alexametrics

Tanda – tanda Hari Kiamat dan Balasan Atas Kebaikan dan Keburukan

Tafsir Surah Az Zalzalah ayat 1 – 8

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Surah Az Zalzalah ini termasuk kategori Surah Madaniyyah, terdiri atas 8 ayat, 35 kalimat, dan 149 huruf. Surah ini dinamakan Surah Az Zalzalah atau Az Zilzaal karena dimulai dengan pemberitahuan terjadinya gempa dahsyat beberapa saat sebelum hari Kiamat. Surah ini merupakan goncangan dahsyat dan peringatan keras terhadap orang – orang yang lupa akan datangnya hari Kiamat dan kehidupan di akhirat hingga menghabiskan semua waktunya untuk urusan dunia yang bersifat temporer (sementara). Surah ini mengandung dua penjelasan pokok, pertama menjelaskan terjadinya gempa dahsyat  di bumi pada waktu menjelang hari Kiamat, semua yang berada di atas bumi akan berantakan, dan semua orang heran, bingung dan ketakutan sehingga mati serta semua yang terpendam di dalam perut bumi akan tersembur keluar. Kedua, surah ini menjelaskan tentang bangkitnya seluruh makhluq dari kubur dalam keadaan hidup kembali, dan digiring menuju ke padang mahsyar untuk dihisab dan diberi balasan atas perbuatan mereka.

Keutamaan Surah

Para Ulama mengatakan bahwa surah ini banyak mengandung keutamaan. At Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda :

 

 

 

 

 

 

(مَنْ قَرَأَ  (إِذَا زُلْزِلَتْ) عُدِلَتْ لَهُ بِنِصْفِ القُرْآنِ، وَمَنْ قَرَأَ (قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُونَ

عُدِلَتْ لَهُ بِرُبُعِ القُرْآنِ، وَمَنْ قَرَأَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) عُدِلَتْ لَهُ بِثُلُثِ القُرْآنِ

“ Barang siapa yang membaca surah Az Zalzalah, maka baginya surah itu menyamai setengah dari Alquran, dan barang siapa yang membaca Surah Al Kafirun, maka baginya surah itu menyamai seperempat Alquran, dan barangsiapa yang membaca Surah Al Ikhlash, maka baginya surah itu menyamai sepertiga Alquran”.

Diriwayatkan dari Ali RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ قَرَأَ إِذَا زُلْزِلَتْ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ، كَانَ كَمَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ كُلَّهُ

” Barangsiapa yang membaca Surah Az Zalzalah empat kali, ia bagaikan orang – orang yang membaca seluruh Alquran “.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Annasai dan Ath-Thobroni dari Abdullah bin Umar, dia berkata :” Suatu ketika ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW dan berkata :” Bacakanlah aku Alquran wahai Rasulullah! beliau menjawab, “ Bacalah surah – surah yang dimulai dengan ra”. Lelaki tersebut menjawab,” Aku sudah tua, hatiku keras, dan lisanku tebal, beliau bersabda, kalau begitu bacalah tiga surah dari surah – surah yang dimulai dengan miim”. Lelaki tersebut menjawab dengan jawaban yang sama. Beliau bersabda, “ Kalau begitu bacalah tiga surah – surah tasbih”, lelaki itu menjawab dengan jawaban yang sama dan berkata,” Wahai Rosulullah SAW, bacakanlah kepadaku surah yang mencakup semuanya”. Lantas beliau membaca Surah Az Zalzalah hingga ketika beliau selesai membaca, lelaki tersebut berkata, “ Demi dzat yang mengutusmu dengan kebenaran sebagai seorang nabi, aku tidak akan menambah dari membaca surah itu selamanya”, kemudian lelaki itu pergi. Lantas Rasulullah SAW bersabda:” Berbahagialah lelaki itu, berbahagialah lelaki itu”.

Sebab Turunnya Surah

Orang – orang yang tidak beriman bertanya kepada Nabi tentang datangnya hari Kiamat. Mereka berkata, “ Kapankah hari Kiamat itu ?” ( QS. Al Qiyaamah : 6 ), “ Kapan ( datangnya ) ancaman itu jika kamu orang benar ?” ( QS. Al Mulk : 25 ), “ Kapankah kemenangan itu ( datang ) ?” (QS.  As – Sajdah : 28 ). Oleh karena itu, Allah SWT menjelaskan kepada mereka di dalam surah ini tentang tanda – tanda hari Kiamat, agar mereka mengetahui bahwa datangnya hari Kiamat itu hanya Allah yang mengetahuinya.

Bismillahirrahmannirrahiim

iżā zulzilatil-arḍu zilzālahā

“ Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan ( yang dahsyat )”

اِذَا زُلْزِلَتِ اَىْ حُرِكَتْ حَرَكَةً شَدِيْدَةً yakni : bergerak dengan sangat keras ( dahsyat ). Lafadz : زِلْزَالَهَا, adalah masdar yang disandarkan kepada subyek, dan penyebutan masdar disini berfungsi sebagai penguat (لِلتَّأْكِيْد).

Makna ayat : Berguncangnya bumi saat tiba hari kiamat, guncangannya yang sangat dahsyat membuat semua yang ada di atasnya luluh lantah dan hancur berantakan, seperti pepohonan, gunung – gunung dan bangunan – bangunan. Firman Allah SWT :” Wahai manusia ! Bertaqwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan (hari) kiamat itu adalah suatu ( kejadian yang sangat besar )”. ( QS Al Hajj : 1 ). Firman Allah yang lain :” Apabila bumi diguncangkan sedahsyat – dahsyatnya”. ( QS Al Waqi`ah : 4 ).

Baca juga:  Jangan Lagi Terlena

Ibnu Abbas dan Mujahid mengatakan, peristiwa ini terjadi pada tiupan sangkakala yang pertama (ا فِى النَّفْخَةِ الْاُولٰى ).

wa akhrajatil-arḍu aṡqālahā

“ Dan bumi telah mengeluarkan beban – beban berat ( yang ) dikandungnya”.

وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ mendatangkan isim dhohir di tempat isim dhomir adalah untuk memperkuat pernyataan (قَوْلُهُ (اَثْقَالَهَا).(التَقْرِيْرِلِزِيَادَةِ  adalah jamak dari isim mufrod  بِالْكَسْرِ) ثِقْلٌ) yang artinya beban seperti اَحْمَالٌ –حِمْلٌ. Mujahid berkata : اَثْقَالَهَا ( beban – beban berat yang di kandungnya ) adalah orang – orang mati yang ada didalamnya. Abu Ubaidah dan Al Akhfasy berkata : “ Apabila mayat berada didalam bumi, maka ini disebut beban berat yang dikandungnya dan apabila berada diatasnya, maka disebut beban berat yang diatasnya”. Ada yang mengatakan اَثْقَالَهَا adalah كُنُوْزُهَا ( harta – harta yang tersimpan didalamnya ). Bumi mengeluarkan segala apa yang ada didalam perutnya berupa orang – orang mati dan benda – benda yang terkubur didalamnya. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada didalamnya dan menjadi kosong “ ( QS. Al Insyiqaq : 3 – 4 ). Imam Muslim dan Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata;” Rosulullah SAW bersabda :” Bumi akan memuntahkan isinya seperti emas dan perak, pembunuh akan datang dan berkata ,” demi ini aku membunuh”. Orang yang memutus silaturrahim berkata,” demi ini aku memutus tali silaturrahim”. Pencuri berkata,” karena ini tanganku dipotong”. Lantas mereka meninggalkan itu ( emas dan perak ) dan tidak mengambilnya sedikitpun. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas dan Mujahid bahwa jasad orang – orang yang telah mati ( اَمْوَاتُهَا ) akan keluar dari bumi dalam keadaan hidup kembali, seperti dilahirkan dari seorang ibu pada tiupan sangkakala yang kedua ( فِى النَّفْخَةِ الْثَّانِيَّةِ ).

wa qālal-insānu mā lahā

“Dan manusia bertanya :” Mengapa bumi ( menjadi begini )?”

Kata الْاِنْسَانُ adalah isim jinis yang bersifat umum yang meliputi orang mumin dan orang yang tidak beriman. مَا لَهَا adalah mubtada dan khobar, dan menyimpan makna ketakjuban.

Makna ayat : Setiap individu dari manusia baik yang beriman maupun tidak beriman mengatakan, mengapa bumi bergoncang begini?”karena begitu mengejutkan dan mengerikan.

yauma`iżin tuḥaddiṡu akhbārahā

“ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya”.

Lafadz يَوْمَىِٕذٍ dinasabkan oleh اِذَا زُلْزِلَتِ, dan tanwin yang ada adalah tanwin عِوَضٌ ( pengganti ) dari tiga jumlah yang berada setelah lafadz اِذَا.  Lafadz تُحَدِّثُ adalah jawab dari اِذَا dan ia adalah fiil mutaadi dua maful, maful yang pertama makhduf ( dibuang ) dan maf`ul yang kedua adalah lafadz اَخْبَارَهَا. At Taqdir : تُحَدِّثُ النَّاسَ اَخْبَارَهَا.

Makna ayat : Pada waktu goncangan yang sangat dahsyat tersebut terjadi, bumi memberi tahu kondisinya, berbicara tentang perbuatan yang telah dikerjakan diatasnya, baik dan buruk.

Allah SWT membuat bumi dapat berbicara agar dia bersaksi atas hamba – hambanya.

( قَالَ ابْنُ عَبَاسٍ فِى الْاَيَةِ قَالَ لَهَا رَبُّهَا، قُوْلِى فَقَالَتْ) . Ibnu Abbas berkomentar tentang ayat ini, Allah berfirman kepada bumi,” Berkatalah ”, maka bumi berbicara. Allah SWT berfirman :” ia patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh”. ( QS. Al Insyiqaq : 5 ).

Imam Ahmad, Tirmidzi dan Nasa`i meriwayatkan dari Abi Hurairah, dia berkata :

قَرَأَ رَسُوْلُ اللهِ صَلى الله عليه وسلم: ( يَوْمَىِٕذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَا)  قال: «أَتَدْرُوْنَ مَا أَخْبَارَهَا»؟ قَالُوْا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قال: «فَإِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ أُمَّةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا، اَنْ تَقُولَ: عَمِلَ كَذَا وَكَذَا  يَوْمَ كَذَا وَكَذَا، فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا

“Rasulullah SAW membaca ayat, pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, Beliau bertanya, “ Tahukah kalian apa itu beritanya ? para shohabat menjawab,” Allah dan Rasulnya yang mengetahuinya”. Beliau bersabda :” Sesungguhnya beritanya adalah ia ( bumi ) akan bersaksi atas setiap hamba dan umat tentang apa yang telah ia perbuat di atas bumi. Bumi tersebut akan berbicara,” dia melakukan ini dan itu pada hari ini dan itu, inilah beritanya tersebut”.

bi`anna rabbaka auḥā lahā

“Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan ( hal itu ) kepadanya”

Huruf badisini adalah ba sababiyah yang berta`aluk (berhubungan) kepada lafadz تُحَدِّثُ ( menceritakan ). ( قَوْلُهُ  (اَوْحٰى لَهَا maksudnya adalah : mengizinkan dan memerintahkannya ( أَذِنَ لَهَاوَاَمَرَهَا) atau memberinya ilham ( أَلْهَمَهَا ).

Baca juga:  Revitalisasi Pemasyarakatan sebagai Jawaban Penanganan Over Populasi Warga Binaan

Maqsud ayat : Bumi akan berbicara untuk bersaksi atas hamba – hamba-Nya dengan izin dan perintah dari Allah SWT.

yauma`iżiy yaṣdurun-nāsu asytātal liyurau a’mālahum

“ Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok – kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka ( balasan ) semua perbuatannya”

(قَوْلُهُ (يَوْمَىِٕذٍ adalah badal ( pengganti ) dari  يَوْمَىِٕذٍ  sebelumnya, dan kata يَوْمَ dinasabkan oleh يَصْدُرُ اَىْ اِذْمَايَقَعُ اِذَاذُكِرَ (  pada hari ketika hal itu terjadi ) dan kata اَشْتَاتًا adalah jama` dari isim mufrod شَتِيْتٌ yang menjadi khal ( حَال ) dari النَّاسُ artinya berkelompok – kelompok.

(قَوْلُهُ (لِيُرَوْا اَعْمَالَهُمْ adalah berta`aluk dengan يَصْدُرُ ( keluar ).

Makna ayat : Pada hari itu manusia keluar dari tempat hisab secara berkelompok – kelompok dan terpisah, ada yang ke sebelah kanan ( عَنِ الْيَمِيْنِ ) dan ada yang kesebelah kiri ( عَنِ الشِّمَالِ ) untuk diperlihatkan kepada mereka semua balasan amal perbuatannya, orang yang berbuat baik (اَلْمُحْسِنُ) sewaktu didunia dan taat kepada Allah, diperlihatkan kepadanya pahala dan kemuliyaan yang disediakan Allah baginya sebagai balasan atas ketaatannya sewaktu di dunia. Sementara orang – orang yang berbuat buruk dan bermaksiat kepada Allah SWT ( اَلْمُسِئُ الْعَاصِى ) diperlihatkan kepadanya amal perbuatan dan balasannya, serta apa yang disediakan oleh Allah SWT untuknya yang berupa kehinaan dan kenistaan didalam Jahannam, sebagai balasan atas kemaksiatan dan kekufuran terhadap Allah sewaktu didunia. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW bersabda :

مَامِنْ اَحَدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا وَيَلُوْمُ نَفْسَهُ، فَاِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَيَقُوْلُ :لِمَ لاَاذْدَدْتُ إِحْسَانًا ؟ وَاِنْ كَانَ غَيْرَ ذٰلِكَ يَقُوْلُ: لِمَ لاَ نَزَعْتُ عَنِ الْمَعَاصِ, “ Tidak ada seseorang pada hari kiamat melainkan dia akan mencela dirinya sendiri. Jika ia termasuk orang yang baik, maka dia akan berkata :” mengapa aku tidak menambah kebaikan”, dan jika dia bukan orang baik, maka dia akan berkata : “mengapa aku tidak berhenti dari maksiat”.

fa may ya’mal miṡqāla żarratin khairay yarah, 8) wa may ya’mal miṡqāla żarratin syarray yarah

“ Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”

Ayat ini disebut oleh Rosulullah SAW sebagai Al-Faadzah Aljaamiah (الْفَاذَّةَ الْجَامِعَةَ), yaitu satu – satunya ayat yang memiliki makna dengan cakupan yang luas (komprehensif). Ketika beliau ditanya tentang persoalan zakat keledai, Beliau menjawab sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim : …  مَا أَنْزَلَ اللهُ فِيْهَا شَيْئًا إِلَّا هٰذِهِ الْاَيَةَ الْفَاذَّةَ الْجَامِعَةَ، فَمَنْ يَّعْمَلْ الخ, ” Allah SWT tidak menurunkan hal itu melainkan ayat yang komprehensif ini, maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat ( balasan )nya dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat dzarroh , niscaya dia akan melihat (balasan)nya”. Kaab bin Akhbar berkata : “ Allah SWT telah menurunkan dua ayat kepada Nabi Muhammad SAW yang mencakup isi Taurat, Injil, Zabur, dan Shuhuf ( lembaran – lembaran suci ). Para Ulama telah sepakat atas keumuman ayat ini bagi orang yang beriman dan yang tidak beriman. Ibnu Mas`ud mengomentari ayat ini : اَحْكَمُ اَيَةٍ فِى الْقُرْاَنِ ( ayat yang paling jelas ).

Huruf مَنْ yang berada di dua tempat tersebut adalah huruf syarat ditempat rafa`. Kata ذَرَّة ( dzarrah ), menurut sebagian pakar Bahasa Arab menyebutkan :” bila seseorang menepukkan tangannya ke tanah, debu yang menempel pada tangannya maka itulah dzarrah”, demikian ini seperti yang dikatakan Ibnu Abbas, “ jika engkau meletakkan tanganmu di atas tanah lalu engkau mengangkatnya, setiap satu debu yang melekat pada tangan maka itulah dzarrah”. Ada yang mengatakan dzarrah adalah : semut merah kecil dan lembut (semut pudak ), dan ada yang mengatakan biji sawi.

Kata خَيْرًا dan شَرًّا ber i`rab nasab karena menjadi tamyiz dan dua kata (يَّرَهٗ ) adalah jawab dari مَنْ, majzum dengan tanda terbuangnya alif.

Sebab turunnya ayat

Muqotil berkata :” Ayat ini turun mengenai dua lelaki, yaitu ketika turun ayat (وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ) “ dan mereka memberi makanan yang disukainya “ ( QS. Al Insan : 8  ), salah seorang dari keduanya didatangi oleh seseorang pengemis. Dia minta agar diberi sebutir kurma, sisa makanan dan kacang – kacangan. Dia berkata :” ini bukan apa – apa”. Dan sementara yang satunya lagi meremehkan dosa – dosa kecil, dia berkata :” hal ini tidak apa apa bagiku”. Maka atas kejadian ini turunlah ayat ( فَمَنْ يَّعْمَلْ الخ ).

Baca juga:  Mengenang Prie GS, Budayawan yang Karikatural

Makna ayat : Tidak ada seorangpun baik dari orang mu`min atau orang orang yang tidak beriman melakukan amal baik atau amal buruk didunia, kecuali Allah SWT memperlihatkannya di hari Kiamat. Adapun orang yang beriman dan beramal sholih ( amal baik ) akan melihat semua amal kebaikan dan semua amal kejelekan, lalu Allah SWT akan memberi ampunan atas kejelekan – kejelekannya dan akan membalas semua amal kebaikannya. Adapun orang yang tidak beriman meskipun berbuat baik, maka semua amal kebaikannya akan di tolak dan ia akan disiksa lantaran amal – amal jeleknya.

Diantara ayat – ayat yang senada dengan ayat 7 – 8 Az Zalzalah , ialah :” Dan kami akan memasang timbangan tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorangpun dirugikan walau sedikit, sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti kami mendatangkannya ( pahala ). Dan cukuplah kami yang membuat perhitungan”. ( QS. Al Anbiya` : 47 ).

Dan firman Allah SWT :” Dan diletakkanlah Kitab ( catatan amal ), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang ( tertulis ) didalamnya, dan mereka berkata:” betapa celaka kami, Kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya, dan mereka dapati ( semua ) apa yang telah mereka kerjakan ( tertulis ). Dan Tuhanmu tidak mendzolimi seorangpun”. ( QS. Al Kahfi : 49 ).

Oleh karena itu Rosulullah SAW lewat beberapa haditsnya menganjurkan umatnya agar senantiasa melakukan kebaikan meskipun sedikit atau kecil. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhori dan Muslim, Nabi bersabda : “ Takutlah kamu dengan neraka sekalipun dengan separuh kurma. Barangsiapa tidak mendapatinya, maka dengan perkataan yang baik”. Juga diriwayatkan, “ Janganlah sekali – kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun kamu hanya menjulurkan timba untuk memberi minum orang yang minta minum dan meskipun itu hanya dengan wajah berseri ketika bertemu saudaramu. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhori :” Berilah orang – orang yang meminta – minta meskipun hanya dengan kuku yang terbakar”.

Ringkasan penjelasan

  • Termasuk tanda – tanda hari Kiamat adalah guncangan bumi yang sangat dahsyat dan hancurnya seluruh apa saja yang ada di permukaannya serta keluarnya seluruh isi perut bumi yang berupa benda – benda, dan peristiwa ini terjadi pada tiupan sangkakala yang pertama. Dan pada tiupan sangkakala yang kedua, maka bumi akan mengeluarkan seluruh orang mati dalam keadaan hidup kembali seperti dilahirkan dari ibunya.
  • Ketika bumi berguncang, manusia akan merasa takut dan bertanya – tanya dengan nada sangat heran,” mengapa bumi berguncangan dengan sangat dahsyat ?”
  • Ketika bumi berguncang atas izin dan perintah Allah, ia berbicara dan memberi tahu perbuatan baik dan buruk yang telah dilakukan manusia dipermukaannya.

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda : “ Sesungguhnya bumi pastilah akan memberi tahu pada hari Kiamat mengenai setiap perbuatan yang dilakukan dipermukaannya”.

  • Setelah manusia bangkit dari kuburnya masing – masing, mereka pergi menuju mauqif atau padang mahsyar secara beriringan dan berkelompok – kelompok untuk melihat catatan semua amal perbuatan mereka, serta akan menerima semua balasan amal yang telah mereka lakukan selama didunia, yaitu syurga bagi orang yang taat dan neraka bagi orang yang ahli maksiyat serta apa yang layak bagi kedua kelompok tersebut.
  • Semua orang yang melakukan perbuatan baik atau buruk, besar atau kecil ( meskipun sekecil debu atau semut pudak ) selama didunia, maka mereka akan melihatnya pada hari Kiamat dan akan mendapat balasan sesuai dengan yang telah dilakukannya tanpa didzolimi sedikitpun.

Penjelasan ini di ambil dari beberapa kitab tafsir, antara lain :  Tafsir Thobari, Tafsir Qurtubhi, Tafsir Maroghi, Tafsir Baidhowi, Tafsir Showi, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Munir, Tafsir Al Matsur, Tafsir Futukhul ilahiyyah, Tafsir Fatkhul Qodir, Tafsir Rukhul Maani dan Tafsir Al Khozin. (*/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya