alexametrics

Sukses Memberikan ASI Eksklusif di Masa Pandemi melalui Dukungan Suami

Oleh: Apriliani Yulianti Wuriningsih, M.Kep., Ns., Sp.Kep.Mat

Artikel Lain

RADARSEMARNG.ID, Di masa pandemi Covid-19, banyak pembatasan fasilitas layanan masyarakat termasuk di bidang kesehatan. Kekhawatiran untuk keluar terutama ke fasilitas layanan kesehatan membuat proses perawatan kesehatan masyarakat menjadi terganggu dan tidak maksimal. Terutama pada ibu menyusui, rasa khawatir sekecil apapun dapat memengaruhi kualitas dan produksi ASI yang dihasilkan. Apalagi jika ibu mengalami kesulitan dan bingung selama proses menyusui.
Secara global, tingkat pemberian ASI eksklusif masih rendah, yaitu hanya 40 persen bayi yang mendapatkan ASI eksklusif, begitu juga di Indonesia (Kumar et al., 2015).

Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan pemberian ASI eksklusif, yaitu pemberian ASI saja selama 6 bulan tanpa tambahan makanan atau cairan apapun. Menurut Thet et al (2016) pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, dan terus menyusui sampai usia 24 bulan sebagai strategi penting untuk mengurangi kematian bayi khususnya di negara berkembang. Berbagai pendekatan perlu dilakukan, terutama di masa pandemi ini. Salah satunya melalui pendekatan berbasis community support dari keluarga.

Baca juga:  Data Pangan di Tengah Covid-19, Bukan Sekedar Angka

Keluarga memiliki andil yang besar untuk mendukung ibu tetap memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Suami merupakan bagian dari keluarga terdekat dan memiliki pengaruh yang sangat besar terutama dalam pengambilan keputusan termasuk dukungan untuk tetap memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Dukungan suami dapat berupa dukungan secara fisik maupun psikologis. Hal ini penting karena pemberian ASI eksklusif bukan merupakan kewajiban tunggal seorang ibu, namun juga kewajiban suami untuk tetap mendampingi.

Ibu menyusui, selain membutuhkan asupan makanan yang bergizi juga sangat memerlukan perhatian dan kenyamanan selama proses menyusui. Ketika ibu menyusui merasa nyaman dan bahagia maka akan berpengaruh terhadap hormon prolactin dan oksitosin di dalam tubuh. Kombinasi kedua hormon terbut berfungsi untuk meningkatkan produksi dan memperlancar ASI. Proses menyusui akan berjalan lebih maksimal ketika pasangan mulai mempersiapkan keputusan untuk memberikan ASI eksklusif sejak dini, yaitu dimulai maksimal di kehamilan trimester 3. Persiapan dapat dilakukan dengan terus secara aktif dan interaktif berkonsultasi ke ahlinya, yaitu konselor menyusui. Layanan secara on line pun sekarang sudah bisa diakses oleh keluarga, sehingga dapat secara mandiri menerapkan dan mendukung pemberian ASI eksklusif dengan tepat.

Baca juga:  FE Unissula Sambut Generasi Z dengan Pendidikan Terbaik

Banyak manfaat yang diperoleh dengan memberikan ASI eksklusif. Selain bermanfaat untuk kesehatan bayi, pemberian ASI eksklusif juga bagus untuk kesehatan ibu, yaitu dapat menurunkan risiko perdarahan pascapersalinan dan terutama menekan risiko kejadian kanker payudara. Kanker payudara ini kita ketahui bahwa sebagai penyebab utama kematian perempuan di dunia akibat kanker. Pemberdayaan berbasis community support dengan keterlibatan keluarga sangat membantu target pencapaian pemberian ASI eksklusif. (pg2/lis)

Co-Founder Rumah Sehat Anti Stunting (RS-AS), Dosen Fakultas Ilmu Keperawatan Unissula, Ners Spesialis Keperawatan Maternitas

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya