alexametrics

Era Baru Mega Merger Bank Syariah

Artikel Lain

Oleh: Emy Widyastuti, M.E.

RADARSEMARANG.ID – Pada Oktober 2020 pemerintah Indonesia melalui kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah mengumumkan rencana mega merger tiga Bank Umum Syariah milik BUMN yaitu Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRIS) Tbk, Bank Nasional Indonesia Syariah (BNI Syariah), dan Bank Syariah Mandiri (BSM). Hasil penggabungan atau merger Bank Umum Syariah (BUS) berplat merah tersebut akan mempunyai nama baru yaitu Bank Syariah Indonesia (BSI) yang berstatus sebagai perusahaan terbuka (Tbk) dengan kode saham BRIS.

Langkah tersebut merupakan suatu lompatan besar yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan penetrasi, integrasi dan nilai Bank Syariah yang ada di Indonesia untuk mengakselerasi pengembangan ekonomi syariah. Respon masyarakatpun bervariatif, ada yang menyambut gembira dan mengapresiasi langkah merger tersebut namun ada pula yang menunjukkan ketidaksetujuannya. BSI secara resmi rencananya akan mulai beroperasi pada bulan Februari 2021. Kehadiran BSI diharapkan akan menjadi tonggak kebangkitan ekonomi dan keuangan syariah yang ada di Indonesia di tengah perjuangannya selama tiga dekade kehadirannya di Indonesia sekaligus menjadi masa recovery ekonomi nasional yang terpuruk akibat adanya pandemi Covid-19.

Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia yaitu sekitar 227,3 juta jiwa, langkah yang dilakukan oleh pemerintah ini mau tidak mau harus kita support karena kita sudah terlanjur “nyemplung” untuk menjadikan tiga bank syariah tersebut sebagai keluarga besar. Sejak awal kehadiran Bank Syariah pada tahun 1992 yang diinisiasi dengan lahirnya Bank Muamalat Indonesia (BMI) hingga saat ini pangsa pasar (market share) perbankan syariah masih sangat kecil yaitu sebesar 6,24% dari keseluruhan market share perbankan nasional dengan aset sekitar 5,85 triliun rupiah. Selebihnya? Tentu menjadi milik Perbankan Konvensional. Merespon kondisi ironi tersebut banyak sekali opini-opini yang bergulir di masyarakat. Apakah kita sudah benar-benar siap untuk menerima “keluarga baru” tersebut dengan pekerjaan rumah yang masih sangat banyak.

Baca juga:  Keberhasilan Pemprov Jateng dalam Penanganan Covid-19 dengan Pemberlakuan PPKM

Jika melihat potensi ekonomi dan keuangan syariah Indonesia, seharusnya kita bisa keluar dari “kutukan” market share 5% dan bisa menjadi pemain utama di kancah internasional. Merger tiga Bank Syariah tersebut diharapkan akan menambah energi yang lebih besar lagi sehingga bank hasil merger bisa mendapat ceruk yang lebih besar, diterima oleh masyarakat Indonesia dan menjadi Top 10 Islamic Bank dunia melalui optimalisasi pemberdayaan ekonomi umat. BSI juga akan berupaya untuk mengakomodir semua kebutuhan negara, korporasi, retail, nasabah millineal, UMKM dan lain sebagainya termasuk dalam potensi halal value chain.

Ekspektasi dan target tersebut tentunya harus diimbangi dengan daya upaya optimal dari seluruh pihak. Menjadikan Indonesia sebagai pemain utama ekonomi dan keuangan syariah tentunya banyak yang harus dipersiapkan dengan baik. Sehingga jangan sampai terjadi mesin sudah siap dijalankan namun nakhodanya belum siap. Mengutip dari apa yang telah disampaikan oleh beberapa ahli dan pakar perbankan termasuk Wakil Presiden Republik Indonesia dalam sebuah berbagai acara, salah satu yang menjadi sorotan utama dalam pengembangan ekonomi syariah adalah terkait dengan Sumber Daya Manusia (SDM). SDM menjadi isu penting karena kondisi yang terjadi saat ini adalah bahwa SDM Bank Syariah masih didominasi oleh lulusan dari perguruan tinggi atau “alumni” perbankan konvensional. Dari sisi proporsi lulusan program ekonomi syariah, saat ini baru sekitar 10 persen SDM yang memiliki background ekonomi syariah yang bekerja di industri perbankan syariah dari sekitar 850 program studi ekonomi syariah, selebihnya merupakan SDM dengan pendidikan ekonomi konvensional yang telah menerima pelatihan perbankan syariah.

Baca juga:  Fakultas Syariah IAIN Salatiga Bentuk Sharia International Center

Faktor SDM merupakan aspek penting dalam sebuah korporasi ataupun organisasi. Kenyataannya SDM ekonomi syariah Indonesia belum memiliki link and match yang kuat antara perguruan tinggi dan industri. Padahal jumlah perguruan tinggi yang menawarkan keilmuan ekonomi dan keuangan syariah jumlahnya terus meningkat. Bahkan menurut laporan Islamic Finance Development Indicator 2020, Indonesia merupakan negara yang terbanyak dalam penyelenggaraan pendidikan ekonomi dan keuangan syariah. Namun lulusan-lulusan tersebut ternyata belum sesuai dengan kebutuhan industri atau pasar karena tidak memiliki kompetensi yang sesuai.

Tantangan selanjutnya adalah jumlah lembaga sertifikasi profesi ekonomi dan keuangan syariah yang belum memadai untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi keahlian profesi sehingga ini akan menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera dikerjakan oleh semua pihak. Dalam tataran pengajar atau dosen juga perlu disesuaikan dengan background, komptetensi keahlian untuk mengajar mahasiswa serta harus didorong untuk menjadi tenaga ahli yang tersertifkasi.

Baca juga:  Kedermawanan Jangan Sampai Salah Sasaran

Pemerintah melalui Bank Indonesia juga telah menetapkan strategi untuk menciptakan SDM ekonomi dan keuangan syariah yang unggul yaitu melalui riset, edukasi, literasi serta sinergi. Roadmap harus dibuat dengan jelas dan strategis termasuk dalam perumusan grand strategi pengembangan SDM ekonomi syariah pada tingkat nasional untuk kemudian diberlakukan pada semua level kebijakan. Perguruan tinggi harus diberikan kesempatan yang luas untuk meningkatkan literasi ekonomi dan keuangan syariah di Perguruan Tinggi melalui fasilitas yang dapat menunjangnya.

Bisa dibayangkan bagaimana mahasiswa-mahasiswa ekonomi syariah yang lahir pada masa pandemi ini bisa mengetahui peta jalan ekonomi dan keuangan syariah. Masalah ini harus segera dicarikan jalan keluar, karena merekalah pemegang tongkat estafet ekonomi syariah sehingga semua pihak tidak boleh terlena dengan euforia penyambutan keluarga baru tanpa disiapkan “kamarnya”. Jika tidak disiapkan dengan baik, maka cepat atau lambat masalah SDM ini akan menjadi bom waktu dan bukan hal yang mustahil akan membuat ekonomi dan keuangan syariah Indonesia lebih tertinggal lagi.

Maka marilah dengan mega merger ini semua pihak baik itu regulator, perguruan tinggi, stakeholder, masyarakat dan semua komponen lainnya saling bahu membahu, berta’awun, berjihad di jalan Allah SWT untuk menyuburkan ekonomi syariah di muka bumi yang akan membawa kemashlahatan bagi umat serta menjadi rahmatan lil ‘alaamiin. Wallahu’alam bishowab. (*/bas)

Dosen Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya