, selain dua ayat yaitu ayat 76 dan 80, ayat ini termasuk madaniyyah.  Surah ini terdiri atas seratus sebelas ayat, seribu lima ratus tiga puluh kalimah dan enam ribu empat ratus enam puluh huruf.

Keutamaan surah

Ahmad, At-tirmidzi, Nasa`i dan yang lainnya meriwayatkan dari Aisyah RA, bahwa Nabi Muhammad SAW pada setiap malam membaca surah Bani Israil dan Az-Zumar. Al Bukhori dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas`ud RA, bahwa dia berkata tentang surah Bani Israil yakni surah ini, surah Al Kahfi, Maryam, Thaahaa dan Al Ambiya`,”surah-surah tersebut termasuk surah-surah yang pertama turun dan mempunyai keutamaan karena mengandung kisah-kisah”.

Bismillahirrahmanirrahim

Sub-ḥānallażī asrā bi’abdihī lailam minal-masjidil-ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣallażī bāraknā ḥaulahụ linuriyahụ min āyātinā, innahụ huwas-samī’ul-baṣīr

Terjemah : “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat”.

(سُبْحَانَ)  قَوْلُهُ  adalah masdar sama`i dari sabbakha yang bertasydid, atau isim masdar bagi sabbakha dan atau masdar kiyasi dari sabbakha tidak bertasydid, dan kata subkhaana adalah maf`ul mutlaq yang dibaca nashob dengan fi`il yang diperkirakan yaitu : سَبَحْتُ سُبْحَانَ

Hikmah dan faidah diawali dengan tasbih terlebih dahulu adalah : pertama membersihkan Allah dari sifat lemah atau apes ( تَنْزِيْهُ لِلّٰه عَنْ صِفَةِ الْعَجْزِ ), kedua membersihkan dan membebaskan Allah dari segala kekurangan (اَلْتَنْزِيْه وَالْبَرَاءَة لِلّٰه عَزَّوَجَلَّ مِنْ كُلِّ نَقْصٍ) dan yang ketiga membersihkan Allah dari segala kejelekan. (تَنْزِيْهُ لِلّٰه مِنْ كُلِّ سُوْءٍ)

(اَسْرٰى)  قَوْلُهُ adalah fi`il lazim yang artinya berjalan di malam hari.

دُوْنَ نَبِيِّه أَوْ حَبِيْبِهِ أَوْ بِرَسُوْلِه (بِعَبْدِهٖ)  قَوْلُهُ

Disini disebutkan bi `abdihi yang artinya dengan hambanya, bukan binabiyihi atau bikhabibihi atau birosulihi, demikian ini mengandung beberapa hikmah yaitu :”pertama agar umat Nabi Muhammad SAW tidak tersesat seperti umatnya Nabi Isa AS yang menganggap Nabi Isa adalah Tuhan. Kedua isyarah atau petunjuk bahwa sifat menghamba kepada Allah (عُبُوْدِيَة) adalah merupakan sifat khusus dan sifat yang paling mulia. Ketiga menandakan bahwa peristiwa Isra yang dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW adalah dengan ruh dan jasadnya (بِرُوْحِهِ وَجَسَدِهِ).

(لَيْلًا)  قَوْلُهُ dibaca nasob karena menjadi dhorof, ia adalah nakiroh, dan tanwin yang ada menunjukkan makna sedikit (ِللتَّقْلِيْل) yakni sebagian kecil dari satu malam. Sebagian ulama` berpendapat empat jam dan sebagian yang lain berpendapat tiga jam.

قَوْلُهُ (مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَى) اى الْقَاصِي

Masjidil Aqsha adalah masjid yang kedua kali dibumi yang dibangun oleh Nabi Adam AS empat puluh tahun setelah membangun Masjidil Haram di Mekkah. Dinamakan Masjidil Aqsha karena jarak antara Masjidil Haram dengan Masjidil Aqsha sangat jauh, perjalanannya ditempuh kurang  lebih satu bulan atau lebih (اَلْمَسَافَةُ بَيْنَهُمَا قَدْرُشَهْرٍ اَوْ اَكْثَر).

Masjidil Aqsha juga dinamakan Baitul Maqdis yang berarti rumah yang suci dari ibadah selain kepada Allah SWT, di dalamnya tidak pernah ada berhala atau patung yang disembah.

Hikmah Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha

Banyak mengandung hikmah Isra Nabi Muhammad SAW yang dilakukan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, diantaranya ialah : Pertama untuk  memperlihatkan kemuliaan Nabi Muhammad SAW diatas para Nabi dan para Rosul yang lain karena beliau menjadi imam salat ditempat mereka. Kedua agar beliau bisa naik kelangit dengan tegak lurus tanpa berbelok, karena menurut riwayat yang bersumber dari Ka`ab menyebutkan bahwa pintu langit yang disebut mas`adul malaikah (مَصْعَدُ الْمَلَائِكَه) yaitu tempat naiknya para malaikat berhadapan dengan Baitul Maqdis. Dan masih menurut Ka`ab bahwa Baitul Maqdis merupakan bagian bumi yang paling dekat ke langit dalam jarak delapan belas mil. Ketiga negeri Syam merupakan bagian dari bumi Allah yang terpilih olehnya (خَيْرَةُ اللهِ مِنْ اَرْضِهِ) sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadits shohih, sehingga ia merupakan bagian bumi yang paling utama sesudah dua tanah suci yaitu Makkah dan Madinah, dan kawasan pertama yang memunculkan kekuasaan Nabi Muhammad SAW. Mu`adz bin Jabal meriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda :

Baca juga:  Kelenteng Ling Hok Bio Dukung Percepatan Vaksinasi

يَقُوْلُ اللّٰه تَعَالَى : يَاشَامُ اَنْتَ صَفْوَتِى مِنْ بِلَادِى وَأَنَا سَا ئِقٌ اِلَيْكَ صَفْوَتِىْ مِنْ عِبَادِى

“Allah ta`ala berfirman, “Wahai Syam, engkau pilihanku diantara negeri-negeriKu dan Aku arahkan hamba-hamba pilihanKu kepadamu” (HR. Abu Daud).

Dan yang keempat adalah agar Allah menghimpukannya diantara dua qiblat (بَيْنَ الْقِبْلَتَيْنِ).

قَوْلُهُ (الَّذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَهٗ) اى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَى مِنْ اَرْضِ الشَّام

yang telah kami berkahi sekelilingnya, yaitu berkah duniawi (دُنْيَاوِيَّة) dengan berlimpahnya air dan banyaknya pohon-pohonan, dan berkah diniyah (دِيْنِيَّة) karena Syam merupakan turunnya wahyu dan tempat ibadah para Nabi serta tempat tinggal mereka saat mereka masih hidup dan sesudah mereka wafat.

(لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا)  قَوْلُهُ

“agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan kami”

Almakna: untuk kami perlihatkan keajaiban-keajaiban kekuasaan kami, seperti jarak yang seharusnya ditempuh satu bulan hanya ditempuh sebentar atau sebagian di malam hari, juga kekuasaanNya yang membuat beliau dapat menyaksikan Baitul Maqdis dan berkumpul dengan para Nabi serta menjadi imam salat bagi mereka, kemudian naik ke langit, melihat berbagai keajaiban alam langit, dan berbicara dengan Tuhannya.

(اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ)  قَوْلُهُ

“Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat”.

Almakna : sesungguhnya Allah Maha Mendengar segala ucapan Nabi Muhammad SAW tanpa telinga dan Allah melihat semua amal perbuatan dan sepak terjangnya Nabi Muhammad SAW tanpa mata. Lalu menurut pendapat lain sehubungan dengan makna ayat ini bahwa Allah SWT Maha Mendengar ucapan orang-orang Quraisy dan Maha Melihat mereka.

Saat Nabi di masjid antara tidur dan terjaga, tiba-tiba beliau mendengar seseorang berkata, salah satu dari tiga, lalu beliau dibawakan baskom emas yang berisi zam-zam. Lalu ia membelah dada Nabi kemudian mengeluarkan hati Nabi dan dicuci dengan air zam-zam, lalu dikembalikan ke tempat semula, lalu hati beliau diliputi iman dan hikmah. Kemudian beliau diberi kendaraan yang berwarna putih yang bernama buroq, ia lebih tinggi dari pada keledai dan lebih pendek daripada bighol, langkahnya sejauh mata memandang. Setelah itu beliau berangkat bersama Jibril AS. Beliau menjumpai suatu kaum yang menanam dalam sehari dan memanen dalam sehari. Setiap kali ia memanen, ia kembali seperti semula, kemudian Nabi bertanya,”ya Jibril, apa  itu?”, Jibril menjawab,”mereka adalah orang-orang yang menginfaqkan sebagian hartanya di jalan Allah. Pahala mereka dilipatgandakan menjadi tujuh ratus lipat”. Kemudian beliau menjumpai orang-orang yang kepalanya pecah karena batu. Setiap kali kepala mereka pecah, maka kembali lagi seperti semula. Beliaupun bertanya, “siapa mereka itu ya Jibril?”, ia menjawab, ”mereka itulah orang-orang yang kepalanya berat untuk salat fardhu (malas menjalankan salat fardhu)”.

Beliau lalu menjumpai kaum yang bagian depan dan belakang tubuhnya terdapat tambalan. Mereka mencari makan seperti unta dan kambing. Mereka memakan duri, zaqqum, tulang serta batu-batuan. Beliaupun bertanya ”siapa mereka itu, ya Jibril?” Jibril menjawab, ”mereka adalah orang-orang yang tidak menunaikan atau membayar zakat harta mereka”. Beliau lalu menjumpai suatu kaum yang didepannya terdapat daging yang matang dalam wadah, dan daging lain yang mentah, kotor serta busuk. Namun mereka justru memakan daging yang busuk itu dan membiarkan daging yang matang dan baik. Beliaupun bertanya, “siapa mereka itu ya Jibril?”, Jibril menjawab, “laki-laki itu berasal dari umatmu. Ia punya istri yang halal dan baik, tetapi ia mendatangi wanita yang buruk (bukan istrinya). Begitu juga wanita yang meninggalkan suaminya yang halal dan baik, lalu mendatangi laki-laki yang buruk (bukan suaminya)”.

Baca juga:  Rukun dan Sunah-Sunah Puasa

Beliau kemudian menjumpai kayu ditengah jalan, tidak ada satu pakaianpun yang melewatinya, kecuali kayu itu pasti mengoyaknya dan merobeknya. Beliaupun bertanya, ”apa itu ya Jibril?”, Jibril menjawab,”itu adalah perumpamaan kaummu yang duduk dijalan dan mengganggu keamanan”.

Setelah itu beliau menjumpai seorang laki-laki yang mengumpulkan kayu yang banyak dan tidak sanggup dipikulnya, namun ia terus menambahkannya. Beliaupun bertanya, “siapa itu ya Jibril?”, Jibril menjawab,”itu adalah umatmu yang memikul amanah-amanah manusia yang tidak sanggup dilaksanakannya, tetapi ia ingin terus ditambah”.

Beliau kemudian menjumpai suatu kaum yang lidah dan bibirnya di iris dengan pisau dari besi. Setiap kali bibir dan lidah mereka terbelah, maka kembali lagi seperti semula, dan hal itu tidak henti-hentinya terjadi pada mereka. beliau pun bertanya,” siapa mereka itu ya Jibril?”, Jibril menjawab, “mereka adalah ahli khutbah (pembicara) yang menebarkan fitnah”.

Beliau kemudian menjumpai sebuah lembah, mencium aroma wangi dan sejuk, yaitu aroma misik, serta mendengar suara. Beliaupun bertanya,”ya Jibril, aroma apa yang wangi dan dingin seperti aroma misik ini? lalu suara apa itu?”, Jibril menjawab, “itu adalah suara surga yang berkata:” Tuhanku berikanlah aku apa yang engkau janjikan kepadaku, karena telah banyak kamarku, permataku, sutera kasar dan sutera halusku, mutiara dan marjanku, perak dan emasku, gelas dan ceretku, buah-buahan, kurma dan delimaku, susu dan khomerku.”Allah lalu berfirman,” Bagimu setiap mu`min dan mu`minah, orang yang beriman kepadaKu dan kepada rosul -rosulKu, beramal sholeh dan tidak menyekutukanKu, dan tidak menyembah selainKu, barangsiapa yang takut kepadaKu, maka ia aman. Barangsiapa meminta kepadaKu, maka Aku memberinya. Barangsiapa meminjamkan kepadaKu, maka Aku membalasnya. Barangsiapa tawakal kepadaKu, maka Aku mencukupinya. Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, dan Aku tidak menyalahi janji, beruntunglah orang-orang yang beriman. Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta. Surga lalu berkata, ”aku telah ridho”.

Beliau lalu menjumpai sebuah lembah, mendengar suara aneh, dan mencium aroma busuk. Beliaupun bertanya,” aroma apa ini, dan suara apa ini, ya Jibril?”, Jibril menjawab,” itu adalah suara Jahannam. Ia berkata, ”Tuhanku, berilah aku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, karena telah banyak rantai dan belengguku, duriku, ghassaqku (cairan yang mengalir dari kulit para penghuni neraka), azab dan hukumanku, serta telah dalam dasarku dan telah memuncak panasku”. Allah lalu berfirman,” bagimu setiap orang laki-laki dan perempuan yang tidak beriman (kafir), yang menyekutukan Allah (musyrik) dan orang-orang yang berkelakuan buruk”. Neraka lalu berkata,”aku telah ridho”.

Rosulullah SAW kemudian berjalan hingga tiba di Baitul Maqdis dan bertemu dengan para Nabi, lalu salat bersama mereka dan Rosulullah SAW sebagai imamnya.

Baca juga:  Bidik Milenial, Kedai Kopi Terus Menjamur

Setelah selesai bertemu dengan para Nabi, Malaikat Jibril membawa Rosulullah SAW ke langit satu sampai langit yang ke tujuh. Di langit yang pertama Rosulullah SAW bertemu dengan Nabi Adam AS. Lalu di langit yang kedua beliau bertemu dengan Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS, di langit yang ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf AS, di langit yang ke empat bertemu dengan Nabi Idris AS, di langit yang kelima bertemu dengan Nabi Harus AS, di langit yang ke enam bertemu dengan Nabi Musa AS, dan di langit yang ketujuh atau terakhir Rosulullah SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS.

Setelah sampai di langit yang ketujuh, Malaikat Jibril menaikkan Rosulullah SAW ke sidratil muntaha (سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى). Dan setelah beliau sampai di sidratil muntaha, Allah memberikan perintah dan mewajibkan salat lima puluh waktu kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, Nabi bersabda :” kemudian Allah memberikan perintahNya kepadaku dan mewajibkan salat lima puluh waktu kepadaku. Lalu aku bertemu Musa, ia berkata :” apa yang diperintahkan Tuhanmu?”, aku menjawab,” Dia mewajibkan padaku salat lima puluh waktu”. Musa berkata,” kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya”. Aku pun kembali kepada Tuhan dan meminta keringanan, lalu Dia mengurangi sepuluh, kemudian aku kembali kepada Musa, dan aku terus diperintahkan kembali kepada Tuhanku saat bertemu Musa, sampai Allah mewajibkan padaku salat lima waktu, lalu Musa berkata,”kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dariNya”. Aku pun berkata,” aku telah kembali kepada Tuhanku, maka aku malu”. Atau beliau bersabda :”Aku berkata aku tidak kembali”. Lalu dikatakan kepadaku, “ dengan salat lima waktu ini engkau memperoleh pahala salat lima puluh waktu. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat, barang siapa meniatkan kebaikan namun tidak melaksanakannya, maka dicatat baginya satu kebaikan. Barangsiapa mengamalkannya, maka dicatat baginya sepuluh kebaikan. Barang siapa meniatkan suatu keburukan namun ia tidak melaksanakannya, maka tidak dicatat dosa baginya, dan jika ia melaksanakannya, maka dicatat satu dosa baginya”.

Sebab Nabi di Israkan

Pada tahun sepuluh kenabian, Nabi mendapat musibah dan cobaan yang sangat berat, yaitu ; meninggalnya Siti Khodijah istri Nabi yang sangat menyanyangi dan gigih dalam membela perjuangan Nabi. Tidak lama kemudian yaitu kurang lebih satu bulan paman Nabi yang bernama Abu Tholib yang selalu melindungi dan mengayomi juga meninggal dunia. Atas peristiwa yang amat menyedihkan Nabi ini, maka tahun sepuluh kenabian disebut tahun `aamul khuzni (tahun kesedihan).

Tujuan Isra

Pertama untuk mengangkat derajat Nabi yang lebih tinggi, kedua untuk menguji keimanan para hamba dan yang ketiga untuk menerima amanat besar yaitu berupa salat lima waktu sehari semalam.

Dan di antara i`tibar atau pelajaran yang amat penting yang diambil dari peristiwa Isra Mikraj Nabi ialah : kita harus bersabar dalam menghadapi segala cobaan hidup di dunia. Nabi Muhammad SAW bersabda :

اَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً فِى الدُّنْياَ الْاَنْبِيَاءُثُمَّ الْعُلَمَاءُ ثُمَّ الْاَمْثَلُ فَالْاَمْثَلُ

“Manusia yang paling berat cobaannya di dunia ialah para Nabi kemudian para ulama` kemudian orang yang berada setingkat dibawahnya, lalu orang yang berada setingkat dibawahnya lagi”.

Orang yang kedudukannya semakin tinggi di sisi Allah, maka akan semakin berat ujian dan cobaan yang akan diterimanya. (Tafsir Showi, Tafsir Al Munir, Tafsir Qurthubi, Tafsir Thobari, Tafsir Baidhowi, Tafsir Futukhul ilahiyyah )

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya